Sejumlah makanan dan minuman yang terlihat praktis ternyata bisa membuat otak bekerja lebih lambat tanpa disadari. Efeknya tidak selalu langsung terasa, tetapi perlahan dapat memicu kabut otak, fokus yang mudah buyar, hingga daya ingat yang kurang stabil.
Masalah utamanya sering datang dari gula tambahan, lemak trans, bahan olahan berlebih, dan pemanis buatan. Saat asupan seperti ini dikonsumsi terlalu sering, tubuh bisa mengalami lonjakan gula darah, peradangan, dan gangguan pada sistem saraf yang ikut menghambat performa kognitif.
Minuman dan camilan yang tampak aman, tetapi justru berisiko
Yoghurt berperisa sering dianggap sebagai pilihan yang baik karena identik dengan kesehatan usus. Namun, kandungan gulanya bisa sangat tinggi, bahkan mendekati makanan penutup, sehingga jika dikonsumsi rutin dapat memicu peradangan dan resistensi insulin.
Kondisi tersebut menurut Dr. Maniscalco bisa berdampak pada daya ingat dan kemampuan otak beradaptasi. Hal serupa juga berlaku pada granola bars yang beredar luas di pasaran, karena banyak produk jenis ini membawa gula halus, perisa buatan, dan bahan tambahan yang berpotensi mengganggu fokus serta suasana hati.
Keripik, kentang goreng, dan margarin juga perlu dibatasi
Keripik sayur sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih sehat dibanding keripik biasa. Padahal, camilan ini kerap digoreng memakai minyak biji-bijian seperti minyak bunga matahari atau kanola yang dapat memicu peradangan.
Kentang goreng juga masuk kelompok makanan yang sebaiknya tidak sering dikonsumsi. Selain tinggi kalori, makanan ini umumnya mengandung lemak trans dan akrilamida, yaitu senyawa yang disebut dapat merusak saraf bila asupannya berlebihan.
Margarin pun tidak kalah perlu diwaspadai karena sering mengandung lemak trans hasil hidrogenasi. Lemak ini dapat mengganggu membran sel otak dan memperlambat komunikasi antarsel, sehingga performa kognitif ikut menurun.
Sumber gula tinggi yang sering diremehkan
Jus buah sering dipilih karena berasal dari bahan yang terlihat alami. Akan tetapi, proses pembuatannya membuat serat penting hilang dan justru menyisakan fruktosa tinggi yang dapat memicu peradangan di otak jika diminum berlebihan.
Sereal manis pun termasuk makanan yang patut dibatasi karena kaya karbohidrat olahan dan gula tambahan. Saat gula darah naik turun terlalu cepat, otak kesulitan mempertahankan energi stabil dan fungsi berpikir bisa ikut terganggu.
Roti gandum utuh memang tampak lebih sehat dibanding roti putih, tetapi tetap bisa memicu lonjakan gula darah karena karbohidratnya mudah dicerna. Fluktuasi ini dapat memunculkan kabut otak dan memberi tekanan pada hippocampus, bagian otak yang penting untuk belajar dan memori.
Protein shake, pemanis buatan, dan alternatif berbasis tumbuhan yang perlu dicermati
Protein shake dengan pemanis buatan juga masuk daftar yang perlu diperhatikan. Dr. Maniscalco menyebut pemanis seperti aspartam berpotensi mengganggu sumbu usus-otak, yang dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan masalah suasana hati dan penurunan kemampuan kognitif.
Di sisi lain, label berbasis tumbuhan tidak otomatis berarti aman bagi otak. Banyak alternatif daging nabati diproses berlebihan dan mengandung minyak biji-bijian serta perisa sintetis, sehingga berisiko mengganggu keseimbangan neurotransmitter dan meningkatkan stres oksidatif.
Pilihan seperti ini kadang terlihat praktis, tetapi justru bisa membuat otak cepat lelah dan sulit menjaga atensi saat beraktivitas. Dampaknya terasa dalam bentuk mudah terdistraksi, sulit fokus lama, dan performa berpikir yang tidak setajam biasanya.
Satu bahan laut yang perlu diwaspadai
Ikan todak disebut memiliki kadar merkuri tinggi. Dr. Janine Bowring menyampaikan bahwa logam berat seperti merkuri bisa menghancurkan sel otak dan memicu gangguan kognitif, mulai dari sulit fokus hingga gangguan memori.
Karena itu, perhatian terhadap bahan pangan tidak cukup hanya pada rasa atau label kemasan. Asupan yang terlalu sering tinggi gula, lemak trans, bahan tambahan, dan pemanis buatan bisa membuat otak bekerja lebih berat dan kurang stabil sepanjang hari.
Sebaliknya, pilihan yang lebih bijak biasanya datang dari bahan yang lebih alami dan minim proses, seperti Greek yogurt tawar, buah utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, tempe, hingga roti fermentasi dari biji-bijian.
Source: www.beautynesia.id