Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam perdagangan energi dunia setelah Iran menutup jalur itu lagi. Keputusan tersebut langsung memunculkan kekhawatiran karena selat sempit itu menjadi salah satu pintu utama bagi arus minyak dan gas global.
Situasi ini membuat banyak pelaku pelayaran bergerak hati-hati. Ketika akses di jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak berhenti pada Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga berpotensi merembet ke biaya pengiriman, pasokan energi, dan sentimen pasar internasional.
Pemerintah Iran mengambil langkah itu setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran menilai tindakan tersebut melanggar hak perdagangan internasional dan memberi tekanan besar terhadap ekspor minyaknya.
Penutupan ini terjadi tak lama setelah selat sempat dibuka singkat. Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan jalur itu tidak akan dibuka sebelum Amerika Serikat mencabut blokade, sehingga ketegangan di kawasan kembali meningkat.
Dalam perdagangan energi global, Selat Hormuz memegang posisi yang sangat krusial. Jalur ini menjadi pintu keluar utama bagi sekitar seperempat perdagangan minyak dunia dan juga menjadi lintasan penting bagi sebagian besar pengiriman gas alam cair atau LNG.
Karena itu, gangguan sekecil apa pun di area tersebut dapat menimbulkan efek berantai. Pasokan energi bisa tersendat, biaya pengiriman naik, dan pasar internasional ikut merespons dengan penuh kehati-hatian.
Di lapangan, ketidakpastian membuat operator kapal sulit mengambil keputusan. Spesialis pelayaran maritim dari Texas A&M University, John-Paul Rodrigue, menyebut ada kapal yang sempat mencoba melintas setelah pengumuman, tetapi kemudian memilih berbalik arah.
“Kapalkapal telah berupaya melakukan transit sejak pengumuman tersebut, tetapi tampaknya banyak di antaranya yang kembali karena situasinya belum jelas,” ujar Rodrigue kepada Al Jazeera. Ia menilai persoalan utama bukan hanya ancaman fisik, melainkan juga tumpang tindihnya informasi dari berbagai pihak.
Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan sebagian tanker sudah mulai keluar dari Teluk Persia dalam konvoi dengan pengawalan ketat. Meski begitu, banyak operator tetap menunda perjalanan atau mengalihkan rute karena faktor keamanan masih tinggi.
Kondisi di sekitar Hormuz juga dipengaruhi perang informasi yang membuat situasi semakin sulit dibaca. Koresponden Al Jazeera di Teheran, Tohid Asadi, menyebut ketidakpastian sebagai unsur inti dalam perkembangan terbaru di selat itu.
“Ketidakpastian adalah inti permainan terkait Selat Hormuz,” kata Asadi. Ia menambahkan bahwa tuntutan Iran tidak hanya soal pembukaan jalur laut, tetapi juga mencakup pencabutan sanksi dan penyelesaian isu nuklir.
Asadi menjelaskan bahwa Iran juga menginginkan penghentian perang secara menyeluruh di kawasan, jaminan keamanan, pencairan aset yang dibekukan, serta pembahasan hubungan regional. Di atas semua itu, Teheran tetap menyoroti isu nuklir dan cadangan uranium yang diperkaya tinggi miliknya.
Dengan posisi Selat Hormuz yang sangat strategis, setiap pembatasan akses di wilayah itu selalu menimbulkan kekhawatiran luas. Selama jalur tersebut belum kembali benar-benar stabil, pelayaran, pasokan energi, dan ketenangan pasar masih akan bergantung pada keputusan politik yang belum menunjukkan tanda melonggar.







