Ketika toilet utama di kapsul Artemis Orion mengalami gangguan, astronaut tidak punya banyak pilihan selain beralih ke sistem cadangan berupa wadah plastik. Kondisi itu menunjukkan bahwa di luar angkasa, fasilitas buang air bukan urusan sampingan, melainkan bagian penting untuk menjaga kesehatan, kebersihan, dan kelancaran misi.
Ruang sempit di pesawat antariksa membuat limbah tubuh tidak bisa ditangani seperti di Bumi. Tanpa gravitasi yang memadai, urin dan kotoran mudah melayang ke mana-mana jika tidak diarahkan oleh sistem khusus.
Mengapa toilet antariksa harus sangat berbeda
Di misi luar angkasa, toilet harus bekerja dalam ruang tertutup dan serba terbatas. Karena itu, setiap komponen dibuat agar limbah tetap berada di jalur yang benar dan tidak mengganggu kabin.
Kurasan udara dipakai untuk membantu menggerakkan limbah ke tempat yang ditentukan. Pada sistem di Artemis Orion, urine dialirkan lewat selang, sedangkan limbah padat ditangani dengan kursi khusus yang memiliki daya hisap kuat.
Fasilitas yang dipakai astronaut di Artemis Orion
Kapsul Artemis Orion dilengkapi Universal Waste Management System sebagai toilet yang lebih maju. Toilet itu ditempatkan di bawah lantai kapsul dan dirancang agar bisa digunakan tanpa bergantung pada arah gravitasi.
Christina Koch menjelaskan bahwa astronaut di dalam toilet itu tidak selalu tahu apakah sedang berada di lantai, langit-langit, atau dinding. Untuk membantu tubuh tetap stabil, toilet dilengkapi handhold di bagian sisi, dan tether juga kadang digunakan sebagai pengaman posisi.
Dari kantong plastik ke sistem khusus
Pada misi awal seperti Mercury, Gemini, dan Apollo, pesawat antariksa belum memiliki toilet. Astronaut saat itu memakai kantong plastik yang ditempelkan ke tubuh untuk menampung limbah, lalu kantong ditutup dan diproses dengan bahan kimia untuk membunuh bakteri.
Cara tersebut memang menjadi solusi pada masa awal penerbangan luar angkasa, tetapi sangat jauh dari ideal. Selain sulit dipakai, metode itu juga berisiko mengganggu kebersihan di kabin yang ruangnya sangat terbatas.
Suara dan ruang juga ikut diperhitungkan
Toilet antariksa tidak hanya dirancang agar berfungsi, tetapi juga agar tidak menambah beban bagi kru. Dinding toilet dibuat sangat kedap untuk meredam suara pipa yang keras.
Dalam kabin yang sempit, bunyi berisik dari sistem pembuangan bisa menjadi gangguan tambahan. Karena astronaut juga harus menjaga fokus selama misi, kenyamanan suara ikut menjadi bagian dari desain toilet luar angkasa.
Saat sistem utama tidak bisa dipakai
Laporan NASA menyebut toilet utama di Artemis Orion sempat bermasalah selama penerbangan Artemis II. Ketika sistem itu tidak lagi mampu membuang limbah ke luar, astronaut harus memakai sistem cadangan berupa wadah plastik.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa toilet di pesawat antariksa punya peran vital. Christina Koch bahkan menyebut dirinya sebagai “space plumber” dan mengatakan bahwa toilet mungkin menjadi peralatan terpenting di pesawat.
Masalah lama yang masih jadi tantangan
Pertanyaan tentang toilet luar angkasa kembali ramai karena misi Artemis II membawa empat astronaut, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Jeremy Hansen, dan Christina Koch, selama 10 hari di luar Bumi. Di ruang sekecil kapsul antariksa, pengelolaan limbah tetap harus berjalan aman agar kehidupan kru tidak terganggu.
Pengalaman pada masa lalu juga pernah memperlihatkan betapa rumitnya urusan ini. Dalam misi Apollo 10, salah satu astronaut bahkan sempat mengeluh, “Give me a napkin quick, there’s a turd floating through the air,” yang menggambarkan betapa sulitnya menjaga kebersihan sebelum ada sistem toilet yang lebih baik.
Di luar angkasa, hal yang tampak sederhana di Bumi justru menuntut teknologi yang sangat khusus. Dari aliran udara, selang, kursi hisap, hingga wadah cadangan, semua disiapkan agar astronaut tetap bisa menjalankan kebutuhan dasar tanpa mengganggu keselamatan misi.







