Tekanan terhadap rupiah belum mereda dan pada pukul 09:05 WIB sempat menyentuh Rp17.366 per dolar AS. Posisi itu membuat mata uang Garuda kembali menjadi sorotan pasar karena bergerak ke level terlemah sepanjang masa.
Pelemahan tersebut muncul saat pasar justru melihat indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia turun tipis 0,11 persen ke 98,85. Kondisi ini menunjukkan tekanan pada rupiah tidak hanya datang dari penguatan dolar global, tetapi juga dari sentimen lain yang sedang membebani pasar.
Harga minyak ikut menambah kekhawatiran
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu pemicu yang memperberat sentimen terhadap rupiah. Bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara pengimpor minyak bersih, kondisi itu memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi.
Pasar menilai biaya impor energi berpotensi meningkat jika harga minyak terus bertahan tinggi. Dalam situasi seperti ini, beban tambahan bisa terasa pada stabilitas nilai tukar karena kebutuhan valuta asing untuk impor energi ikut mendapat perhatian lebih besar.
Pelemahan rupiah paling dalam di kawasan Asia
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau campuran, tetapi rupiah menjadi yang paling tertekan. Ringgit Malaysia dan baht Thailand juga ikut melemah, namun penurunannya tidak sedalam rupiah.
Sebaliknya, beberapa mata uang lain justru bergerak lebih kuat. Won Korea Selatan, yen Jepang, dan yuan tercatat membaik di tengah gejolak pasar yang masih dipengaruhi faktor eksternal.
The Fed masih menjadi perhatian pasar
Pakar strategi makro dan pendapatan tetap Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, menilai rupiah masih rentan bergerak melemah selama perdagangan. Ia memperkirakan kurs berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS.
Menurut Lionel, pasar masih dibayangi ketidakjelasan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Ia menyebut Gubernur Jerome Powell berupaya menjaga forward guidance agar tetap terlihat dovish, tetapi ketidakpastian arah kebijakan membuat investor cenderung berhati-hati.
Sikap hati-hati itu membuat arus sentimen global belum sepenuhnya mendukung rupiah. Pelaku pasar cenderung mengurangi risiko dan memilih aset yang dianggap lebih aman, sehingga tekanan pada mata uang emerging market ikut terasa.
Geopolitik dan isu fiskal masih membayangi
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai dinamika geopolitik masih menjadi penentu utama batas pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Selama tensi global belum mereda, pasar diperkirakan tetap bergejolak.
Josua melihat area Rp17.300–Rp17.500 per dolar AS dapat menjadi rentang perdagangan jangka pendek jika tekanan geopolitik masih tinggi. Ia juga menilai ada peluang rupiah menguat bila sejumlah faktor bergerak membaik secara bersamaan.
Syarat itu mencakup turunnya harga minyak dunia, membaiknya arus modal masuk, serta langkah nyata Bank Indonesia dan pemerintah untuk meredam kekhawatiran terhadap isu fiskal. Jika kondisi tersebut mendukung, rupiah disebut masih berpeluang kembali di bawah Rp17.200 per dolar AS.
Dalam skenario yang lebih baik, Josua bahkan menyebut rupiah bisa bergerak bertahap menuju kisaran Rp16.800–Rp17.100 per dolar AS. Namun, peluang itu masih sangat bergantung pada perbaikan kondisi eksternal dan domestik yang saat ini belum terlihat stabil.
Kurs bank nasional juga ikut tertekan
Tekanan di pasar valas tidak hanya terlihat pada perdagangan spot, tetapi juga tercermin di kurs bank nasional. Sejumlah bank besar memasang kurs jual di atas Rp17.300 per dolar AS, menandakan tekanan juga dirasakan oleh transaksi yang diakses masyarakat dan pelaku usaha.
Bank Mandiri mencatat kurs online Rp17.290 dan kurs fisik Rp17.370 per dolar AS. BNI dan BCA sama-sama menampilkan kurs online Rp17.385, sementara kurs fisik berada di Rp17.370 pada BNI dan Rp17.465 pada BCA.
CIMB Niaga juga mencatat kurs fisik Rp17.339 per dolar AS, meski data transaksi online tidak tercantum. Perbedaan angka antara kurs online dan fisik di sejumlah bank menunjukkan tekanan rupiah masih terasa luas di pasar domestik.
Pasar keuangan domestik kemudian bersiap memasuki jeda perdagangan karena tutup pada hari Jumat untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Sesi Kamis pun menjadi penutup pekan yang masih diwarnai kekhawatiran terhadap harga minyak, geopolitik, arah The Fed, dan sentimen fiskal dalam negeri.







