Tiga Ucapan Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Menekan Emosi, Menurut Ahli Sebaiknya Dihindari

Author: Redaksi Android62

Ucapan orang tua sering dianggap sepele, padahal beberapa kalimat justru bisa membuat anak belajar menahan emosi alih-alih memahami perasaannya. Psikoterapis Amy Morin menilai perkembangan mental anak perlu dijaga sama seriusnya dengan pertumbuhan fisik, terutama saat anak sedang cemas, sedih, atau frustrasi.

Dalam pengasuhan sehari-hari, tujuan utamanya bukan sekadar membuat anak diam atau berhenti menangis. Yang lebih penting adalah membantu mereka mengekspresikan diri dengan cara yang sehat dan belajar mengenali emosi yang sedang muncul.

Kalimat yang merendahkan tangisan

Salah satu ucapan yang kerap muncul saat anak menangis adalah, “Berhenti menangis.” Menurut Amy Morin, kalimat ini bukan pilihan yang tepat karena menangis sebenarnya merupakan cara sehat untuk menyalurkan emosi.

Banyak orang dewasa tumbuh dengan anggapan bahwa menangis adalah tanda kelemahan. Saat pola pikir itu dibawa ke pengasuhan, anak bisa belajar bahwa emosi tertentu harus disembunyikan.

Situasi seperti tantrum di tempat umum sering membuat orang tua ingin segera menghentikan respons anak. Namun, yang perlu dibenahi adalah perilaku dan cara menghadapi situasinya, bukan memaksa anak mengubah perasaan yang sedang dirasakan.

Saat perasaan anak dianggap tidak penting

Ucapan lain yang juga sebaiknya dihindari adalah, “Ini bukan masalah besar.” Meski terdengar seperti upaya menenangkan, kalimat itu bisa membuat anak merasa kekhawatiran mereka tidak dianggap penting.

Amy Morin menjelaskan bahwa orang tua sering ingin cepat menepis rasa cemas anak. Meski begitu, pendekatan yang lebih tepat adalah membantu anak menghadapi hal yang mengganggu mereka, bukan mengecilkan emosi yang sedang muncul.

Validasi perasaan punya peran besar dalam masa tumbuh kembang. Ketika anak merasa didengar, mereka lebih mudah mengenali masalah dan mencari cara yang sehat untuk mengatasinya.

Jangan hanya memberi rasa aman sesaat

Kalimat seperti, “Semuanya akan baik-baik saja,” juga sering dipakai untuk menenangkan anak. Ucapan ini memang bisa memberi kenyamanan singkat, tetapi tidak selalu cukup untuk menghadapi kenyataan yang sulit.

Amy Morin mengingatkan bahwa orang tua tidak bisa melindungi anak dari semua hal buruk. Karena itu, anak perlu dibekali keterampilan dan alat untuk menghadapi tantangan hidup yang tidak bisa dihindari.

Pendekatan seperti ini lebih realistis karena tidak hanya menenangkan, tetapi juga mempersiapkan anak. Dengan begitu, anak memahami bahwa masalah tidak selalu hilang begitu saja, melainkan bisa dihadapi dengan kemampuan yang tepat.

Dukungan emosional yang membentuk kebiasaan sehat

Para ahli menilai fokus orang tua sebaiknya tidak berhenti pada upaya menghentikan perilaku anak saat sedang sulit. Anak juga perlu dibantu untuk memahami emosi, menamai perasaannya, lalu meresponsnya dengan cara yang sehat.

Pilihan kata orang tua memiliki dampak besar pada hubungan anak dengan emosinya sendiri. Ucapan yang menolak, mengecilkan, atau terlalu cepat menenangkan dapat membentuk kebiasaan emosional yang tidak sehat.

Karena itu, komunikasi suportif penting menjadi bagian dari pengasuhan sehari-hari. Anak bukan hanya membutuhkan arahan, tetapi juga ruang untuk merasa didengar saat marah, takut, atau sedih.

Source: www.beautynesia.id
Berita Terbaru