PT Tugu Reasuransi Indonesia atau Tugure menilai penempatan sebagian premi ke luar negeri bukan semata tanda lemahnya pasar domestik. Bagi perseroan, praktik itu justru bagian dari pengelolaan risiko yang sehat ketika berhadapan dengan eksposur besar, kompleks, dan berpotensi sistemis.
Perusahaan menyebut sekitar 35% premi reasuransi masih mengalir ke luar negeri. Namun, aliran tersebut dipandang lebih sebagai keputusan bisnis industri ketimbang hanya persoalan keterbatasan kapasitas modal di dalam negeri.
Tiga lini yang paling membutuhkan kapasitas luar negeri
Dalam penjelasannya, Tugure menyebut ada tiga lini bisnis yang masih paling bergantung pada reasuradur asing. Segmen itu adalah Marine & Aviation termasuk satelit, Property & Engineering untuk risiko besar dan katastrofe, serta Energy & Large Infrastructure.
Di tiga lini tersebut, kebutuhan perlindungan sering kali melibatkan nilai pertanggungan yang besar dan karakter risiko yang jauh lebih rumit. Karena itu, pasar luar negeri masih dipilih untuk menyediakan kapasitas yang lebih luas dan penanganan yang lebih sesuai dengan profil risikonya.
Dradjat Irwansyah, Direktur Keuangan Tugure, menjelaskan bahwa reasuransi domestik sebenarnya sudah mampu menahan sebagian besar risiko di segmen menengah hingga retail. Untuk risiko besar dan kompleks, ruang penempatan ke luar negeri masih penting agar portofolio tetap seimbang.
Mengapa premi masih banyak mengalir ke luar negeri
Tugure menilai ada dua alasan utama yang membuat penempatan reasuransi ke pasar global tetap terjadi. Pertama, reasuradur asing kerap menawarkan kapasitas yang lebih besar, pricing yang lebih kompetitif, dan diversifikasi risiko global, terutama di pasar softening saat ini.
Kedua, beberapa risiko large dan complex dinilai lebih efisien ditempatkan ke luar negeri agar keseimbangan portofolio domestik tetap terjaga. Dalam pandangan perusahaan, keputusan itu sejalan dengan prinsip spreading the risk yang menjadi fondasi industri asuransi dan reasuransi.
Retensi lokal perlu optimal, bukan sekadar maksimal
Tugure menegaskan keberhasilan reasuransi nasional tidak tepat diukur hanya dari besarnya risiko yang ditahan di dalam negeri. Yang lebih penting adalah komposisi retensi yang optimal supaya industri tetap sehat, efisien, dan tidak memaksakan penahanan risiko yang belum sepenuhnya ideal.
Karena itu, perseroan mendorong fokus pada optimalisasi retensi, bukan maksimalisasi retensi. Regulasi, menurut Tugure, perlu memberi ruang bagi kompetisi yang sehat dan pricing yang efisien agar kapasitas lokal dapat tumbuh secara alami melalui peningkatan daya saing pelaku domestik.
Dradjat juga menekankan pentingnya penguatan spesialisasi, kualitas data, analytics, governance, dan permodalan secara selektif. Perbaikan fundamental itu dinilai membantu industri menempatkan risiko secara lebih tepat sesuai karakter masing-masing lini bisnis.
Insentif dan kolaborasi untuk risiko besar
Selain penguatan internal, Tugure melihat regulasi berbasis insentif juga dibutuhkan. Skema seperti ini dapat mendorong penempatan domestik pada risiko yang wajar ditahan, tanpa menutup akses ke pasar global untuk diversifikasi dan pricing yang kompetitif.
Perseroan juga menilai perlu ada Public-Private Partnership untuk pengelolaan risiko besar, termasuk energi dan infrastruktur. Kolaborasi yang lebih erat diyakini bisa membuat risiko besar dikelola lebih efisien tanpa meninggalkan prinsip spreading the risk.
Pandangan tersebut sejalan dengan komentar Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang sebelumnya menilai retensi reasuransi di Indonesia masih rendah. Tugure, pada saat yang sama, menegaskan bahwa arus premi ke luar negeri sebaiknya dibaca sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko, bukan sekadar kelemahan pasar domestik.
