Rupiah Terancam Menembus Rp19.000, Dolar Menguat Di Tengah Gejolak Timur Tengah dan Emas Tertekan

Author: Redaksi Android62

Rupiah kembali berada dalam posisi rawan karena dolar Amerika Serikat diperkirakan melanjutkan penguatan dalam sepekan ke depan. Jika tekanan itu berlanjut, pasar mata uang negara berkembang berpeluang bergerak lebih defensif dan emas ikut terkena imbasnya.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai arah pasar masih sangat ditentukan oleh gejolak geopolitik dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mencari aset aman sehingga dolar AS tetap menjadi pilihan utama.

Rupiah berpotensi bergerak lebih lebar

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.950 sampai Rp18.250 per dolar AS. Menurut dia, rentang itu menunjukkan tekanan yang belum mereda karena sentimen global masih berat.

Ia bahkan mengingatkan rupiah dapat terdorong ke Rp19.000 per dolar AS menjelang akhir Juni. Risiko itu menguat apabila ketegangan geopolitik dan spekulasi soal suku bunga The Fed belum juga mereda.

Dorongan ke arah aset aman membuat mata uang negara berkembang lebih rentan. Saat ketidakpastian meningkat, pasar biasanya lebih memilih dolar AS dibanding aset berisiko lainnya.

Ketegangan Timur Tengah jadi pemicu utama

Salah satu faktor yang menekan sentimen pasar datang dari Timur Tengah. Ibrahim menyoroti memanasnya kembali situasi di kawasan itu sebagai alasan dolar memperoleh dorongan penguatan.

Ia menyebut Amerika Serikat telah menyerang radar-radar Iran di Selat Hormuz, terutama di Pulau Qeshm dan Goruk. Di saat yang sama, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dinilai belum tentu bertahan lama.

Situasi itu masih diperburuk oleh serangan Israel yang terus berlangsung terhadap Libanon dan Jalur Gaza. Ibrahim menyebut Hizbullah di Libanon Selatan juga terus terdesak, sementara Israel disebut telah menguasai sekitar 35% wilayah Libanon Selatan.

Minyak ikut naik, pasar makin defensif

Ketika risiko geopolitik meningkat, harga minyak mentah juga berpeluang menguat. Ibrahim menilai penguatan minyak dan dolar AS dapat berjalan seiring karena pasar bereaksi terhadap ketidakpastian yang membesar di Timur Tengah.

Kondisi seperti itu biasanya membuat investor mengurangi aset berisiko. Dalam situasi defensif, dolar AS kerap mendapat aliran dana lebih besar, sementara rupiah berada pada sisi yang lebih lemah.

Kombinasi minyak yang naik dan dolar yang menguat turut menambah beban bagi pasar keuangan. Bagi pelaku pasar domestik, dua arah pergerakan itu sering menjadi tanda bahwa tekanan belum selesai.

Emas berada dalam tekanan

Penguatan indeks dolar juga diperkirakan menekan emas dunia. Ibrahim menjelaskan bahwa kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi ikut membuat emas kehilangan tenaga.

Ia menyebut, jika suku bunga tetap tinggi dan bahkan naik lagi sebesar 25 basis poin di kuartal keempat, dolar AS akan kembali kuat. “Ini yang membuat dolar kembali lagi mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap penurunan harga emas dunia,” ujarnya.

Tekanan pada emas dunia biasanya ikut terasa pada logam mulia di pasar domestik. Karena itu, arah dolar AS dalam waktu dekat akan sangat menentukan pergerakan emas dan instrumen sejenis.

Dengan rupiah yang masih dekat area Rp18.000 per dolar AS, pasar belum menemukan penyeimbang yang kuat. Selama risiko geopolitik dan ekspektasi suku bunga Amerika belum reda, volatilitas rupiah dan tekanan pada emas berpotensi tetap tinggi.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru