Dinosaurus tidak sepenuhnya lenyap dari garis evolusi, karena burung kini dipahami sebagai keturunan langsung kelompok hewan purba tersebut. Perubahan pandangan ini menjadi salah satu lompatan besar dalam sejarah paleontologi.
Gagasan itu beriringan dengan penerimaan luas hipotesis bahwa tumbukan asteroid memicu kepunahan massal yang menewaskan sebagian besar dinosaurus. Peristiwa tersebut mengubah cara ilmuwan memandang kehidupan purba, kepunahan, dan kelangsungan garis keturunan hewan.
Burung Mengubah Gambaran Dinosaurus
Thomas Henry Huxley pada 1860-an telah mencatat kemiripan antara fosil burung dan dinosaurus. Ia termasuk tokoh awal yang mengusulkan adanya hubungan evolusioner di antara keduanya.
Lebih dari satu abad kemudian, John Ostrom menghidupkan kembali gagasan tersebut dengan menyatakan bahwa burung merupakan keturunan langsung dinosaurus. Pandangan ini kemudian membantu memicu kebangkitan riset dinosaurus sekaligus memperkuat kehadirannya dalam budaya populer.
Pada 1980, Luis dan Walter Alvarez mengajukan hipotesis tumbukan asteroid sebagai pemicu kepunahan massal. Hipotesis itu sempat diperdebatkan, tetapi kini diterima luas oleh ilmuwan.
Penerimaan terhadap dua gagasan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengenai dinosaurus terus berubah seiring bukti baru ditemukan. Sebagian besar spesies dinosaurus bahkan diperkirakan masih belum ditemukan.
Persaingan yang Memenuhi Museum
Minat masyarakat terhadap dinosaurus tumbuh pesat pada pertengahan abad ke-19 di Inggris. Charles Dickens bahkan menyebut Megalosaurus dalam novel Bleak House yang pertama kali terbit secara serial pada 1852 dan 1853.
Perhatian serupa berkembang di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 melalui Perang Tulang atau Bone Wars. Edward Drinker Cope dan Othniel Charles Marsh bersaing menemukan dinosaurus baru sejak 1870-an, termasuk dengan upaya menyabotase pekerjaan lawan.
Persaingan itu menghasilkan lebih dari 100 penemuan dinosaurus baru. Di antara temuan yang dikenal luas terdapat Stegosaurus dan Triceratops.
Museum kemudian mulai memajang tulang serta rekonstruksi kerangka lengkap bagi publik. Pameran semacam itu membuat fosil tidak lagi hanya menjadi objek kajian terbatas bagi kalangan ilmiah.
Tiga Nama yang Membentuk Dinosauria
Dasar pengelompokan dinosaurus modern lahir dari perbandingan sejumlah fosil besar yang tidak biasa. Richard Owen pada 1842 menelaah kesamaan tiga hewan purba dan memperkenalkan istilah Dinosauria.
Istilah tersebut berasal dari gabungan kata Yunani yang bermakna “kadal yang sangat menakutkan”. Pengelompokan ini menjadi langkah revolusioner karena menempatkan beberapa fosil dalam satu kelompok yang berbeda.
| Nama | Tokoh yang Menamai | Peran Sejarah |
|---|---|---|
| Megalosaurus | William Buckland | Dinosaurus pertama dengan nama modern |
| Iguanodon | Gideon Mantell | Dikenali dari gigi menyerupai iguana besar |
| Hylaeosaurus | Gideon Mantell | Genus baru dari pecahan tulang |
William Buckland lebih dahulu menerbitkan kajian rahang dari Stonesfield pada 1824 dan menamainya Megalosaurus. Nama itu berarti “kadal besar” dalam bahasa Yunani, meski wujud dan hubungan hewan tersebut belum sepenuhnya dipahami.
Gideon Mantell kemudian mengusulkan nama Iguanodon pada 1825 berdasarkan fosil bergigi mirip iguana besar. Pada 1833, ia kembali mengenali genus baru bernama Hylaeosaurus dari pecahan tulang.
Sebelum Ada Nama Dinosaurus
Jauh sebelum istilah Dinosauria muncul, manusia kemungkinan telah menemukan fosil dinosaurus tanpa mengetahui asal-usulnya. Tulang berukuran besar kerap dianggap sebagai sisa naga, raksasa, atau hewan luar biasa dari masa lampau.
Robert Plot pada 1677 menerbitkan ilustrasi tulang dinosaurus yang diketahui paling awal dari Oxfordshire, Inggris. Ia mula-mula menduga fosil tersebut berasal dari gajah peninggalan Kekaisaran Romawi.
Setelah membandingkannya dengan gajah hidup, Plot justru menduga tulang itu milik raksasa. Hans-Dieter Sues dari Smithsonian National Museum of Natural History mengatakan kepada History, “Saya rasa jauh ke belakang dalam sejarah manusia, orang-orang sudah menemukan tulang dinosaurus, mengaguminya, tapi mungkin tidak punya gambaran apa yang sebenarnya mereka lihat.”







