Umbi suweg dapat diolah menjadi pangan, tetapi tidak boleh dikonsumsi mentah karena mengandung kristal kalsium oksalat. Pengolahan yang aman perlu diawali dengan mengiris umbi secara tipis dan merendamnya dalam air garam sebelum direbus atau dikeringkan.
Kandungan oksalat pada suweg dapat menimbulkan rasa gatal pada kulit maupun mulut. Karena itu, bentuk tanaman yang menarik atau manfaat umbinya tidak boleh menjadi alasan untuk melewatkan tahap pembersihan dan perendaman.
Berpotensi Menjadi Bahan Pangan
Bagian suweg yang bernilai pangan berada di bawah tanah, berupa umbi besar berkulit kasar dengan daging berwarna kuning keputihan. Umbi ini mengandung serat glukomanan dan disebut memiliki indeks glikemik sekitar 50.
Karbohidrat dengan indeks glikemik tersebut dicerna lebih lambat oleh tubuh dan tidak cepat memicu lonjakan gula darah. Serat glukomanan juga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama serta relevan untuk menjaga asupan dan kesehatan pencernaan.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama ilmiah | Amorphophallus paeoniifolius |
| Bagian yang diolah | Umbi besar di dalam tanah |
| Warna daging umbi | Kuning keputihan |
| Kandungan utama | Serat glukomanan |
| Indeks glikemik | Sekitar 50 |
Setelah diproses dengan benar, suweg dapat direbus sebagai pangan sederhana. Pada masa lalu, umbi rebus ini lazim disantap sebagai teman minum kopi atau teh pada pagi hari.
Umbi yang telah dikeringkan juga bisa digiling menjadi tepung bebas gluten. Tepung suweg dapat dimanfaatkan untuk membuat brownies, kue kering, hingga mi.
Sering Disangka Bunga Bangkai
Suweg kerap menarik perhatian karena bentuk bunganya sekilas menyerupai bunga bangkai. Tanaman ini masih termasuk keluarga Amorphophallus, kelompok yang juga dikenal dengan sebutan bunga bangkai.
Ketika daunnya mulai layu, umbi suweg dapat memunculkan bunga berkelopak lebar berwarna merah marun hingga keunguan. Di bagian tengahnya terdapat tongkol berwarna kuning pucat yang menjulang.
BRMP Tanaman Aneka Umbi, unit pelaksana teknis Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian, mencatat suweg memiliki batang belang-belang dan daun menjari. Ciri itu dapat membantu membedakannya dari tanaman lain yang memiliki tampilan bunga serupa.
Saat berbunga, suweg dapat mengeluarkan aroma kurang sedap untuk menarik serangga penyerbuk. Karakter tersebut membuat tanaman ini kadang keliru disebut sebagai Rafflesia, meski keduanya bukan tanaman yang sama.
Ditemukan di Pekarangan Warga Bekasi
Tanaman suweg dilaporkan tumbuh di pekarangan rumah warga di Jalan Lapangan Bola, Kranji, Kota Bekasi. Menurut detik.com, tanaman itu ditanam oleh Warsini dan keluarganya dari bibit yang dibawa Juari, suaminya, dari Pacitan, Jawa Timur.
Tanaman di pekarangan tersebut disebut tidak mengeluarkan bau busuk yang kuat dan ukurannya tidak terlalu tinggi. Keberadaannya menunjukkan bahwa tanaman yang tampak mencolok di halaman rumah juga dapat menyimpan umbi pangan, selama diolah melalui tahapan yang tepat.
Source: news.detik.com






