Tebas Desak Infantino Mundur, FIFA Dituding Menggerus Masa Depan Liga Domestik

Presiden LaLiga Javier Tebas mendesak Gianni Infantino meninggalkan jabatan Presiden FIFA. Ia menilai kebijakan badan sepak bola dunia itu semakin mengancam fondasi kompetisi domestik yang menopang industri sepak bola sepanjang musim.

Seruan tersebut muncul di tengah perluasan agenda turnamen internasional dan tekanan yang terus bertambah pada kalender pertandingan. Tebas menyatakan arah FIFA terlalu berpusat pada ajang singkat seperti Piala Dunia, sementara liga nasional menopang pekerjaan dan aktivitas klub setiap tahun.

Dukungan Sistem Dinilai Menghambat Perubahan

Meski meminta pengunduran diri, Tebas mengakui peluang perubahan kepemimpinan FIFA masih kecil. Menurutnya, Infantino memiliki dukungan kuat dari sistem internal dan federasi anggota.

“Dalam pandangan saya, ya, waktunya sudah habis. Namun dia mendapat dukungan dari sistem dan federasi, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan,” ujar Tebas. Ia juga mengatakan banyak pihak disebut menentang Infantino, tetapi tidak mengambil langkah nyata.

Infantino telah menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027-2031. Pemilihan dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Maroko.

Suporter Menuntut Tata Kelola yang Lebih Terbuka

Tekanan terhadap FIFA tidak hanya datang dari LaLiga. Football Supporters Europe atau FSE menilai Piala Dunia 2026 terlalu menonjolkan hiburan serta komersialisasi dibanding pengalaman pendukung sepak bola.

FSE mendesak reformasi tata kelola agar liga, klub, pemain, dan suporter kembali dilibatkan dalam keputusan penting. Organisasi tersebut turut menyoroti harga tiket tinggi, ongkos transportasi mahal, komunikasi yang kurang transparan, serta kebijakan yang dinilai merusak identitas sepak bola.

Agenda Turnamen dan Jeda Pertandingan Disorot

Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport yang dikutip Medcom, Javier Tebas menilai penambahan jumlah peserta turnamen internasional tidak masuk akal. Kritik terbesarnya mengarah pada wacana Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta yang diajukan CONMEBOL.

IsuRincianPenilaian Tebas
Piala Dunia 2030Wacana 64 pesertaMenambah tekanan kalender sepak bola
Cooling break Piala Dunia 2026Jeda hidrasi di tengah lagaDiduga membuka ruang iklan
Final Piala Dunia 2026Jeda babak pertama 27 menitLebih mengutamakan pertunjukan paruh waktu

Tebas tidak menolak jeda hidrasi sepenuhnya karena LaLiga juga menerapkannya saat cuaca sangat panas. Namun, ia mempertanyakan penggunaan cooling break di sejumlah stadion Piala Dunia yang telah dilengkapi pendingin udara.

“FIFA mengatur semuanya sesuai keinginannya sendiri, bukan demi sepak bola. Cooling break itu hanya alasan,” kata Tebas. Ia menduga jeda tersebut lebih terkait kepentingan iklan daripada kebutuhan teknis pertandingan.

Perpanjangan jeda babak pertama final menjadi 27 menit juga dipandang sebagai tanda kuatnya orientasi hiburan dan komersial. Bagi Tebas, perubahan seperti itu memperlihatkan bagaimana kepentingan pertandingan dapat bergeser dari kebutuhan olahraga.

Liga Nasional Dianggap Fondasi Utama

Tebas menegaskan Piala Dunia tetap merupakan turnamen paling penting, tetapi bukan satu-satunya pusat industri sepak bola. Kompetisi nasional dinilainya menciptakan puluhan ribu lapangan kerja dan menjaga keberlangsungan klub sepanjang musim.

“Kompetisi nasional adalah penopang olahraga ini. Mereka sedang menghancurkan industri sepak bola yang menghasilkan puluhan ribu pekerjaan demi sebuah turnamen yang hanya berlangsung sekitar 40 hari dan hanya melibatkan sebagian kecil pemain,” katanya.

Source: www.medcom.id
Berita Terkait