Kepercayaan Iran terhadap Amerika Serikat kembali diuji setelah Donald Trump memicu perhatian lewat unggahan yang dinilai bernada provokatif. Di saat jalur diplomasi disebut terus bergerak, sinyal dari Washington justru terlihat tidak seragam dan membuat ruang kompromi semakin rapuh.
Yang paling disorot adalah unggahan Trump di Truth Social yang menampilkan bendera Amerika Serikat menutupi peta Iran secara penuh. Ia menambahkan pertanyaan, “United States of the Middle East?”, dan pesan itu langsung dianggap berseberangan dengan nada resmi pemerintah AS yang menolak pendudukan maupun perubahan rezim secara paksa di Iran.
Kontras itulah yang membuat upaya meredakan ketegangan tidak berjalan mulus. Pemerintah AS berbicara tentang kesepakatan dan gencatan senjata, tetapi gestur politik Trump dinilai bisa mengganggu kesan bahwa Washington benar-benar menempuh jalur damai.
Di sisi lain, pembahasan nota kesepahaman untuk gencatan senjata disebut sudah masuk tahap lanjut. Trump menyebut draf Memorandum of Understanding itu telah “sebagian besar dinegosiasikan” dan tinggal menunggu finalisasi.
Proses tersebut tidak berdiri sendiri. Trump dikabarkan berkomunikasi dengan para pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Turki untuk membantu menjembatani celah yang masih tersisa.
Ada pula peran dari luar jalur utama diplomasi yang ikut mendorong proses ini. Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, disebut baru mengunjungi Teheran, dan kunjungan itu dinilai “sangat produktif” karena membantu mempersempit perbedaan pandangan yang masih ada.
Nada serupa datang dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Ia menyampaikan bahwa ada progres yang terus dikerjakan dalam upaya menyusun kesepakatan, sehingga pembicaraan belum dianggap berhenti.
Namun, perkembangan itu tetap dibayangi keraguan dari pihak Iran. Teheran mengakui ada kemajuan dalam penyusunan draf 14 poin kesepakatan, tetapi juga menegaskan masih ada perbedaan pandangan yang “dalam dan signifikan”.
Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan draf memang sedang difinalisasi. Meski begitu, ia menegaskan Iran tidak bisa menaruh kepercayaan penuh pada pihak yang dinilai tidak jujur dalam proses negosiasi.
Sikap hati-hati itu menunjukkan bahwa pembicaraan tingkat tinggi belum otomatis menghapus kecurigaan lama. Selama sinyal dari Washington tetap bercampur antara ajakan damai dan provokasi, Teheran tampak memilih menahan diri.
Dampaknya bahkan merembet ke luar meja perundingan. Federasi Sepak Bola Iran memindahkan basis latihan tim nasional untuk Piala Dunia 2026 dari Arizona ke Tijuana, Meksiko.
Keputusan itu sudah disetujui FIFA dan diambil untuk menghindari masalah visa serta kekhawatiran keamanan bagi delegasi Iran. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa keraguan terhadap AS masih kuat, bahkan dalam urusan olahraga.
Pada titik ini, hubungan kedua negara tetap berada di posisi sensitif. Selama pesan resmi dan gestur politik dari Washington belum benar-benar sejalan, ruang kepercayaan di antara keduanya tampaknya masih akan sempit dan mudah goyah.
Source: www.suara.com






