Torino Bangkit di Akhir Laga, Inter Milan Kehilangan Keunggulan Dua Gol dan Tertahan 2-2

Author: Redaksi Android62

Inter Milan membawa pulang kekecewaan setelah keunggulan 2-0 mereka lenyap dan laga di kandang Torino berakhir imbang 2-2. Hasil itu terasa berat karena Inter sempat mengendalikan pertandingan, tetapi kehilangan fokus di momen-momen penting membuat kemenangan yang sudah di depan mata berubah jadi satu poin saja.

Torino memanfaatkan situasi itu dengan baik dan terus menekan sampai akhir. Saat Inter mulai kehilangan kontrol, tuan rumah menemukan ruang untuk bangkit dan memaksa pertandingan bergerak ke arah yang lebih menguntungkan bagi mereka.

Inter sempat sangat nyaman

Inter sebenarnya membuka laga dengan cara yang menjanjikan. Federico Dimarco kembali menjadi penggerak dari sisi kiri dan mengirim umpan yang disambut Marcus Thuram lewat sundulan untuk membuka skor.

Gol tersebut membuat Inter lebih tenang dalam menguasai permainan. Mereka bisa mengatur tempo lebih leluasa dan menekan Torino dari area sayap dengan struktur permainan yang terlihat cukup rapi pada babak pertama.

Keunggulan itu berlanjut setelah jeda. Yann Bisseck menambah gol untuk Inter pada awal babak kedua, lagi-lagi dengan kontribusi besar dari Dimarco melalui skema sepak pojok.

Dengan skor 2-0, Inter terlihat berada di jalur yang tepat untuk menutup laga tanpa banyak ancaman. Namun, situasi yang tampak aman itu justru berubah cepat ketika Torino mulai menemukan celah di pertahanan lawan.

Momentum berubah setelah kesalahan di area berbahaya

Perubahan arah pertandingan dimulai ketika Piotr Zielinski kehilangan bola di area yang berbahaya. Dari situasi itulah Giovanni Simeone memperkecil kedudukan menjadi 1-2 dan langsung menghidupkan kembali semangat Torino.

Gol itu mengubah ritme laga secara nyata. Torino tampil lebih agresif setelahnya, sementara Inter mulai kesulitan menjaga kendali seperti sebelumnya.

Tekanan tuan rumah tidak berhenti di sana. Torino terus mendorong permainan ke area pertahanan Inter dan membuat Nerazzurri semakin sering berada dalam posisi bertahan.

Penalti menghapus keunggulan Inter

Puncak tekanan Torino datang ketika mereka mendapat penalti setelah Carlos Augusto dinilai melakukan pelanggaran di kotak terlarang saat berusaha menghentikan serangan lawan. Kesempatan itu dimaksimalkan dan skor berubah menjadi 2-2.

Dari posisi unggul dua gol, Inter akhirnya kehilangan dua poin yang rasanya sudah hampir aman. Situasi ini menjadi pukulan besar karena mereka sudah sempat memegang kendali penuh atas jalannya pertandingan.

Cristian Chivu tidak menemukan respons yang cukup efektif untuk meredam kebangkitan Torino. Pergantian pemain seperti Pio Esposito dan Frattesi juga tidak mampu menghentikan arus tekanan tuan rumah hingga laga selesai.

Peran Dimarco tetap menonjol

Di tengah hasil yang mengecewakan, Federico Dimarco tetap tampil sebagai sosok paling berpengaruh dalam serangan Inter. Dua assist yang ia catat membuat namanya melewati pencapaian Papu Gomez dalam sejarah klub.

Catatan itu menegaskan betapa pentingnya Dimarco bagi Inter, terutama saat tim membutuhkan kreativitas dari sisi kiri. Meski begitu, kontribusi individunya tidak cukup untuk menutup rapuhnya pertahanan saat lawan menaikkan intensitas.

Sorotan juga sempat mengarah ke lini depan Inter yang naik turun sepanjang laga. Marcus Thuram sempat disorot Sportmediaset dengan istilah “svogliato” dan “demotivato” sebelum akhirnya mencetak gol pembuka.

Torino lebih disiplin di momen penentu

Torino layak mendapat pujian karena tetap disiplin dan tidak berhenti menekan meski sempat tertinggal dua gol. Ardian Ismajli tampil solid di lini belakang, sementara Nikola Vlasic membantu menjaga kreativitas serangan tuan rumah tetap hidup.

Masuknya Duvan Zapata dan Alieu Njie turut memberi energi baru bagi Torino. Kehadiran mereka membuat pengawalan Inter terhadap Yann Bisseck dan Manuel Akanji semakin sulit dipertahankan.

Di sisi lain, Inter juga sempat membuang peluang lewat Bonny pada awal babak kedua sebelum ia digantikan Pio Esposito. Rangkaian momen itu memperlihatkan bahwa Inter punya awal yang efisien, tetapi kehilangan ketajaman dan ketenangan saat laga memasuki fase yang paling menentukan.

Berita Terbaru