Negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat kini tersendat pada satu titik paling sensitif: nasib stok uranium yang diperkaya tinggi milik Teheran. Iran belum menyetujui penyerahan cadangan itu kepada Washington, sehingga ruang pembahasan menuju kesepakatan akhir masih terbuka lebar dan jauh dari kata selesai.
Sikap tersebut membuat tahap perundingan yang sedang dibahas belum berubah menjadi keputusan final. Seorang sumber senior Iran kepada Reuters menegaskan bahwa isu nuklir belum masuk ke kesepakatan awal, karena pembahasan mengenai stok uranium baru akan muncul dalam negosiasi untuk kesepakatan akhir.
Teheran menahan isu paling krusial
Pernyataan sumber Iran itu menunjukkan Teheran masih berupaya menjaga posisi tawar pada fase berikutnya. Menurut dia, pengiriman stok uranium diperkaya tinggi keluar dari Iran dianggap terlalu sensitif untuk dimasukkan ke perjanjian sementara.
“Isu nuklir akan dibahas dalam negosiasi untuk kesepakatan akhir dan karena itu tidak termasuk dalam kesepakatan saat ini,” kata sumber tersebut kepada Reuters. Posisi ini sekaligus menegaskan bahwa pembicaraan belum bergerak ke ranah penentuan akhir.
Ada laporan yang memberi sinyal berbeda
Di sisi lain, kabar dari media lain sempat memunculkan gambaran yang tidak sama. The New York Times melaporkan Iran secara prinsip telah menyetujui penyerahan sebagian stok uranium yang diperkaya tinggi sebagai bagian dari kerangka awal kesepakatan.
Laporan itu menyebut sejumlah pejabat yang mengetahui jalannya negosiasi. Mereka juga mengatakan Washington menjadikan pengelolaan stok uranium sebagai salah satu syarat utama dalam tahap awal pembahasan.
Mekanisme teknis belum menemukan titik temu
Meski begitu, detail teknis pengelolaan uranium Iran belum tuntas. Media Korea Selatan The Chosun Daily melaporkan mekanisme teknisnya masih belum disepakati sepenuhnya dan akan terus dibahas dalam putaran negosiasi berikutnya.
Kondisi itu membuat salah satu isu paling sensitif dalam perundingan belum menemukan jalan keluar. Selama mekanisme pengelolaan belum beres, pembicaraan tetap berada di wilayah yang rentan terhadap kebuntuan.
Tekanan Washington makin kuat
Pengelolaan uranium diperkaya tinggi menjadi perhatian utama dalam hubungan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak konflik ketiganya memanas pada 28 Februari 2026. Iran dilaporkan memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan hingga 60 persen.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menekankan agar stok tersebut berada di bawah pengawasan atau kendali Amerika Serikat. Pada awal negosiasi, Iran sempat meminta agar isu stok uranium tidak dibahas pada tahap awal perjanjian.
Teheran ingin topik itu disimpan untuk fase berikutnya agar pembicaraan tidak langsung tersendat sejak awal proses. Namun permintaan itu ditolak Washington, yang bahkan disebut mengancam akan melancarkan serangan lanjutan bila tidak ada kesepakatan mengenai isu tersebut.
Dengan perbedaan sikap yang masih lebar, arah negosiasi nuklir masih sangat bergantung pada jawaban atas satu pertanyaan penting: apakah Iran bersedia melepas kendali atas cadangan uraniumnya atau tetap mempertahankannya sebagai bagian dari strategi menuju kesepakatan akhir.
Source: www.beritasatu.com