Tekanan Bitcoin Makin Berat, Analis Ini Tak Menutup Peluang Turun ke $40.000

Author: Redaksi Android62

Bitcoin kembali berada di bawah tekanan besar setelah turun melewati $60.000 dan bergerak menuju kinerja bulanan terburuk sejak Juni 2022. Kondisi itu memperkuat kekhawatiran bahwa pasar kripto belum menemukan titik aman, meski aset digital terbesar di dunia itu sempat mencetak rekor tertinggi pada awal Oktober.

Penurunan tersebut juga membuat Bitcoin tertahan di level yang masih sekitar 52% di bawah puncak rekornya. Sepanjang tahun ini, aset itu telah kehilangan sekitar 33%, sementara S&P 500 justru mencatat kenaikan lebih dari 9%.

Arus dana ETF ikut membebani harga

Salah satu tekanan utama datang dari exchange-traded fund atau ETF spot bitcoin yang terdaftar di bursa Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, investor telah menarik lebih dari $4,1 miliar dari 13 dana tersebut sepanjang Juni, sehingga bulan ini berpotensi menjadi yang terburuk sejak peluncurannya pada Januari 2024.

Arus keluar itu penting karena ETF menjadi jalur utama masuknya modal ke Bitcoin. Ketika penarikan dana membesar, tekanan terhadap harga biasanya ikut meningkat dan sentimen pasar menjadi lebih rapuh.

Indikator Data Keterangan
Performa bulanan Menuju bulan terburuk sejak Juni 2022 Bitcoin turun di bawah $60.000
Arus keluar ETF Lebih dari $4,1 miliar Ditarik dari 13 ETF spot bitcoin di AS sepanjang Juni
Penurunan tahunan Sekitar 33% Jauh di bawah kinerja S&P 500
Jarak dari rekor Sekitar 52% Masih di bawah puncak tertinggi sebelumnya

Faktor makro dan likuiditas menambah tekanan

Selain arus dana ETF, kekhawatiran soal kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve juga menekan sentimen. Jika kebijakan moneter makin ketat, likuiditas dinilai bisa semakin menipis dan memperburuk kondisi aset berisiko.

Dalam situasi seperti itu, pasar kripto cenderung lebih sensitif terhadap perubahan arah dana dan ekspektasi suku bunga. Tekanan jual yang berlangsung berbulan-bulan membuat pola pelemahan kali ini terlihat konsisten, walau tidak sepenuhnya sama dengan siklus sebelumnya.

Strategiwan melihat ruang turun masih terbuka

David Grider dari Finality Capital Partners menilai Bitcoin belum menemukan titik terendah. Dalam pernyataannya kepada Yahoo Finance pada Selasa, ia mengatakan belum ada tanda bahwa pasar sudah benar-benar bottom.

“Menurut saya kita belum akan bottom sampai September atau Oktober untuk bitcoin dan sebagian besar aset digital di sekitarnya juga,” kata Grider. Ia menambahkan bahwa level $40.000 atau $45.000 tidak akan dianggap tidak wajar.

Pandangan itu menempatkan Bitcoin dalam fase yang masih rentan, terutama karena tekanan makro, deleveraging, dan arus keluar ETF belum sepenuhnya mereda. Selama ketiga faktor itu masih berjalan, volatilitas lanjutan tampaknya masih sulit dihindari.

Belum ada tanda kepanikan besar seperti siklus sebelumnya

Meski tekanan harga terus berlanjut, sejumlah analis menilai koreksi kali ini memiliki karakter yang berbeda. Compass Point melalui analis Ed Engel menyebut siklus kripto biasanya berakhir dengan ledakan besar, namun kali ini belum terlihat kebangkrutan besar yang biasanya menandai pasar bearish sebelumnya.

Engel juga menilai pelepasan utang atau deleveraging sejauh ini lebih banyak tertahan di pasar terdesentralisasi. Kondisi tersebut belum meluas ke industri kripto yang lebih besar, sehingga fase penyesuaian masih berjalan tanpa gejolak insolvensi besar yang umum terjadi pada siklus sebelumnya.

Langkah Strategy memberi sinyal likuiditas

Di tengah sentimen yang lemah, Strategy mencoba meredakan kekhawatiran pasar pada Senin dengan mengumumkan dana lebih dari $1 miliar untuk memperkuat cadangan kas, bukan untuk membeli lebih banyak bitcoin. Langkah itu dipandang memberi sinyal yang menenangkan bagi investor mengenai likuiditas perusahaan dan kemampuannya membayar dividen.

Namun, sinyal tersebut belum cukup untuk mengubah pandangan banyak pelaku pasar terhadap arah harga Bitcoin. Selama tekanan dari ETF, kebijakan moneter, dan deleveraging masih membayangi, pasar tampaknya masih harus bersiap menghadapi periode yang tidak stabil.

Berita Terbaru