Persiapan Mesir menghadapi paceklik dalam serial Nabi Yusuf tidak hanya bertumpu pada panen melimpah. Yuzarsif menerapkan pajak 20 persen bagi petani dan pengrajin, lalu menjadikannya dasar hak warga untuk memperoleh gandum ketika masa sulit datang.
Setiap pembayaran pajak disertai tanda terima resmi yang menyatakan nilai hak pemiliknya atas persediaan pangan. Sistem itu dirancang agar pembagian gandum saat paceklik memiliki catatan administrasi yang jelas dan tidak semata bergantung pada keadaan saat itu.
Kebijakan tersebut berjalan ketika ramalan tujuh tahun kemakmuran mulai menunjukkan tanda nyata. Hujan turun tepat pada awal musim tanam, lalu panen besar memperkuat keyakinan sebagian warga terhadap peringatan Yuzarsif tentang masa kering yang akan menyusul.
Yuzarsif menilai kelimpahan hasil bumi justru menjadi masa paling penting untuk membangun cadangan. Ia mengingatkan bahwa ketika kemarau tiba, hujan tidak turun dan benih tidak dapat tumbuh, sehingga gandum simpanan akan menentukan ketahanan rakyat.
Tujuh Silo sebagai Cadangan Pangan
Untuk menampung hasil panen, Yuzarsif membangun tujuh silo raksasa di Thebes atau Tips, ibu kota Mesir. Fasilitas itu dipersiapkan bagi penduduk setempat sekaligus pendatang yang memerlukan pangan pada masa kekeringan.
Rancangan silo dibuat untuk mengurangi risiko kerusakan gandum akibat kelembapan dan cuaca. MediaIndonesia.com melaporkan bahwa penyimpanan turut mempertahankan tangkai gandum, yang juga dapat diolah menjadi sekam untuk pakan ternak.
| Bagian Silo | Fungsi |
|---|---|
| Ruang bawah tanah dari batu | Melindungi gandum dari kelembapan tanah |
| Atap tertutup rapat | Mencegah air hujan merusak persediaan |
| Tingkap bagian atas | Menjadi jalur memasukkan gandum |
| Tingkap bagian bawah | Memudahkan pemindahan gandum saat distribusi |
Yuzarsif menganjurkan gandum disimpan bersama tangkainya agar lebih tahan lama. Cara itu menjadi inti strategi Tujuh Tahun Kemakmuran, ketika hasil bumi tidak boleh habis tanpa perencanaan jangka panjang.
Ia juga turun langsung ke kawasan pertanian untuk memastikan proses penyimpanan berjalan sesuai rencana. Para gubernur diperintahkan memperluas pengairan melalui pembangunan kanal dan bendungan yang bersumber dari Sungai Nil.
Peninjauan bahkan dilakukan hingga Memphis untuk memastikan penaburan benih berlangsung maksimal sebelum masa makmur berakhir. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan pangan mencakup produksi, penyimpanan, hingga penyaluran persediaan.
Penolakan dari Kuil Amon
Program penyimpanan pangan menghadapi penentangan dari para imam kuil Amon. Mereka berupaya membujuk warga agar tidak menyerahkan panen ke silo gandum Mesir dan diduga merencanakan penimbunan secara ilegal.
Para penentang meragukan ramalan paceklik serta menganggap penyimpanan tangkai gandum tidak berguna. Yuzarsif kemudian menegaskan bahwa bantuan pangan pemerintah hanya diberikan kepada warga yang menitipkan hasil panennya di silo.
Peringatan itu diarahkan kepada petani yang memilih menyimpan gandum sendiri. Jika persediaan pribadi rusak, mereka tidak akan memperoleh gandum pemerintah selama paceklik berlangsung.
Kepercayaan warga menjadi unsur penting dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Seorang warga dalam alur serial mengatakan, “Yuzarsif adalah pria jujur. Aku percaya penuh kepadanya,” ketika menyerahkan gandumnya.
Tekanan di Tengah Program Pangan
Di tengah penguatan cadangan pangan, Yuzarsif juga menghadapi serangan di lingkungan istana. Serangan itu diduga dilakukan pihak yang merasa terancam oleh pengaruhnya terhadap Raja Akhenaten, meski ia hanya mengalami luka ringan.
Di sisi lain, Yuzarsif merindukan Kanaan dan ayahnya, Nabi Yakub, tetapi merasa belum mendapat petunjuk untuk kembali. Keluarganya di Kanaan juga sedang berduka setelah Zilpa dan Bilha wafat berturut-turut.
Situasi istana turut berubah ketika Zulaikha membubarkan penjaga dan memberhentikan pekerja di peninggalan Potifar, kecuali Rodomon. Ia menutup kuil di dalam istana serta mengusir para imam karena tidak lagi mampu membiayai mereka.
Source: mediaindonesia.com






