Lulus Paket C, Tiyo Ardianto Kini Memimpin BEM UGM di Tengah Tekanan

Tiyo Ardianto kini menjadi salah satu nama mahasiswa yang paling menonjol di ruang publik kampus karena sikapnya yang lantang mengkritik kebijakan dan program pemerintah. Sebagai Ketua BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada periode 2025-2026, ia memegang posisi strategis di tengah sorotan yang tidak selalu ringan.

Di berbagai forum mahasiswa, seminar, dan diskusi, Tiyo tetap aktif menyampaikan pandangan meski ia mengaku menghadapi tekanan dan ancaman. Sikap itu membuat kehadirannya tidak sekadar dikenal sebagai pimpinan organisasi, tetapi juga sebagai figur yang konsisten berbicara di ruang publik.

Jalur pendidikan yang berbeda

Perjalanan Tiyo menarik perhatian karena ia tidak menempuh jalur sekolah menengah formal sebelum masuk UGM. Ia menempuh pendidikan nonformal di PKBM Omah Dongeng Marwah, Kudus, dan meraih ijazah Paket C.

Dalam unggahan Instagram, Tiyo pernah menulis bahwa keputusan memilih pendidikan alternatif diambil setelah pertimbangan panjang. Ia juga menyebut stigma terhadap lulusan kejar paket C sebagai tekanan tersendiri, tetapi keputusan itu tetap ia jalani.

Latar belakang tersebut kemudian menjadi bagian penting dari kisahnya. Pengalaman belajar di lingkungan alternatif atau sekolah alam disebut membentuk karakter Tiyo yang mandiri, kritis, dan berani menyampaikan pendapat tentang persoalan sosial.

Aktif memimpin dan bersuara

Di UGM, Tiyo memimpin BEM KM UGM dan dikenal vokal dalam menyuarakan isu sosial, pendidikan, serta kebijakan publik. Aktivitasnya membuat namanya semakin luas dikenal, terutama saat ia terus hadir dalam berbagai forum untuk menyampaikan kritik secara terbuka.

Sikap konsisten itu menjadi bagian dari citra publiknya di lingkungan kampus. Ia tampil sebagai ketua organisasi mahasiswa yang tidak ragu mempertahankan pandangan, meski situasi di sekelilingnya kerap tidak nyaman.

Sastra, puisi, dan prestasi akademik

Di luar aktivitas organisasi, Tiyo juga memiliki jejak kuat di dunia sastra dan kepenulisan. Ia merupakan mahasiswa jurusan Filsafat yang dikenal berprestasi, sekaligus penyair yang aktif sebagai penulis, pembaca puisi, dan fasilitator.

Sejumlah prestasi pernah ia raih, termasuk Juara 1 Nasional Lomba Baca Puisi Inspiratif Penegak Kelangga, Juara 2 Nasional Monolog Bahasa Jawa UNNES, serta keikutsertaan sebagai penyair termuda dalam Pertemuan Penyair Nusantara XI.

Jejak kreatifnya juga terlihat melalui karya dalam buku antologi berjudul Sesapa Mesra Selinting Cinta terbitan BBJT pada 2019. Hal itu memperlihatkan bahwa minat Tiyo tidak berhenti pada organisasi mahasiswa, tetapi juga berkembang dalam ruang literasi dan ekspresi seni.

Figur Paket C yang menembus UGM

Kisah Tiyo kerap dipandang sebagai contoh mahasiswa yang menempuh jalan berbeda untuk sampai ke pendidikan tinggi. Dari jalur Paket C, ia berhasil masuk UGM, lalu aktif berprestasi sekaligus memimpin organisasi kemahasiswaan terbesar di kampusnya.

Perjalanannya menunjukkan kombinasi antara latar pendidikan alternatif, keberanian bersuara, dan kiprah di bidang seni. Di tengah sorotan publik yang terus mengarah kepadanya, Tiyo tetap muncul sebagai figur mahasiswa yang memilih vokal dalam isu sosial dan kebijakan, sembari membawa pengalaman hidup yang tidak biasa ke panggung kampus nasional.

Source: www.beautynesia.id

Berita Terkait