Telegram Diblokir Jelang NEET, Mengapa WhatsApp Tetap Aman di India?

Author: Redaksi Android62

Pemerintah India memblokir Telegram atas rekomendasi National Testing Agency atau NTA setelah platform itu dipakai untuk menjual soal ujian palsu dan menyebarkan misinformasi menjelang ulang NEET. Langkah ini menyorot satu hal penting, yakni tidak semua aplikasi chat diperlakukan sama ketika risiko penyalahgunaannya dinilai terlalu besar.

Dalam kasus ini, NTA menyebut kanal seperti “PAPER LEAKED NEET”, “Re-NEET 2026”, dan “Private Mafia” secara terbuka menawarkan akses ke soal ujian. Para pengelolanya diduga meminta bayaran hingga lakhs of rupees dengan janji dokumen asli, meski isi yang dibagikan belum tentu benar.

Telegram dianggap lebih rentan untuk penyebaran konten semacam ini

Telegram memberi ruang lebih besar bagi identitas anonim karena pengguna bisa menyembunyikan nomor telepon dan cukup memakai username. Setelah akun dibuat, kanal dapat dibuka dengan jumlah pelanggan tak terbatas, sehingga satu akun bisa menjangkau audiens sangat besar tanpa mudah terlacak.

Fitur ini menjadi salah satu alasan Telegram sering dikaitkan dengan penyalahgunaan, bukan hanya untuk penipuan ujian. Studi yang dipresentasikan di USENIX Security Symposium tahun lalu mencatat 339 kanal aktivitas siber kriminal di Telegram diikuti lebih dari 23,8 juta pengguna secara kolektif.

Masalah lain ada pada kemampuan berbagi file besar. Telegram memungkinkan pengiriman file hingga 2GB tanpa kompresi, sehingga sering dipakai untuk distribusi dokumen berukuran besar, termasuk film dan serial.

Dalam kasus NEET, kemampuan itu dianggap memudahkan distribusi file yang diklaim sebagai soal bocor. Bahkan saat isinya palsu, bentuk penyajiannya bisa terlihat meyakinkan bagi calon pembeli yang sedang mencari jalan pintas.

NTA juga menyoroti fitur edit pesan di Telegram. Menurut lembaga itu, admin kanal dapat mengubah pesan lama dan, dalam beberapa kasus, mengganti isi pesan dengan file PDF untuk memberi kesan seolah bukti kebocoran sudah muncul lebih awal.

Fitur tersebut tetap mempertahankan stempel waktu asli, sehingga pesan yang diubah belakangan masih tampak seperti unggahan lama. India kemudian menonaktifkan fitur edit itu hingga 30 Juni karena dinilai rawan dipakai untuk memalsukan kronologi informasi.

Mengapa WhatsApp tidak ikut diblokir

WhatsApp juga memiliki grup dan fitur edit pesan, tetapi kemampuannya lebih dibatasi. Dalam penjelasan yang beredar, fitur edit di WhatsApp hanya berlaku dalam periode tertentu dan tidak memungkinkan penambahan file ketika pesan diedit.

Perbedaan lain terletak pada pengawasan platform. WhatsApp yang dimiliki Meta disebut menggunakan berbagai alat berbasis AI untuk memantau pola penggunaan dan perilaku pengguna, terutama di ruang publik.

Meta menyatakan isi percakapan privat tidak bisa dibaca, tetapi pola aktivitas di grup publik tetap dapat dipantau untuk mendeteksi penyalahgunaan. Pendekatan ini membuat WhatsApp dipandang lebih aktif dalam penegakan aturan di platformnya.

Telegram, di sisi lain, lama dipersepsikan sebagai ruang yang lebih longgar bagi aktivitas abu-abu karena pengawasannya dinilai lebih lemah atau lebih lambat. Citra itu berkaitan dengan sikap pendirinya, Pavel Durov, yang sejak awal membangun platform yang tidak mudah bekerja sama dengan pemerintah seperti raksasa teknologi lain.

Telegram menolak anggapan bahwa moderasinya pasif. Dalam pernyataannya, platform itu menyebut moderator dengan alat AI khusus secara proaktif memantau bagian publik dan menerima laporan untuk menghapus jutaan konten berbahaya setiap hari.

Telegram juga menyatakan standar moderasinya setara atau bahkan melampaui standar industri. CEO Telegram Pavel Durov telah merespons pemblokiran tersebut, sementara data dari Check Point menunjukkan platform itu memperbesar penindakan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Check Point, pada 2025 Telegram memblokir lebih dari 43,5 juta kanal dan grup. Pada 2026, aktivitas penindakan harian dilaporkan naik dari sekitar 10.000-30.000 menjadi stabil di kisaran 80.000-140.000.

Meski demikian, otoritas India tampaknya menilai peningkatan itu belum cukup cepat untuk menahan penyebaran penawaran soal palsu dan misinformasi menjelang ujian ulang NEET pada 21 Juni. Karena itu, dua aplikasi yang sama-sama dipakai untuk berkirim pesan ini justru diperlakukan berbeda ketika ancaman penyalahgunaannya dinilai tak lagi bisa ditoleransi.

Source: www.indiatoday.in
Berita Terbaru