Susi Pudjiastuti Pimpin Komisaris Bank BJB, Dividen Naik Menjadi Rp 900 Miliar

Bank BJB menata ulang jajaran pengurusnya sekaligus menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 900 miliar dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar di Gedung Pakuan, Bandung. Keputusan itu menjadi penanda bahwa pemegang saham menaruh harapan besar pada penguatan kinerja bank, baik dari sisi bisnis maupun tata kelola.

Perubahan paling menyita perhatian datang dari susunan komisaris, karena Susi Pudjiastuti ditetapkan sebagai Komisaris Utama Independen Bank BJB. Pada saat yang sama, Eydu yang menjabat Kepala BPK Jabar diusulkan menjadi komisaris anggota dan akan menempuh prosedur dengan mengundurkan diri dari jabatan sebelumnya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyambut baik keputusan pembagian dividen tersebut karena nilainya naik dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut target dividen Bank BJB untuk tahun buku 2025 berada di angka Rp 900 miliar, lebih tinggi dari dividen sebelumnya yang tercatat Rp 860 miliar.

Menurut Dedi, kenaikan setoran dividen menunjukkan adanya perkembangan positif dan kepercayaan pemegang saham terhadap manajemen. Namun, ia menegaskan bahwa pertumbuhan semacam itu tidak boleh berhenti pada angka dividen semata, melainkan harus berjalan bersama pembenahan kinerja perusahaan secara menyeluruh.

Dedi juga menilai para pemegang saham melihat arah perbaikan Bank BJB sebagai langkah yang tepat. Ia mengingatkan bahwa laba yang meningkat perlu diimbangi dengan tata kelola yang lebih baik dan kualitas bisnis yang terus diperkuat agar hasilnya tidak hanya terasa dalam satu periode.

Di sisi manajemen, Direktur Utama Bank BJB yang baru, Ayi Subarna, mengatakan para pemegang saham menyambut hasil rapat secara positif. Ia menuturkan bahwa arah perusahaan tetap menuju peningkatan dividen meski kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.

Selain perubahan di kursi komisaris utama, RUPST juga menyetujui perubahan struktur organisasi dengan menetapkan jumlah direksi menjadi tujuh orang. Salah satu poin penting dalam pembaruan itu adalah pemisahan fungsi teknologi informasi dari unit operasional.

Dedi menjelaskan bahwa pemisahan fungsi tersebut dinilai strategis karena teknologi informasi memegang peran penting dalam arah bisnis bank ke depan. Dengan posisi yang lebih independen, keputusan bisnis diharapkan bisa berjalan lebih tepat dan tidak bercampur dengan urusan operasional harian.

Restrukturisasi manajemen itu juga diarahkan untuk menekan biaya operasional dan menjaga kualitas bisnis di tengah persaingan industri keuangan yang semakin ketat. Bank BJB diminta memperkuat penyaluran kredit, menjaga kualitas aset, dan menghindari pembesaran kredit bermasalah.

Dedi memberi perhatian khusus pada pengelolaan piutang dan penagihan kredit. Ia menilai bank harus agresif menghimpun dana pihak ketiga, tetapi tetap disiplin dalam menagih kewajiban debitur agar kondisi keuangan tetap sehat.

Penempatan figur baru di jajaran komisaris juga dianggap penting untuk membangun kredibilitas perusahaan. Dedi berharap susunan baru itu mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap Bank BJB dan memperkuat posisinya di luar lingkup pemerintah daerah.

Harapan serupa juga datang dari pemerintah daerah. Sekretaris Daerah Kota Tangerang Herman Suwarman yang hadir mewakili pemerintah daerah menyampaikan bahwa peningkatan kinerja Bank BJB diharapkan dapat memberi dampak langsung pada pembangunan daerah.

Herman menilai dividen yang lebih besar akan memperkuat manfaat bank bagi daerah pemegang saham. Ia juga berharap Bank BJB tetap menjaga kemitraan strategis dengan pemerintah daerah sambil memperkuat penghimpunan dana, penyaluran kredit, dan kontribusi yang berkelanjutan bagi pemegang saham.

Berita Terkait