Surplus Dagang Susut Tajam, IHSG Hanya Naik Tipis Di Tengah Sinyal Ekspor Melemah

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 masih terjaga, tetapi angkanya menyusut cukup tajam menjadi US$3,32 miliar. Di saat yang sama, ekspor turun 3,1 persen secara tahunan ke US$22,53 miliar, sementara impor justru naik menjadi US$19,21 miliar atau tumbuh 1,51 persen secara tahunan.

Kombinasi itu ikut mempengaruhi sentimen pasar saham, meski IHSG tetap mampu bertahan di zona hijau. Indeks ditutup naik tipis di 6.971,95 setelah sempat menguat hingga 1 persen pada sesi pagi, lalu kehilangan sebagian tenaganya saat pasar mencerna data perdagangan terbaru.

Di bursa, aktivitas transaksi berlangsung ramai. Nilai transaksi harian mencapai Rp21,17 triliun dengan volume 60,31 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 2,44 juta kali.

Pergerakan saham juga cenderung campuran. Sebanyak 327 saham menguat, 357 saham melemah, dan 134 saham stagnan.

Sektor konsumsi masih memimpin

Penguatan IHSG terutama ditopang oleh sektor konsumen non-primer yang naik 2,52 persen. Sektor konsumen primer menyusul dengan kenaikan 1,52 persen, sedangkan infrastruktur bertambah 0,96 persen.

Sejumlah saham individual juga mencatat lonjakan besar. PT MD Entertainment Tbk (FILM) menguat 23,9 persen, sementara PT Hero Supermarket Tbk (HERO) naik 24,4 persen.

Di balik pergerakan indeks, pasar menaruh perhatian pada kondisi perdagangan luar negeri yang mulai kehilangan tenaga. Surplus masih ada, tetapi penyusutannya terjadi cukup jelas dibandingkan periode sebelumnya.

Surplus menyusut dari tahun lalu

Badan Pusat Statistik mencatat surplus neraca perdagangan Maret 2026 sebesar US$3,32 miliar. Angka ini lebih rendah dibanding surplus Maret 2025 yang mencapai US$4,33 miliar, meski tetap menandai surplus selama 71 bulan berturut-turut.

Secara kumulatif, surplus Januari–Maret 2026 tercatat US$5,55 miliar. Nilai tersebut hampir setengah dari capaian periode yang sama tahun lalu yang masih sebesar US$10,91 miliar.

Penyusutan surplus terutama dipicu oleh ekspor yang melemah. Pada Maret 2026, nilai ekspor tercatat US$22,53 miliar dan turun 3,1 persen secara tahunan, sehingga ruang surplus menjadi lebih sempit meskipun impor belum melonjak besar.

Impor masih naik di tengah tekanan ekspor

Kenaikan impor datang terutama dari barang non-migas. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut kenaikan impor tahunan terutama didorong oleh impor non-migas dengan kontribusi 1,29 persen terhadap pertumbuhan impor.

Impor non-migas tercatat US$16,04 miliar dan tumbuh 1,54 persen secara tahunan. Sementara itu, impor migas berada di level US$3,17 miliar, naik 1,34 persen dibanding Maret tahun lalu.

Panin Sekuritas menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut memperlambat aktivitas perdagangan internasional. Lembaga itu juga melihat kontraksi ekspor tahunan dipengaruhi basis pembanding yang tinggi karena pola frontloading ekspor tahun lalu untuk mengantisipasi ancaman kebijakan tarif AS.

Di sisi lain, ekspor bulanan masih ditopang komoditas minyak sawit meski permintaan dari China melambat. Panin juga mencatat pelemahan rupiah membuat volume impor konsumsi tertekan karena masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Untuk ke depan, Panin memproyeksikan tekanan terhadap neraca perdagangan masih berlanjut seiring perlambatan permintaan global. Komoditas alternatif seperti CPO dan perjanjian perdagangan bilateral dinilai dapat menjadi penopang untuk menjaga ketahanan surplus dagang.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer