Universitas Gadjah Mada akan menerapkan kurikulum baru mulai semester gasal tahun akademik 2026/2027. Kebijakan ini dirancang agar lulusan UGM lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja dan dinamika global yang terus berubah.
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA, menegaskan bahwa pembaruan tersebut mengikuti amanat Peraturan Rektor Nomor 19 Tahun 2025 tentang Pendidikan. Penyusunannya juga melibatkan alumni, mitra, serta berbagai pemangku kepentingan agar kebutuhan akademik dan profesional dapat terakomodasi.
Empat pilar utama dalam kurikulum baru
UGM menempatkan empat pilar sebagai fokus utama dalam kurikulum baru. Integritas menjadi dasar pembentukan karakter akademik mahasiswa melalui nilai moral dan etika yang berlaku di masyarakat.
Pilar berikutnya adalah kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa asing lain untuk memperkuat daya saing mahasiswa di tingkat internasional. Dua pilar lain, yakni kerja tim dan resiliensi, disiapkan untuk membentuk mahasiswa yang mampu berkolaborasi dan tetap tangguh dalam menghadapi tantangan akademik maupun profesional.
| Pilar | Fokus | Tujuan |
|---|---|---|
| Integritas | Nilai moral dan etika | Membentuk karakter akademik mahasiswa |
| Bahasa Inggris dan bahasa asing lain | Kemampuan berbahasa asing | Memperkuat daya saing internasional |
| Kerja tim | Kolaborasi adaptif | Menjawab dinamika organisasi |
| Resiliensi | Ketangguhan menghadapi tantangan | Menyiapkan mahasiswa secara akademik dan profesional |
Wening menyoroti kerja tim dan resiliensi karena ada kecenderungan sebagian mahasiswa saat ini lebih memilih bekerja sendiri daripada berkelompok. Menurut UGM, kondisi tersebut menjadi kerentanan yang perlu dijawab lewat pembentukan kompetensi yang lebih utuh.
Dalam keterangannya yang dilansir situs UGM dan dikutip Kompas.com, Wening berharap kurikulum baru ini mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menuntaskan studi, tetapi juga siap berkontribusi di masyarakat dan dunia profesional. Arah itu ditegaskan sebagai bekal untuk terlibat dalam organisasi, lingkungan sosial, dan dunia kerja.
Struktur dibuat lebih ramping dan mudah dipilih
Selain isi pembelajaran, UGM juga menata ulang struktur kurikulum agar lebih sederhana bagi mahasiswa dan program studi. Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM, Dr. Sigit Priyanta, S.Si, M.Kom., menjelaskan bahwa struktur baru disusun menjadi tiga blok besar dengan 9 tipe pilihan yang jelas.
Perubahan ini memberi ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah lintas prodi. Opsi yang tersedia mencakup second major, minor, intensifikasi, hingga fast track.
Sigit menyebut kebijakan tersebut sebagai upaya mengoptimalkan kekayaan keahlian lintas prodi dan fakultas. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab persoalan kompleks yang membutuhkan kolaborasi, integrasi, dan sintesis pengetahuan.
Dengan pendekatan baru itu, UGM ingin proses belajar menjadi lebih mudah dikelola sekaligus lebih selaras dengan kebutuhan masa depan. Kurikulum baru ini memperlihatkan arah pembaruan kampus dalam menyiapkan lulusan yang kuat secara karakter, fleksibel dalam belajar, dan siap memasuki lingkungan profesional yang semakin menuntut kemampuan lintas bidang.
