Brussels Bidik Hybrid China, Celah Tarif Mobil Listrik Makin Sempit

Author: Redaksi Android62

Uni Eropa bersiap memperluas tekanan dagang terhadap industri otomotif China dengan menyasar kendaraan plug-in hybrid atau PHEV. Langkah ini dipandang sebagai upaya menutup celah yang masih dimanfaatkan produsen China setelah tarif tambahan untuk mobil listrik murni diberlakukan pada akhir 2024.

Perubahan arah kebijakan itu mencerminkan kekhawatiran Brussels bahwa pembatasan pada mobil listrik murni belum cukup menahan ekspansi merek China di pasar Eropa. Saat segmen baterai listrik tertekan, PHEV justru tumbuh lebih cepat dan menjadi jalur baru bagi produsen asal China untuk mempertahankan laju penjualan.

Celah yang dinilai terlalu lebar

Mengutip Handelsblatt, Uni Eropa tengah menyiapkan langkah perdagangan baru yang akan menyasar PHEV asal China. Jika kebijakan itu disahkan, fokus perang tarif akan meluas dari mobil listrik murni ke segmen hybrid plug-in yang kini dianggap sebagai titik lemah perlindungan pasar Eropa.

Seorang eksekutif industri yang diwawancarai Handelsblatt menilai produsen China bergerak cepat setelah tarif mobil listrik diterapkan. Menurutnya, kondisi tersebut membuka celah yang perlu segera ditutup sebelum penetrasi merek China semakin dalam.

Data pasar juga menunjukkan tren yang memperkuat kekhawatiran itu. Dilansir Carscoops pada Senin, 22 Juni, registrasi PHEV BYD dilaporkan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan model listrik murninya sepanjang tahun ini.

Chery juga disebut telah mengirim puluhan ribu unit PHEV ke Eropa. Sementara itu, volume mobil listrik murni yang dikapalkan dilaporkan jauh lebih sedikit dalam periode yang sama.

Tekanan bagi produsen Eropa

Bagi pabrikan Eropa, perkembangan itu menambah tekanan dalam persaingan yang sudah ketat. Industri otomotif China saat ini disebut telah menyumbang sekitar satu dari setiap 10 mobil baru yang terjual di Eropa.

Kondisi tersebut membuat produsen lokal harus bekerja lebih keras untuk menjaga pangsa pasar. Kehadiran PHEV China memberi alternatif baru bagi konsumen Eropa yang menginginkan kendaraan elektrifikasi dengan harga tetap kompetitif.

Meski demikian, rencana tarif baru itu belum final. Laporan yang sama menyebut investigasi resmi sedang disiapkan dan masih membutuhkan persetujuan dari negara-negara anggota Uni Eropa sebelum dapat diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang.

Tarif belum tentu cukup

Tidak semua pengamat yakin bea masuk tambahan akan mematahkan strategi jangka panjang produsen China. Analis UBS Patrick Hummel menilai potensi keuntungan di pasar Eropa masih cukup besar, sehingga tarif tambahan kemungkinan tidak akan menjadi penghalang utama.

Di saat yang sama, sejumlah produsen China juga mulai mendekatkan rantai produksi ke Eropa. Sebagian memanfaatkan kapasitas manufaktur yang kurang optimal milik pabrikan mapan seperti Nissan, sementara yang lain menyiapkan pembangunan pabrik baru di kawasan tersebut.

Langkah itu menunjukkan produsen China tidak hanya mengandalkan ekspor dari dalam negeri. Mereka juga mulai membangun basis produksi yang lebih dekat dengan pasar tujuan untuk mengurangi dampak tarif dalam jangka panjang.

Sikap politik Eropa ikut berubah

Perubahan pendekatan di Eropa ikut memperkuat peluang kebijakan yang lebih keras. Pemerintah yang sebelumnya cenderung berhati-hati mengambil langkah yang berisiko memicu ketegangan dengan Beijing kini dinilai lebih terbuka terhadap kebijakan dagang yang tegas.

Dorongan utamanya adalah menjaga daya saing industri domestik. Di sisi lain, minat konsumen Eropa terhadap merek otomotif China masih menunjukkan tren positif, sehingga pembatasan dagang dipandang hanya mampu memperlambat, bukan menghentikan, ekspansi mereka.

Dengan kombinasi pertumbuhan PHEV, penetrasi merek yang makin besar, dan rencana respons baru dari Brussels, pertarungan dagang Uni Eropa dan produsen otomotif China tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat. Segmen hybrid plug-in kini menjadi medan berikutnya yang paling diawasi.

Source: voi.id
Berita Terbaru