Pengendara yang biasa mengisi Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex perlu menyiapkan anggaran lebih besar saat mampir ke SPBU Pertamina. Tiga jenis BBM non-subsidi itu mengalami penyesuaian harga dan kini berada di level yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Di DKI Jakarta, Pertamax Turbo dipatok Rp19.400 per liter, Dexlite menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex naik ke Rp23.900 per liter. Perubahan ini ikut memengaruhi perhitungan biaya isi tangki, terutama bagi pengguna kendaraan yang rutin mengandalkan BBM diesel modern maupun bensin berperforma tinggi.
Harga yang tetap tidak bergerak
Di tengah penyesuaian tersebut, Pertamina masih mempertahankan sejumlah harga BBM lain. Pertamax RON 92 tetap dijual Rp12.300 per liter, sedangkan Pertamax Green masih berada di Rp12.900 per liter.
Untuk BBM subsidi, Pertalite belum berubah di Rp10.000 per liter dan Biosolar juga masih Rp6.800 per liter. Kondisi ini membuat perbedaan biaya penggunaan BBM antarkategori makin terasa bagi konsumen.
Besaran kenaikan yang paling menonjol
Kenaikan paling mencolok terlihat pada Pertamax Turbo. Produk ini sebelumnya tercatat Rp13.100 per liter pada 1 April 2026, lalu naik menjadi Rp19.400 per liter di DKI Jakarta.
Dexlite juga mengalami lonjakan harga yang signifikan. Dari harga sebelumnya Rp14.200 per liter, kini produk tersebut berada di level Rp23.600 per liter.
Pertamina Dex mengikuti penyesuaian serupa. Harga yang sebelumnya Rp14.500 per liter kini tercatat Rp23.900 per liter, sehingga pengguna kendaraan diesel yang memilih produk ini perlu menghitung ulang kebutuhan pengisian bahan bakar.
Penyesuaian mengikuti formula harga dasar
Pertamina menjelaskan bahwa perubahan harga BBM umum mengikuti formula harga dasar. Formula ini menjadi acuan dalam menghitung harga jual eceran BBM umum jenis bensin dan minyak solar yang disalurkan melalui SPBU.
Kebijakan tersebut merujuk pada Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020. Dengan dasar aturan itu, harga BBM non-subsidi memang dapat bergerak mengikuti komponen yang relevan dalam mekanisme penetapan harga.
Dampaknya terasa langsung di kantong pengguna
Bagi pengendara dengan mobilitas tinggi, kenaikan ini berpotensi menambah pengeluaran harian. Pengguna mobil bensin berperforma tinggi dan kendaraan diesel modern menjadi kelompok yang paling perlu memperhatikan perubahan harga tersebut.
Pertamina menyebut penyesuaian tidak hanya berlaku di DKI Jakarta, tetapi juga di sejumlah provinsi lain. Karena itu, harga di tiap wilayah bisa berbeda sesuai skema yang berlaku di masing-masing daerah.
Untuk memastikan harga terbaru sebelum mengisi BBM, konsumen dapat mengeceknya melalui aplikasi MyPertamina. Cara ini membantu perhitungan biaya menjadi lebih akurat, terutama bagi pengguna yang rutin membeli BBM non-subsidi dan perlu menyesuaikan pilihan bahan bakar dengan kebutuhan mesin.
Source: www.viva.co.id






