Persaingan di pasar mobil listrik China membuat produsen otomotif global tak lagi bisa mengandalkan nama besar saja. Untuk tetap relevan, sejumlah merek asing kini justru mengadopsi teknologi buatan perusahaan China, terutama di bidang perangkat lunak, bantuan berkendara, dan fitur digital di dalam kabin.
Perubahan ini terlihat jelas dari langkah berbagai pabrikan seperti Cadillac, Hyundai, dan Volkswagen. Mereka tidak sekadar menjual model baru, tetapi juga menyesuaikan isi kendaraan agar sesuai dengan selera konsumen China yang menuntut pengalaman berkendara lebih canggih dan terhubung.
Teknologi lokal jadi penentu daya saing
Permintaan konsumen di China telah berubah cepat. Pembeli mobil listrik di negara itu kini banyak menilai mobil dari fitur bantuan pengemudi, sistem suara pintar, dan antarmuka digital yang terasa natural saat digunakan.
Kondisi tersebut membuat teknologi lokal menjadi salah satu syarat penting untuk bertahan. Di pameran otomotif Beijing, sejumlah merek dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jerman memperlihatkan model baru dengan perangkat lunak lokal, bukan hanya desain global dan logo merek yang kuat.
Cadillac menjadi salah satu contoh paling menonjol dari pergeseran itu. Merek asal Amerika Serikat tersebut meluncurkan SUV listrik VISTIQ dengan teknologi bantuan pengemudi hasil kerja sama bersama startup lokal Momenta.
Sistem itu mendukung navigasi di jalan tol dan parkir otomatis. Dua fungsi tersebut disebut semakin penting bagi pembeli mobil listrik di China karena langsung berkaitan dengan kemudahan penggunaan sehari-hari.
Will Stacy, Vice President Cadillac China di General Motors, menegaskan ambisi perusahaan untuk memperkuat kembali posisinya. Ia mengatakan, “Kami memiliki rencana untuk membangun kembali merek ini dan kembali ke posisi kami sebelumnya dari sisi volume dan pangsa pasar.”
Cadillac juga melihat produksi lokal sebagai keuntungan besar. Perusahaan menilai pendekatan itu bisa memangkas waktu manufaktur hingga 18 bulan, sebuah efisiensi yang bernilai penting di tengah persaingan kendaraan listrik yang sangat ketat.
Hyundai dan Volkswagen ikut menyesuaikan arah
Hyundai Motor Company juga bergerak dengan pendekatan yang serupa melalui lini listrik IONIQ. Perusahaan asal Korea Selatan itu menghadapi penurunan kontribusi penjualan dari China, dari 17 persen menjadi hanya 4 persen.
Sebagai respons, Hyundai membekali IONIQ V dengan chipset Qualcomm Snapdragon 8295 dan kontrol suara berbasis kecerdasan buatan. CEO Hyundai, Jose Munoz, menyebut China sebagai pusat pengembangan mobilitas masa depan dan menegaskan keinginan perusahaan untuk ikut membentuknya “di China, untuk China, dan pada akhirnya untuk dunia”.
Volkswagen pun mengambil jalur adaptasi yang tidak kalah agresif. Pabrikan asal Jerman itu menggandeng Tencent, Alibaba, dan Baidu untuk mengembangkan sistem perintah suara.
Asisten digital tersebut dijadwalkan mulai diterapkan di China pada paruh kedua tahun ini. Thomas Ulbrich, CTO Volkswagen China, menggambarkan arah pengembangan mobil modern dengan kalimat singkat: “Mobil seharusnya menjadi seperti teman.”
Volkswagen tidak berhenti pada perangkat lunak. Perusahaan juga meluncurkan ID. UNYX 09 yang dikembangkan bersama produsen lokal Xpeng, yang menunjukkan bahwa kerja sama dengan pemain China kini sudah masuk ke strategi inti, bukan sekadar pelengkap.
Tekanan pasar membuat langkah adaptasi makin cepat
Dorongan untuk berubah datang dari pasar yang bergerak sangat cepat. Di China, pasar kendaraan listrik disebut bisa melahirkan 10 hingga 15 model baru setiap bulan, sehingga ruang untuk bertahan menjadi semakin sempit bagi merek yang lambat menyesuaikan produk.
Dalam situasi seperti itu, pengamat AlixPartners, Stephen Dyer, menilai adopsi teknologi lokal sebagai langkah realistis. Ia memandang pendekatan tersebut bukan hanya kompromi, melainkan pengakuan bahwa teknologi China sudah terbukti efektif memenuhi kebutuhan pengendara modern.
Dyer juga memperkirakan solusi digital dari perusahaan China berpeluang menyebar ke lebih banyak pasar. Alasannya, manfaat teknologi itu dinilai semakin dibutuhkan konsumen di berbagai negara.
Tidak semua produsen asing bisa mempertahankan performa bisnisnya di China. Nissan mencatat penjualan di China turun 47 persen pada Maret 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2019, sementara Cadillac juga mengalami penurunan 39 persen.
Sementara itu, Nissan menyiapkan lima kendaraan energi baru berbasis plug-in dalam satu tahun ke depan. Presiden dan CEO Nissan, Ivan Espinosa, menekankan pentingnya fondasi bisnis yang kuat di pasar yang berubah cepat, termasuk jaringan dealer, pengalaman, dan layanan yang baik.
Dominasi pemain China makin sulit diabaikan
Di tengah manuver produsen global, pemain China terus memperkuat posisinya. BYD mencatat penjualan 2,26 juta kendaraan listrik secara global tahun lalu, melampaui Tesla yang membukukan 1,64 juta unit.
Angka itu menegaskan bahwa persaingan di China tidak lagi hanya soal merebut perhatian konsumen lokal. Produsen global kini juga harus menghadapi kekuatan teknologi dan produk dari perusahaan China yang bergerak cepat, agresif, dan kian menentukan arah pasar otomotif dunia.
Karena itu, kerja sama dengan perusahaan teknologi lokal, penggunaan chipset China, hingga pengembangan sistem bantuan pengemudi menjadi makin penting bagi merek asing. Di pasar mobil listrik terbesar dunia, adaptasi kini tampak lebih menentukan daripada sekadar reputasi global yang selama ini menjadi andalan.







