Di Jawa Timur, sejumlah seni teater tradisional masih bertahan bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi pesan moral, kritik sosial, dan ingatan budaya. Ludruk, Sandur Bojonegoro, Topeng Jati Duwur Jombang, dan Topeng Malangan menjadi contoh bagaimana pertunjukan lama tetap menemukan penontonnya di tengah derasnya hiburan digital.
Yang membuatnya terus relevan adalah kedekatannya dengan kehidupan masyarakat. Tradisi ini tumbuh dari budaya lisan, memakai bahasa daerah, gerak, musik, improvisasi, dan interaksi langsung dengan penonton, sehingga terasa akrab sekaligus mudah diterima lintas generasi.
Jejak dari desa, sawah, dan kehidupan warga
Banyak bentuk teater Jawa Timur lahir dari lingkungan masyarakat desa yang dekat dengan ritme kerja dan tradisi setempat. Pertunjukannya kerap hadir pada malam hari, menjadi hiburan sekaligus medium untuk menyampaikan pesan moral dan kritik sosial.
Sandur Bojonegoro memperlihatkan hubungan itu dengan sangat jelas. Kesenian ini awalnya tumbuh dari ritual masyarakat agraris di Bojonegoro, lalu berkembang menjadi hiburan setelah warga selesai bekerja di sawah.
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Sandur memadukan drama, tari, karawitan, dan akrobatik. Hingga kini, belum ada catatan pasti tentang kapan kesenian ini lahir atau siapa penciptanya.
Sandur dan banyak tafsir tentang namanya
Peneliti seni pertunjukan Arif Hidajad menyebut Sandur sebagai kesenian yang sangat tua. Tradisi ini diyakini hidup dan diwariskan turun-temurun di wilayah Jawa Timur bagian barat.
Nama Sandur sendiri punya sejumlah tafsir. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menjelaskan bahwa istilah itu dapat berasal dari kata “san” yang dimaknai sebagai panen atau isen, lalu “dhur” yang berarti habis atau selesai.
Ada juga penjelasan lain yang mengaitkannya dengan bahasa Belanda, yakni “zoon” dan “door”. Dalam tulisan J. Catur Wibono dan tim dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta melalui Jurnal Resital tahun 2009, Sandur juga dikaitkan dengan istilah “ngedur”, yaitu cerita yang terus berlanjut hingga semalam suntuk.
Sebagian pelaku seni memberi makna filosofis pada Sandur. Djagad Pramudjito dari kelompok Sandur Kembang Desa menafsirkannya sebagai “sapane donya lan urip”, kiasan tentang dunia dan kehidupan.
Ludruk dan suara wong cilik
Ludruk tetap dikenal sebagai teater rakyat khas Jawa Timur yang menggabungkan dialog, lawakan, musik gamelan, kidungan, dan cerita. Pertunjukan ini biasanya dibuka dengan Tari Remo dan kidungan, lalu bergerak ke cerita utama dengan dialog spontan berbahasa Jawa dialek Jawa Timuran.
Sejak awal, Ludruk lekat dengan kehidupan wong cilik. Cerita-ceritanya banyak menyinggung persoalan ekonomi, sosial, dan kritik terhadap kondisi masyarakat.
Akar perkembangan Ludruk banyak dikaitkan dengan Jombang. Dalam jurnal berjudul Bentuk dan Makna Pada Tata Rias Busana Serta Aksesoris Tari Remo Jombangan karya Ulfa Apriliani, kesenian ini disebut bermula dari Lerok yang digagas Pak Santik, petani sekaligus pengamen jalanan dari Desa Diwek, Jombang.
Lerok kemudian berkembang menjadi Besutan atas inisiatif Pak Santik bersama Pak Pono dan Pak Amir. Bentuk ini menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa penjajahan dan menjadi saluran rakyat untuk menyampaikan keresahan, semangat perjuangan, serta keinginan untuk bebas menyuarakan pendapat.
Perkembangan Ludruk di Surabaya juga dipengaruhi Cak Durrasim. Seniman asal Jombang ini aktif menggelar pertunjukan Ludruk di Surabaya dan memprakarsai berdirinya perkumpulan Ludruk di kota tersebut.
Topeng Jati Duwur dan dimensi sakral
Di Jombang, Topeng Jati Duwur menempati posisi penting sebagai warisan budaya takbenda Indonesia sejak 2018. Kesenian ini berada dalam domain seni pertunjukan dan menunjukkan pentingnya pelestarian tradisi lokal.
Melansir laman Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, pertunjukan ini melibatkan penari bertopeng yang dipimpin dalang dan membawakan kisah klasik dari Sastra Panji. Cerita yang sering tampil antara lain Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji.
Kesenian ini lahir dari Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang. Asal-usulnya ditelusuri hingga akhir abad ke-19, dibawa oleh tokoh sakti bernama Ki Purwo dari Gresik yang dipercaya sebagai pendiri tradisi wayang topeng di desa itu.
Topeng Jati Duwur juga memiliki fungsi ritual sebagai sarana pemenuhan nadzar masyarakat. Setiap 1 Sura, topeng-topeng tersebut diruwat dan diupacarai sehingga memuat nilai spiritual dan kesakralan yang kuat.
Topeng Malangan sebagai warisan nilai
Dari Malang Raya, Topeng Malangan menjadi salah satu pertunjukan yang paling ikonik. Kesenian ini menggabungkan tari, teater, musik gamelan, dan topeng dengan karakter khas.
Dalam jurnal Makna Tari Topeng Malangan sebagai Implementasi dari Karakter Luhur Guru karya Avinda Azizatun Nisa dan kawan-kawan, tradisi ini diwariskan turun-temurun oleh masyarakat. Karena itu, Topeng Malangan tidak sekadar tontonan, tetapi juga bagian dari warisan budaya lokal yang sarat makna.
Cerita yang dibawakan umumnya berasal dari kisah Panji, legenda klasik Jawa yang populer sejak masa kerajaan. Para penari memakai topeng dengan bentuk dan ekspresi berbeda, sementara alur cerita dibawakan dalang diiringi musik gamelan.
Setiap warna dan bentuk topeng membawa makna tersendiri. Unsur itu merepresentasikan keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan, hingga keteguhan hati, sedangkan tokoh Panji kerap digambarkan sebagai sosok pemimpin yang luhur dan bertanggung jawab.
Kedekatan Topeng Malangan dengan masyarakat setempat membuatnya berfungsi lebih dari sekadar hiburan. Pertunjukan ini ikut mewariskan kearifan budaya dan pelajaran moral antargenerasi, sama seperti bentuk-bentuk teater tradisional Jawa Timur lainnya yang terus menjaga identitas lokal lewat bahasa, gerak, musik, cerita, dan nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Source: www.detik.com