Tanjung Verde mencatat sejarah besar dengan memastikan tempat di babak 32 besar Piala Dunia pada penampilan perdananya. Tim asal Afrika barat itu finis sebagai runner-up Grup H setelah menahan Arab Saudi 0-0 dan mengumpulkan tiga poin.
Pencapaian itu terasa jauh melampaui ekspektasi karena Tanjung Verde hanya berpenduduk sekitar 500.000 jiwa dan datang sebagai debutan dengan peringkat ke-67 sebelum turnamen dimulai. Dalam tiga pertandingan fase grup, mereka tetap tak terkalahkan dan mampu bersaing dengan lawan yang lebih berpengalaman.
Pertahanan rapat jadi fondasi utama
Perjalanan Tanjung Verde di fase grup banyak ditopang oleh organisasi pertahanan yang solid. Mereka mampu menahan tekanan dari Spanyol dan Uruguay, lalu menutup langkah awal dengan hasil yang menjaga peluang lolos tetap hidup hingga laga terakhir.
Di Houston, hasil imbang melawan Arab Saudi menjadi penentu nasib mereka. Sementara itu, kemenangan Spanyol 1-0 atas Uruguay memastikan Tanjung Verde mengamankan posisi kedua grup, sedangkan Uruguay dan Arab Saudi harus tersingkir dengan masing-masing dua poin.
Pelatih Bubista mengambil keputusan berani dengan mengganti separuh pemain inti pada laga penentuan itu. Meski begitu, ia tetap mempertahankan Vozinha di bawah mistar, dan kiper berusia 40 tahun tersebut kembali menjadi sosok penting.
Vozinha sebelumnya juga tampil heroik saat Tanjung Verde membuka turnamen dengan menahan Spanyol. Penyelamatan-penyelamatan krusialnya ikut menjaga asa tim untuk terus bertahan di turnamen dan menjadi salah satu cerita paling menonjol dari perjalanan mereka.
Rasa tak percaya yang berubah menjadi kenyataan
Gelandang Deroy Duarte menggambarkan pencapaian ini sebagai sesuatu yang sulit dipercaya. Ia menyebut situasi yang dialami timnya terasa seperti mimpi setelah berhasil melewati fase grup tanpa kekalahan.
Penyerang Dailon Livramento juga menegaskan bahwa Tanjung Verde berusaha tampil dengan identitas sendiri sepanjang fase grup. Ia menilai masih ada detail yang perlu dibenahi, terutama dalam penyelesaian serangan, tetapi momen kelolosan ini tetap layak dirayakan.
Argentina menanti di babak gugur
Ujian berikutnya langsung datang dari lawan yang jauh lebih berat. Tanjung Verde akan menghadapi juara bertahan Argentina yang diperkuat Lionel Messi di Miami pada 3 Juli.
Duarte mengakui pertandingan itu akan sangat sulit, tetapi ia menegaskan keyakinan tim belum luntur. Menurutnya, segala sesuatu masih mungkin terjadi, dan Tanjung Verde akan lebih dulu merayakan pencapaian bersejarah ini sebelum kembali bersiap.
Kelolosan Tanjung Verde menjadi salah satu kisah paling menarik di turnamen ini karena datang dari tim debutan yang mampu menjaga konsistensi sejak fase grup. Dengan modal pertahanan kuat dan kepercayaan diri yang tumbuh, mereka kini memasuki laga hidup-mati melawan Argentina dengan status yang jauh lebih berani daripada sebelum turnamen dimulai.
Source: bola.bisnis.com






