Transplantasi Ginjal Robotik Pertama di Indonesia Berhasil, Siloam Asri Catat Tonggak Baru

Author: Redaksi Android62

Transplantasi ginjal berbantuan teknologi robotik pertama di Indonesia berhasil dilakukan di Siloam Hospitals Asri, Jakarta. Keberhasilan ini menandai masuknya pendekatan bedah yang lebih presisi ke dalam layanan transplantasi organ di Tanah Air.

Operasi tersebut juga menjadi contoh kolaborasi lintas negara antara tim medis Indonesia dan Asan Medical Center, Korea Selatan. Selain pendampingan selama prosedur, kerja sama itu diarahkan untuk memperkuat transfer keahlian agar pengembangan teknologi serupa dapat tumbuh di dalam negeri.

Prosedur dijalankan dengan supervisi tim Korea Selatan

Tim urologi Siloam Hospitals Asri yang dipimpin Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), menangani tindakan ini bersama sejumlah dokter spesialis lain. Tim dari Asan Medical Center hadir untuk memberi supervisi dan pendampingan saat operasi berlangsung.

Keterlibatan rumah sakit Korea Selatan tersebut menunjukkan bahwa transplantasi ginjal robotik bukan hanya soal alat canggih. Prosedur ini juga menuntut kesiapan tim medis untuk bekerja dengan standar presisi tinggi dan koordinasi yang matang.

Pasien menjalani transplantasi setelah hemodialisis rutin

Pasien yang menjalani operasi adalah pria berusia 57 tahun dengan penyakit ginjal stadium akhir akibat hipertensi. Sebelum transplantasi, ia menjalani hemodialisis rutin dua kali setiap pekan sejak didiagnosis mengalami gangguan ginjal pada Juli 2025.

Kondisi itu menggambarkan beratnya beban penyakit ginjal stadium akhir bagi pasien. Dalam situasi seperti ini, transplantasi menjadi salah satu opsi terapi yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan fungsi ginjal.

Teknologi robotik memberi presisi lebih tinggi

Berbeda dari transplantasi konvensional, prosedur ini memanfaatkan sistem bedah robotik yang dikendalikan dokter melalui konsol khusus. Teknologi tersebut memberikan visualisasi tiga dimensi dan gerakan instrumen yang lebih presisi selama operasi.

Dengan kemampuan itu, bedah robotik dinilai dapat membantu mengurangi trauma jaringan, menekan risiko perdarahan, dan menurunkan nyeri pascaoperasi. Pendekatan ini juga membuat tindakan pembedahan lebih terkontrol, terutama pada prosedur yang membutuhkan ketelitian tinggi seperti transplantasi ginjal.

Kondisi pasien stabil usai operasi

Berdasarkan evaluasi pascaoperasi, pasien berada dalam kondisi stabil dan menunjukkan peningkatan fungsi ginjal. Tim medis juga mencatat produksi urin pasien telah mencapai target yang diharapkan sebagai salah satu indikator awal keberhasilan transplantasi.

Temuan awal itu menjadi sinyal positif dalam proses pemulihan pasien setelah tindakan. Meski begitu, pemantauan medis tetap diperlukan agar fungsi ginjal baru dapat berjalan optimal.

Prof. Nur Rasyid menyebut keberhasilan ini sebagai tonggak penting bagi tim bedah dan inovasi layanan kesehatan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut lahir dari kerja sama multidisiplin antara tenaga medis Indonesia dan Korea Selatan.

Kolaborasi Siloam Hospitals Asri dan Asan Medical Center diharapkan membuka jalan bagi pengembangan lebih lanjut layanan transplantasi berbasis robotik di Indonesia. Jika kapasitas tenaga medis terus diperkuat melalui transfer keahlian, pilihan terapi bagi pasien penyakit ginjal stadium akhir dapat semakin luas tanpa harus selalu mencari tindakan serupa ke luar negeri.

Aspek Detail
Lokasi Siloam Hospitals Asri, Jakarta
Pasien Pria 57 tahun dengan penyakit ginjal stadium akhir akibat hipertensi
Dukungan Internasional Asan Medical Center, Korea Selatan
Hasil Awal Kondisi stabil, fungsi ginjal meningkat, produksi urin mencapai target
Source: www.suara.com
Berita Terbaru