Duel Joe Taslim dan Yayan Ruhian di The Furious, Pencarian Putri Hilang Berubah Menjadi Aksi Brutal

The Furious menempatkan pencarian keluarga sebagai pusat cerita, lalu mengubahnya menjadi rangkaian konfrontasi yang keras dan intens. Film ini mempertemukan Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam satu proyek laga internasional yang langsung menarik perhatian penggemar genre aksi.

Kisahnya berfokus pada Wang Wei, seorang ayah yang hidupnya porak-poranda setelah putrinya, Rainy, diculik oleh sindikat perdagangan anak. Situasi makin rumit karena pihak berwenang yang semestinya turun tangan justru disebut terjebak korupsi dan memilih diam.

Dalam kondisi itu, Wang Wei bergerak sendiri untuk mencari putrinya. Perjalanan tersebut lalu mempertemukannya dengan Navin, jurnalis yang diperankan Joe Taslim, yang juga sedang mencari istrinya yang hilang tanpa jejak.

Konfrontasi yang Mengandalkan Emosi dan Adu Bela Diri

Pertemuan dua tokoh itu mendorong cerita ke arah benturan yang semakin panas. Unsur dendam, harapan, dan upaya menyelamatkan orang terdekat bergerak bersama hingga bermuara pada pertarungan bela diri yang menjadi daya tarik utama film ini.

Keberadaan Joe Taslim dan Yayan Ruhian menjadi sorotan tersendiri karena keduanya memiliki reputasi kuat di film laga. Duel mereka di layar dipandang sebagai salah satu momen yang paling dinantikan oleh penonton yang mengikuti sinema aksi Asia.

Kehadiran dua aktor asal Indonesia itu juga memberi identitas kuat pada film ini di tengah jajaran pemain dari berbagai negara Asia. The Furious tidak hanya menonjolkan aksi fisik, tetapi juga mengusung pertemuan para bintang laga dengan karakter yang berbeda.

Kenji Tanigaki Mengarahkan Aksi Praktis

Sutradara Kenji Tanigaki memimpin proyek ini dengan rekam jejak yang sudah dikenal di dunia film aksi Asia. Namanya terkait dengan seri live-action Rurouni Kenshin yang dipuji karena koreografi pertarungannya.

Tanigaki dikenal merancang adegan laga yang cepat, dinamis, dan tetap membawa bobot emosi. Ia juga kerap memadukan teknik bela diri dari berbagai negara Asia dan mendorong para pemain melakukan sebanyak mungkin adegan berisiko tinggi secara langsung agar hasilnya terasa lebih autentik.

Pendekatan tersebut membuat The Furious diposisikan sebagai film yang mengandalkan aksi praktis sekaligus drama personal. Dalam kerangka itu, setiap pertarungan tidak berdiri sendiri, melainkan ikut membangun tekanan cerita.

Respons Awal yang Menguatkan Reputasi Film

Setelah tayang di program Midnight Madness pada Toronto International Film Festival, film ini langsung mendapat perhatian dari penonton festival dan pengamat film. Program tersebut memang dikenal sebagai panggung untuk film aksi, thriller, horor, dan sci-fi.

Respons awal The Furious juga terbilang kuat karena film ini mencatat rating 100 persen di Rotten Tomatoes. Capaian itu memperkuat posisinya sebagai film laga yang layak diikuti, terutama bagi penonton yang menaruh perhatian pada produksi aksi Asia lintas negara.

Di balik layar, proyek ini didukung produser Frank Hui, Bill Kong, dan Shan Tam. Tim penulisnya terdiri dari Frank Hui, Zhilong Lei, Tin Shu Mak, dan Kwan-Sin Shum, yang bersama-sama membangun film ini sebagai produksi aksi berskala internasional.

Dengan perpaduan penculikan anak, pencarian orang hilang, konflik korupsi, dan duel para aktor laga Asia, The Furious hadir sebagai film yang menyatukan emosi dan adrenalin dalam satu paket. Film ini dijadwalkan hadir di layar lebar Indonesia pada 17 Juni 2026.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait