Pelemahan ekspor non-migas Indonesia pada Mei 2026 tidak menunjukkan tekanan yang merata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa koreksi terbesar justru terkonsentrasi pada beberapa komoditas tertentu, sementara kinerja ekspor secara kumulatif masih bertumbuh.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kondisi itu penting dibaca secara hati-hati. Menurut dia, penurunan yang terlihat pada satu bulan belum otomatis mencerminkan pelemahan menyeluruh di seluruh lini ekspor nasional.
Kontraksi terbesar datang dari komoditas tertentu
BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$23,2 miliar, turun 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor non-migas tercatat US$22,45 miliar dan terkoreksi 4,5 persen secara tahunan.
Yusuf menilai tekanan tersebut tidak tersebar ke banyak kelompok barang. Sumber pelemahan lebih banyak berasal dari penurunan tajam pada beberapa komoditas utama, bukan dari penurunan serentak di semua sektor.
| Komoditas | Perubahan | Dampak/Penjelasan |
|---|---|---|
| Logam mulia, perhiasan, dan permata | Turun 59,35 persen | Memberi andil negatif sekitar 2,93 persen pada kinerja ekspor non-migas |
| Bijih logam, terak, dan abu | Anjlok 99,25 persen | Terkait kebijakan hilirisasi dan larangan ekspor bahan mentah |
| Besi dan baja | Turun 14,68 persen | Masih tertahan oleh lemahnya permintaan China |
Bijih logam dan hilirisasi menjadi perhatian
Penurunan tajam ekspor bijih logam, terak, dan abu dinilai berkaitan erat dengan arah kebijakan pemerintah. Larangan ekspor bahan mentah menjadi bagian dari dorongan hilirisasi yang sedang dijalankan, sehingga pelemahan di sektor ini tidak semata-mata dibaca sebagai turunnya daya saing.
“Jadi ini lebih merupakan konsekuensi kebijakan daripada sinyal melemahnya daya saing ekspor,” ujar Yusuf. Pernyataan itu menegaskan bahwa sebagian tekanan ekspor muncul dari perubahan struktur kebijakan, bukan hanya karena permintaan global yang melemah.
Harga emas dan permintaan China ikut membatasi laju ekspor
Untuk kelompok logam mulia serta perhiasan dan permata, Yusuf melihat koreksi dipengaruhi normalisasi harga emas. Tahun lalu, reli harga emas disebut sangat tinggi sehingga basis perbandingan menjadi kurang menguntungkan pada periode sekarang.
Sementara itu, ekspor besi dan baja masih terdampak oleh kondisi China yang belum pulih sepenuhnya. Sektor properti dan konstruksi di negara tersebut masih lemah, sehingga permintaan terhadap produk baja ikut tertahan.
Tekanan pada Mei 2026 juga datang setelah ekspor non-migas sempat mencatat pertumbuhan kuat pada April 2026. Pada bulan itu, nilai ekspor RI mencapai US$25,30 miliar atau tumbuh 21,98 persen.
Tarif Amerika Serikat memberi tekanan tambahan
Yusuf turut menyoroti tarif resiprokal Amerika Serikat sebesar 19 persen yang mulai memberi tekanan tambahan terhadap ekspor Indonesia. Namun, dampaknya sejauh ini disebut lebih terasa pada industri tekstil, alas kaki, dan elektronik.
Dengan demikian, tarif tersebut belum dipandang sebagai penyebab utama pelemahan ekspor non-migas pada Mei 2026. Tekanan terbesar masih berasal dari komoditas tertentu yang memang sedang terkoreksi cukup dalam.
Di tengah pelemahan bulanan itu, gambaran jangka menengah masih menunjukkan ketahanan. Sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor non-migas masih tumbuh 3,89 persen menjadi US$110,19 miliar, sehingga pelemahan pada Mei lebih tepat dibaca sebagai tekanan yang terkonsentrasi, bukan penurunan yang meluas.
