Telkomsel menargetkan seluruh limbah elektronik yang dihasilkan perusahaan pada 2025 dikelola hingga 100 persen melalui skema recycle, reuse, dan refurbish. Langkah ini menempatkan pengelolaan e-waste sebagai bagian penting dari strategi keberlanjutan perusahaan, bukan sekadar program tambahan.
Fokus tersebut juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan layanan digital dan infrastruktur telekomunikasi harus diimbangi dengan cara kerja yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Di tengah kebutuhan pembaruan perangkat yang terus berjalan, Telkomsel memilih pendekatan ekonomi sirkular untuk menekan dampak limbah elektronik.
Tiga skema untuk memperpanjang usia perangkat
Recycle, reuse, dan refurbish menjadi tiga jalur utama dalam pengelolaan limbah elektronik. Recycle memproses material yang masih bernilai guna agar bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, reuse membuat perangkat yang masih layak pakai digunakan kembali, dan refurbish memperbaiki atau memperbarui perangkat supaya masa pakainya lebih panjang.
Pendekatan ini relevan karena perangkat jaringan, komponen BTS, perangkat pendukung operasional, hingga peralatan teknologi informasi berpotensi menjadi limbah elektronik jika tidak ditangani dengan benar. Dengan skema tersebut, perusahaan dapat mengurangi volume limbah sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang sudah ada.
Bagian dari pilar Jaga Bumi
Pengelolaan e-waste ditempatkan Telkomsel dalam pilar Jaga Bumi, yang berfokus pada pengurangan dampak lingkungan dan dukungan terhadap ekosistem digital yang lebih hijau. Pilar ini juga diarahkan untuk mengurangi emisi karbon, mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan, dan meningkatkan ketahanan operasional terhadap dampak perubahan iklim.
Di sisi lain, Telkomsel ikut memperluas pemanfaatan energi terbarukan di infrastruktur jaringannya. Hingga akhir 2025, sebanyak 361 BTS Telkomsel sudah menggunakan sumber energi terbarukan seperti solar panel dan mikrohidro.
Perusahaan menyebut langkah itu sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi konvensional. Arah kebijakan ini juga mendukung target pembangunan berkelanjutan yang lebih luas.
Dukungan dari material yang lebih ramah lingkungan
Upaya keberlanjutan Telkomsel tidak hanya terlihat dari pengelolaan perangkat elektronik. Seluruh kemasan kartu SIM yang digunakan perusahaan juga telah beralih ke material berbasis kertas yang lebih ramah lingkungan.
Peralihan tersebut membantu mengurangi penggunaan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah sulit terurai. Langkah ini menunjukkan bahwa aspek lingkungan diterapkan di lebih dari satu lini operasional perusahaan.
Dengan capaian pengelolaan 100 persen limbah elektronik, Telkomsel menunjukkan bahwa layanan digital dapat tumbuh seiring dengan tanggung jawab lingkungan. Di saat ekonomi digital Indonesia terus berkembang, perusahaan menegaskan pentingnya konektivitas yang andal tanpa melepaskan komitmen pada praktik yang lebih berkelanjutan.
