Di tengah pertumbuhan yang masih positif, pembiayaan alat berat mulai menghadapi sikap lebih waspada dari sektor tambang. Industri multifinance memang masih membukukan penyaluran Rp47,24 triliun pada kuartal I/2026, tetapi arah permintaan di salah satu segmen andalannya kini tidak lagi selincah sebelumnya.
Porsi pembiayaan alat berat itu setara 8,69% dari total pembiayaan industri multifinance. Namun, di balik angka yang masih bertambah 1,09% secara tahunan, pasar mulai membaca bahwa ruang ekspansi dari tambang tidak lagi seterang sebelumnya.
Tambang menahan tambahan armada
Kehati-hatian paling terasa datang dari pelaku usaha tambang yang cenderung menunda pembelian unit baru. Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia melihat sebagian perusahaan memilih menunggu karena izin dan kuota produksi belum sepenuhnya jelas.
Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno menilai kondisi itu membuat perusahaan tambang tidak selalu membutuhkan tambahan alat baru. Ia juga menekankan bahwa ketidakpastian izin dan penambahan kuota dapat membuat keputusan pembelian tertahan lebih lama.
RKAB ikut memengaruhi langkah bisnis
Dari sisi kebijakan, penyesuaian kuota produksi batu bara dalam rencana kerja dan anggaran biaya atau RKAB dinilai dapat memengaruhi permintaan pembiayaan alat berat. Otoritas Jasa Keuangan melihat dampaknya paling terasa di sektor pertambangan karena kebutuhan alat berat sangat bergantung pada aktivitas produksi dan ekspansi di lapangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman menilai situasi ini membuat diversifikasi pembiayaan semakin penting. Menurut dia, langkah tersebut dibutuhkan agar kinerja industri multifinance tetap stabil dan berkelanjutan.
Pesanan tertunda, sebagian bahkan dibatalkan
Dari sisi pertambangan, kebijakan pemangkasan produksi pada persetujuan RKAB batu bara 2026 memberi efek yang lebih luas. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Sudirman Widhy Hartono menyebut banyak rencana investasi yang sudah disusun menjadi sulit dieksekusi.
Dampaknya juga merembet ke penyedia alat berat. Sejumlah perusahaan pertambangan dan jasa pertambangan dilaporkan menunda pesanan sambil menunggu kejelasan target produksi batu bara yang disetujui pemerintah, dan sebagian perusahaan bahkan sudah membatalkan pemesanan.
Industri pembiayaan tetap mencari ruang lain
Jika permintaan pembiayaan alat berat baru melemah, perusahaan pembiayaan akan lebih banyak bertumpu pada debitur eksisting. Di saat yang sama, sektor ini juga melihat peluang dari pembiayaan modal usaha dan modal kerja.
Aktivitas tambang tetap menciptakan kebutuhan operasional yang tidak hilang meski unit baru tidak bertambah. Suwandi mencontohkan sparepart dan solar yang tetap dibutuhkan selama operasional berjalan, sehingga ruang pembiayaan lain masih terbuka bagi industri multifinance.
Meski begitu, arah segmen alat berat ke depan tetap sangat ditentukan oleh produksi batu bara, keputusan investasi perusahaan tambang, dan kemampuan industri memperluas sumber pembiayaan di luar pembelian armada baru. Persetujuan RKAB 2026 kepada pemegang IUP batu bara masih memberi harapan agar konfirmasi pesanan alat berat kembali lebih pasti.
Source: finansial.bisnis.com






