Tiga Sampai Lima Tahun Pertama Paling Rentan, UMKM Perempuan Butuh Fondasi Keuangan yang Kuat

Author: Redaksi Android62

Bagi banyak pelaku usaha perempuan, persoalan terbesar bukan hanya bagaimana menaikkan penjualan, tetapi bagaimana menjaga bisnis tetap bertahan saat kondisi berubah. Karena itu, penekanan pada fondasi keuangan menjadi sorotan utama dalam forum Bincang Mapan 2026 yang digelar Prudential Indonesia.

Perhatian itu sejalan dengan besarnya peran perempuan dalam ekosistem usaha kecil di Indonesia. Data yang disorot Prudential Indonesia menunjukkan sekitar 64,5 persen pelaku UMKM berasal dari kalangan perempuan, sementara UMKM sendiri menyumbang 99 persen dari total unit usaha di tanah air.

Di tengah komposisi tersebut, kebutuhan akan strategi bisnis yang lebih matang dinilai semakin penting. Prudential Indonesia menekankan bahwa pertumbuhan usaha tidak cukup jika tidak dibarengi perlindungan finansial dan kesiapan menghadapi tekanan pasar.

Kegiatan Bincang Mapan 2026 diikuti sekitar 360 peserta, baik secara luring maupun daring. Lebih dari 80 persen di antaranya perempuan, yang menunjukkan besarnya minat pada isu pengelolaan bisnis, ekspansi, dan arus kas.

Chief Product Officer Prudential Indonesia, Astono Hermawan, menilai pemasaran dan distribusi memang penting, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Menurut dia, fondasi keuangan tetap menjadi pilar utama agar usaha bisa bertahan dalam jangka panjang.

Astono juga menyoroti bahwa tiga sampai lima tahun pertama merupakan fase paling rentan bagi sebuah bisnis. Pada periode itu, banyak usaha belum memiliki perencanaan keuangan yang rapi sehingga lebih mudah goyah ketika menghadapi dinamika pasar.

Situasi tersebut menjadi semakin relevan bagi banyak perempuan yang menjalankan peran ganda. Di satu sisi, mereka mengelola bisnis, sementara di sisi lain tetap memikul tanggung jawab lain yang membuat perencanaan menyeluruh menjadi semakin penting.

Pengalaman pelaku usaha yang hadir turut memperlihatkan bahwa keberanian memulai usaha harus diiringi kesiapan membaca risiko. Ariyanti, pengusaha kuliner, bercerita tentang perpindahannya dari bisnis fesyen pada 2015 dan bagaimana perubahan bidang usaha menuntut kesiapan mental yang kuat.

Dari sisi lain, Founder Maicih, Reza Nurhilman, menyoroti pentingnya nilai tambah produk agar mampu bertahan di pasar yang kompetitif. Ia menilai inovasi, seperti konsep level pedas yang diperkenalkan Maicih, menjadi pembeda yang kuat di tengah persaingan.

Reza juga mengingatkan agar pelaku usaha tidak terlalu agresif saat melakukan ekspansi. Kenaikan omzet memang menarik, tetapi tanpa modal yang siap, sistem yang memadai, dan tata kelola yang baik, pertumbuhan justru dapat mengganggu arus kas.

Menurut dia, pembangunan tim yang kompeten ikut menentukan apakah ekspansi bisa berjalan sehat atau tidak. Karena itu, keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas internal menjadi bagian penting dalam menjaga usaha tetap berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, Prudential Indonesia juga memperkenalkan Asuransi Jiwa PRUMapan sebagai salah satu bentuk perlindungan. Produk ini dirancang untuk memberi proteksi jiwa kepada pelaku usaha sebagai aset terpenting dalam bisnis mereka.

Selain proteksi, produk itu memiliki manfaat Dana Mapan yang dapat dicairkan saat peserta memasuki usia 55 hingga 75 tahun atau setelah 20 tahun masa kepesertaan. Dana tersebut diproyeksikan menjadi tambahan modal usaha atau cadangan finansial ketika aktivitas bisnis mulai melandai.

Berita Terbaru