S&P 500 mencatat rekor tertinggi baru setelah sentimen pasar membaik dipicu harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Di saat yang sama, laporan keuangan dari sejumlah emiten besar yang melampaui perkiraan ikut menambah kepercayaan investor dan mendorong Wall Street ditutup dalam nada positif.
Indeks S&P 500 naik 0,8%, sedangkan Nasdaq 100 melesat 1,4% berkat kuatnya minat pada saham teknologi. Penguatan ini memperpanjang tren naik pasar saham Amerika Serikat yang sudah bertahan selama dua pekan terakhir sejak akhir Maret.
Harapan damai jadi pemicu utama
Perhatian pasar banyak tertuju pada kabar bahwa pihak-pihak yang berkonflik di Timur Tengah sedang mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua pekan. Langkah itu dipandang dapat membuka ruang bagi negosiasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Steve Sosnick, kepala strategi di Interactive Brokers LLC, menilai pergerakan saham mencerminkan pandangan bahwa perang di Teluk Persia hampir berakhir. Dalam pandangannya, suasana seperti ini membuat investor lebih berani masuk ke aset berisiko seperti saham.
Meski optimisme itu kuat di pasar saham, reaksi di pasar energi belum sepenuhnya mengikuti arah yang sama. Harga minyak mentah Brent masih naik tipis 0,1% ke level 95 dolar AS per barel.
Bank dan teknologi ikut menopang penguatan
Selain faktor geopolitik, sektor perbankan juga memberi dorongan penting bagi indeks utama. Bank of America Corp. dan Morgan Stanley sama-sama melaporkan pendapatan perdagangan ekuitas yang lebih tinggi dari prediksi, sehingga memperkuat sinyal bahwa aktivitas bisnis di sektor keuangan masih solid.
Di sisi lain, saham teknologi kembali menjadi penopang utama reli pasar. Investor terlihat kembali melirik sektor ini karena menilai peluang dari kecerdasan buatan masih besar dan fundamental perusahaan tetap kuat.
Microsoft Corp. naik 4,6%, sementara Oracle Corp. menguat 4,2%. Pergerakan tersebut juga mencerminkan rotasi modal dari saham sektor cip ke saham perangkat lunak ketika pasar mencari peluang pertumbuhan yang lebih stabil.
Pasar obligasi dan emas memberi sinyal berbeda
Di tengah euforia saham, pasar obligasi menunjukkan arah yang lebih beragam. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik menjadi 3,76%, sementara tenor 10 tahun bergerak ke 4,28%.
Perubahan sentimen risiko juga terlihat dari pasar emas. Harga emas dunia turun sekitar 1% menjadi 4.794,10 dolar AS per ons saat minat terhadap aset berisiko kembali menguat.
Kombinasi pergerakan di saham, obligasi, dan emas menunjukkan bahwa investor masih memantau perkembangan geopolitik dan laba emiten secara bersamaan. Sikap hati-hati belum sepenuhnya hilang, tetapi eksposur ke saham mulai bertambah ketika peluang damai dinilai semakin nyata.
Laba perusahaan tetap jadi fokus berikutnya
Setelah reli terbaru ini, perhatian pasar akan bergeser ke rangkaian laporan laba perusahaan yang segera dirilis. Investor ingin melihat apakah konflik geopolitik mulai memberi pengaruh pada belanja konsumen dan arah bisnis perusahaan.
Sejumlah analis masih melihat ruang untuk kenaikan lanjutan hingga akhir tahun 2026, dengan dukungan pertumbuhan laba yang dinilai tetap solid. Selama faktor tersebut bertahan, pasar berpotensi terus membaca kabar dari Timur Tengah dan kinerja emiten sebagai dua penentu utama arah Wall Street.







