Uang bergambar wayang ternyata tidak hanya menyimpan nilai tukar, tetapi juga jejak cara kuasa bekerja lewat simbol. Melalui pameran temporer In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi, Museum Bank Indonesia mengajak pengunjung membaca seri uang De Javasche Bank terbitan 1933–1939 sebagai arsip visual yang memuat budaya, politik, dan propaganda.
Pameran ini berlangsung pada 3 Juni hingga 30 Agustus 2026. Di dalamnya, uang tidak diposisikan sebagai benda transaksi semata, melainkan sebagai medium yang bisa membuka konteks sosial pada masa kolonial.
Wayang sebagai bahasa yang mudah dikenali
Museum menampilkan delapan nominal lengkap seri wayang, mulai dari 5 hingga 1.000 gulden. Sejumlah replika uang juga disiapkan agar pengunjung bisa melihat bentuk dan detail koleksi dengan lebih jelas.
Susunan itu membuat pengunjung bisa membandingkan seri wayang dengan uang Hindia Belanda sebelum periode tersebut serta mata uang pendudukan Jepang. Dari perbandingan itu, terlihat bahwa simbol budaya dipakai dengan tujuan yang berbeda pada tiap fase sejarah.
Kurator pameran, Ide Nada Imandiharja, menjelaskan bahwa pameran temporer memang dirancang lebih fokus dibanding pameran permanen. Jika pameran permanen memuat sejarah kelembagaan, arsitektur, dan koleksi numismatik secara umum, pameran temporer mengulas satu tema secara lebih mendalam.
Pilihan wayang sebagai tema utama tidak muncul tanpa alasan. Penelitian museum menunjukkan bahwa penggunaan gambar wayang pada uang DJB berkaitan dengan ketertarikan Presiden DJB, L.C.J. Burting Houwink, pada budaya Nusantara dan seni wayang.
Houwink juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Kedekatan itu diduga ikut mendorong pemilihan figur wayang pada uang yang diedarkan kala itu.
Desain uang yang membawa pesan
Namun, seri wayang lahir di tengah krisis ekonomi dan gejolak sosial pada dekade 1930-an. Dalam situasi seperti itu, desain uang tidak hanya berbicara soal estetika, tetapi juga soal penerimaan publik.
Wayang dipilih sebagai sarana propaganda karena merupakan bagian penting dari budaya yang akrab di tengah masyarakat. Simbol itu dinilai mudah dikenali, dekat dengan publik, dan dapat membantu mendorong penerimaan terhadap uang yang diedarkan.
Ide menjelaskan bahwa kedekatan budaya itu membuat wayang punya daya tarik tersendiri. “Wayang sangat dekat dengan masyarakat pada masa itu. Karena itu, kemunculannya di uang dapat menjadi daya tarik agar masyarakat mau menggunakan uang tersebut,” katanya.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa desain uang pada masa kolonial tidak pernah sepenuhnya netral. Selembar uang bisa memuat pesan yang jauh lebih besar daripada angka nominal yang tercetak di atasnya.
Dari DJB ke pendudukan Jepang
Pameran ini juga menempatkan seri wayang dalam konteks yang lebih luas lewat kehadiran mata uang pendudukan Jepang. Kehadiran koleksi itu menunjukkan bahwa pemakaian simbol budaya tidak berhenti pada masa DJB saja.
Jepang sempat menggunakan gambar pemandangan umum Asia Tenggara pada mata uang yang diedarkan di wilayah jajahannya. Setelah itu, mereka mulai menampilkan simbol budaya Nusantara seperti Gatotkaca, rumah adat, dan figur masyarakat daerah untuk mendekatkan diri kepada penduduk setempat.
Rangkaian koleksi tersebut memperlihatkan pola yang sama: uang kerap dipakai untuk membangun kedekatan simbolik dengan masyarakat. Dalam sejarah, desain uang dapat menjadi cermin hubungan kuasa, identitas budaya, dan strategi komunikasi politik pada zamannya.
Ide menegaskan bahwa pameran ini tidak dimaksudkan hanya untuk memamerkan benda lama. “Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa setiap uang punya cerita,” ujarnya.
Melalui In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi, Museum Bank Indonesia mengajak publik melihat uang sebagai medium yang menyimpan sejarah, budaya, dan kepentingan politik dalam satu objek kecil yang sehari-hari sering luput dari perhatian.
Source: lifestyle.bisnis.com






