Pemerintah diminta bergerak lebih agresif setelah tiga kasus positif hantavirus terdeteksi di Jakarta, disusul enam orang berstatus suspek yang masih dipantau ketat. Temuan ini menempatkan pengawasan dini sebagai langkah yang paling mendesak agar penelusuran kasus tidak berjalan lambat.
Di tingkat layanan kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta sudah meneruskan surat kewaspadaan dari Kementerian Kesehatan ke seluruh fasilitas kesehatan di ibu kota. Sejumlah RSUD juga ditempatkan sebagai rumah sakit sentinel untuk memperkuat pengawasan terhadap suspek hantavirus.
Pemantauan kasus terus berjalan
Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyebut pemantauan terhadap para suspek masih berlangsung. Langkah itu dilakukan untuk memastikan perkembangan kondisi mereka tetap terpantau dan respons kesehatan bisa dilakukan lebih cepat bila ada perubahan.
Selain pengawasan di fasilitas kesehatan, tim gerak cepat juga disiagakan untuk menjalankan sistem kewaspadaan dini jika terjadi kenaikan kasus yang signifikan. Skema ini diposisikan sebagai bagian dari upaya menekan risiko penularan di tengah temuan kasus di ibu kota.
Penularan perlu dipahami dari sumbernya
Ani menegaskan masyarakat perlu memahami jalur penularan hantavirus karena penyakit ini ditularkan melalui tikus. Risiko meningkat saat seseorang membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang rodensia tanpa perlindungan yang memadai.
Penularan dapat terjadi lewat inhalasi aerosol dari kotoran tikus, sekresi air liur, dan urin. Risiko juga muncul bila seseorang kontak langsung dengan sekresi tikus yang terkontaminasi atau terkena gigitan tikus.
Saat membersihkan area yang banyak kotoran tikus, ventilasi udara perlu dipastikan baik. Kotoran tikus juga sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan.
Lingkungan perkotaan ikut jadi perhatian
Ani mengingatkan bahwa risiko hantavirus tidak lepas dari kondisi lingkungan perkotaan yang mendukung keberadaan tikus. Sanitasi yang belum merata, drainase buruk, banjir berulang, pasar tradisional, gudang makanan, dan permukiman padat disebut dapat meningkatkan risiko penularan.
Ia juga mengimbau masyarakat menjaga kebersihan dengan mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir. Cairan pemutih yang biasa tersedia di rumah juga dapat digunakan sebagai disinfektan sebelum pembersihan dilakukan.
Surveilans aktif dinilai harus lebih tajam
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai temuan tiga kasus positif dan enam suspek di Jakarta memang perlu diwaspadai. Meski begitu, ia menekankan masyarakat tidak perlu panik karena mayoritas hantavirus tidak mudah menular antarmanusia.
Dicky menjelaskan hantavirus telah dikenal sejak dekade 1990-an dan kemunculan kasus di Jakarta bukan hal yang mengejutkan. Menurut dia, kota besar seperti Jakarta memiliki banyak faktor risiko yang mendukung penularan dari rodensia ke manusia.
Ia menilai pemerintah perlu mengedepankan surveilans aktif dan tidak menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Active case finding, penelusuran kontak, surveilans di rumah sakit dan puskesmas, serta syndromic surveillance harus dijalankan lebih agresif.
Fokus pemantauan juga perlu diarahkan pada pasien dengan demam, trombositopenia, acute kidney injury, dan riwayat paparan tikus atau lingkungan berisiko. Pendekatan ini dianggap penting untuk menemukan kasus lebih awal dan mencegah keterlambatan penanganan.
Pemetaan risiko dan kesiapan fasilitas kesehatan
Dicky juga mendorong pemetaan epidemiologi spasial melalui peta hotspot. Pemetaan itu perlu mencakup rumah pasien, tempat kerja, pasar, gudang, sistem drainase, wilayah rawan banjir, dan area dengan kepadatan rodensia.
Menurut dia, investigasi rodensia juga bagian penting dari pendekatan One Health yang sering kurang mendapat perhatian. Keterlibatan kementerian terkait lingkungan hidup, balai veteriner, peneliti, epidemiolog lingkungan, hingga ahli rodensia diperlukan agar pola risiko bisa dibaca lebih utuh.
Di sisi lain, kapasitas laboratorium dinilai perlu diperkuat, termasuk melalui pemeriksaan PCR dan penerapan biosafety yang memadai. Komunikasi risiko juga harus dijaga agar masyarakat tetap waspada tanpa panik atau justru mengabaikan laporan kasus.
Dicky menambahkan pengendalian tikus, sanitasi pasar, pengelolaan sampah, kontrol drainase, dan pengurangan habitat rodensia merupakan inti pengendalian hantavirus. Ia juga menilai rumah sakit perlu siap menghadapi kemungkinan kasus lain melalui deteksi dini, isolasi pada kasus berat, penggunaan APD, dan kesiapan ventilator bila dibutuhkan.
Dalam jangka panjang, pemerintah dinilai perlu membangun surveilans urban One Health yang menghubungkan data kesehatan manusia, hewan, lingkungan, iklim, dan populasi rodensia. Dengan pemantauan yang lebih terintegrasi, deteksi dini dan mitigasi risiko hantavirus di Jakarta dapat dilakukan lebih cepat dan lebih terarah.
Source: lifestyle.bisnis.com