Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam percaturan keamanan global setelah Senator Partai Republik Lindsey Graham menyebut Presiden Donald Trump siap mengambil langkah keras jika pembicaraan dengan Iran berujung gagal. Jalur sempit itu dianggap terlalu penting untuk dibiarkan berada dalam ancaman.
Graham menyampaikan peringatan itu dalam program Face the Nation di CBS. Ia menegaskan bahwa diplomasi masih layak dicoba, tetapi peluangnya kecil untuk menghasilkan jaminan keamanan yang bertahan lama.
Jalur Minyak Dunia yang Tidak Bisa Diabaikan
Fokus utama kekhawatiran ini adalah Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Posisi strategis itu membuat setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memengaruhi stabilitas energi internasional.
Jika akses di selat itu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah. Pasar energi global juga berisiko terguncang, sehingga Washington kerap memberi perhatian besar terhadap setiap ancaman di wilayah itu.
Diplomasi Masih Dibuka, Tetapi Dipandang Rapuh
Graham mengatakan dirinya tidak ingin langsung menutup pintu perundingan dengan Iran. Namun, ia menilai upaya damai yang sedang dibangun kemungkinan besar tidak akan bertahan lama.
“Saya lebih memilih mencoba diplomasi daripada menghapusnya dari opsi. Tapi saya pikir ini akan gagal,” kata Graham, dikutip dari NY Post.
Ia merujuk pada nota kesepahaman 14 poin yang membuka jalan bagi pembicaraan damai selama 60 hari. Menurut dia, kesepakatan awal itu baru menjadi langkah pembuka dan belum menjamin hasil akhir.
Pernyataan Keras Soal Trump dan Iran
Dalam penjelasannya, Graham mengaku telah berbicara cukup lama dengan Trump mengenai situasi tersebut. Dari pembicaraan itu, ia menyimpulkan bahwa Trump tidak akan ragu memakai kekuatan jika negosiasi gagal.
“Jika kesepakatan ini gagal, Trump akan mengambil alih Selat Hormuz dengan paksa,” ujar Graham.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat akan merespons keras bila Iran menentang langkah itu. Bahkan, Graham melontarkan peringatan paling keras dengan menyebut AS siap menghancurkan Iran jika terjadi konfrontasi di jalur tersebut.
Kaitannya dengan Ketegangan Kawasan
Graham juga menyinggung peringatan Trump kepada Teheran agar tidak mengganggu stabilitas kawasan, termasuk lewat kelompok proksi seperti Hizbullah. Menurut Graham, Trump menegaskan akan memukul Iran sangat keras bila ancaman terhadap Israel terus berlanjut.
Di sisi lain, Graham melihat masih ada peluang bagi Trump untuk mendorong normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel. Ia memperkirakan target itu bisa tercapai pada 2026, meski jalannya disebut tidak mudah tanpa tekanan lebih dulu terhadap pengaruh Iran di kawasan.
Dengan sejumlah pernyataan keras itu, Selat Hormuz kembali muncul sebagai pusat perhatian dalam ketegangan geopolitik. Arah perundingan dengan Iran kini menjadi penentu apakah situasi mereda atau justru bergerak menuju eskalasi yang lebih luas.
Source: www.suara.com






