Tekanan MSCI Tak Sedalam Perkiraan, IHSG Masih Bertahan Tipis Di 6.127

Author: Redaksi Android62

Penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, membawa IHSG kembali ke zona merah setelah terkoreksi tipis 0,05 persen ke level 6.127,38. Pergerakan ini muncul saat pasar mulai menyesuaikan portofolio terhadap berlakunya rebalancing indeks MSCI setelah penutupan perdagangan hari itu.

Meski ada tekanan jual, pelemahannya tidak sedalam yang dikhawatirkan banyak pelaku pasar. Sejumlah saham yang terdampak masih mampu bertahan di zona hijau, sehingga koreksi indeks tetap relatif terbatas.

Sebelum melemah di akhir sesi, IHSG sempat bergerak lebih tinggi dan menyentuh 6.230 pada perdagangan intraday. Namun, aksi jual yang muncul kemudian membuat indeks kehilangan sebagian penguatannya menjelang penutupan.

Menurut riset Phintraco Sekuritas, keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI tidak menekan pasar seberat perkiraan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar sudah lebih dulu membaca arah penyesuaian sebelum rebalancing resmi berlaku.

Sentimen luar negeri memberi penopang terbatas

Dari pasar global, bursa saham Asia mayoritas ditutup menguat dan ikut membantu menjaga sentimen regional. Penguatan itu mengikuti reli saham teknologi di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Walau begitu, ruang penguatan tetap dibatasi oleh risiko global yang belum sepenuhnya reda. Salah satu perhatian utama adalah meningkatnya kembali ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Di sisi lain, pelemahan harga minyak mentah dunia sempat memberi sedikit bantuan bagi sentimen pasar. Faktor ini membantu meredam sebagian kekhawatiran investor di tengah kondisi global yang masih rentan berubah.

Rupiah ikut menambah tekanan

Tekanan di pasar saham domestik juga datang dari pergerakan rupiah yang kembali melemah. Pada penutupan perdagangan pasar spot Jumat (29/5), rupiah berada di Rp17.881 per dolar Amerika Serikat.

Posisi itu menjadi salah satu level terendah yang pernah dicapai mata uang Garuda. Pelemahan rupiah ikut menambah beban bagi IHSG saat pasar sedang menghadapi penyesuaian portofolio akibat MSCI.

Sektor kesehatan paling lemah, infrastruktur menopang

Secara sektoral, saham kesehatan menjadi penekan utama perdagangan hari itu. Sektor tersebut turun 1,49 persen dan menjadi yang terburuk di antara kelompok saham lain.

Sebaliknya, sektor infrastruktur tampil sebagai penopang terbesar dengan kenaikan 2,89 persen. Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan tekanan pasar tidak merata dan masih ada sektor yang mampu menjaga indeks.

Transaksi tetap tinggi meski pasar bergejolak

Aktivitas perdagangan masih ramai di tengah volatilitas yang terjadi. Volume transaksi tercatat 44,11 juta saham dengan nilai Rp 50,12 triliun, sedangkan frekuensi perdagangan mencapai 2,34 juta kali.

Pada akhir perdagangan, 284 saham menguat, 430 saham melemah, dan 245 saham stagnan. Saham yang mencatat kenaikan terbesar adalah KJEN, BREN, RATU, PTRO, dan BRPT, sementara daftar penurunan terdalam diisi APIC, ASPR, FILM, TALF, dan MGNA.

Sinyal teknikal mulai membaik

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas menilai sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan. Stochastic RSI bergerak reversal menuju area pivot, sementara histogram negatif MACD terus menyempit.

Dengan kondisi teknikal yang membaik tetapi sentimen pasar masih bercampur, IHSG diperkirakan bergerak terbatas pada pekan depan. Arah indeks masih akan banyak dipengaruhi respons investor terhadap efek MSCI, pergerakan rupiah, dan perkembangan sentimen global yang belum sepenuhnya stabil.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru