Washington Siap Memulai Perundingan Baru, Israel Dan Iran Tetap Menekan Saat Damai Rapuh

Author: Redaksi Android62

Tekanan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda karena jalur diplomasi masih berjalan di atas fondasi yang sangat rapuh. Di saat pembicaraan damai belum pasti berlangsung, Israel, Iran, dan Amerika Serikat sama-sama mempertahankan tekanan dari arah masing-masing.

Di Washington, sinyal soal putaran baru negosiasi damai kembali muncul. Namun media pemerintah Iran menyebut belum ada delegasi Iran yang berangkat ke Islamabad untuk berbicara dengan Amerika Serikat, sehingga kepastian pertemuan itu masih kabur.

Perbedaan informasi dari kedua pihak menegaskan bahwa ruang dialog belum benar-benar terbuka lebar. Harapan untuk memulai pembicaraan ada, tetapi belum terlihat kesiapan yang selaras dari semua pihak untuk duduk bersama dalam waktu dekat.

Israel menjaga tekanan di front Lebanon

Di tengah situasi yang belum stabil, Israel tetap mempertahankan pendekatan keras terhadap Lebanon. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa kampanye negaranya bertumpu pada kekuatan militer dan diplomasi secara bersamaan.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama Israel adalah melucuti Hezbollah dan menghapus ancaman terhadap komunitas di utara Israel. Pernyataan itu menunjukkan bahwa tekanan Israel tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga lewat jalur politik untuk memperkuat posisi tawar.

Front Lebanon pun tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam peta konflik kawasan. Selama target Israel belum berubah, ruang untuk penurunan ketegangan masih terlihat terbatas.

Iran memperketat sikap di dalam negeri

Di sisi lain, Iran juga mengirim sinyal keras melalui langkah internalnya. Otoritas setempat mengumumkan eksekusi seorang pria yang divonis membantu membakar sebuah masjid besar di Teheran dan disebut bekerja sama dengan Israel serta Amerika Serikat selama protes pra-perang.

Badan kehakiman Iran melalui Mizan Online menyebut Amir Ali Mirjafari sebagai bagian dari “elemen bersenjata yang bekerja sama dengan musuh”. Langkah ini memperlihatkan bahwa Teheran tetap memandang isu keamanan dalam negeri sebagai bagian dari konflik yang lebih luas.

Dalam kondisi perang yang sensitif, tindakan semacam ini menambah kesan bahwa Iran tidak sedang melunakkan sikap. Sebaliknya, otoritasnya justru terus menegaskan garis keras terhadap pihak yang dituduh terlibat dengan lawan.

Pasar ikut membaca ketidakpastian

Kondisi geopolitik yang belum pasti juga tercermin di pasar keuangan. Harga minyak turun dan saham naik karena masih ada harapan bahwa perang dapat berakhir dan Selat Hormuz kembali dibuka.

Brent North Sea Crude tercatat turun 0,7 persen menjadi 94,78 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate melemah 1,4 persen ke 88,35 dolar AS per barel sekitar pukul 0715 GMT. Pergerakan itu menunjukkan pasar masih menghitung peluang meredanya ketegangan, meski risiko gangguan pasokan tetap membayangi.

Di jalur laut, situasinya juga belum normal. Lloyd’s List melaporkan lebih dari 20 kapal Iran yang disebut sebagai “shadow vessels” telah melintas melewati blokade AS, padahal dalam kondisi biasa jalur itu dilewati sekitar 120 kapal per hari.

Data tersebut menggambarkan bahwa arus maritim di kawasan belum pulih sepenuhnya. Meski ada kapal yang berhasil melintas, volumenya masih jauh dari keadaan normal dan menunjukkan ketidakpastian yang masih besar.

Washington tetap memakai tekanan dan mediasi

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mencabut blokade pelabuhan Iran sampai Teheran menyetujui perjanjian damai untuk mengakhiri perang. Ia juga menyebut Iran kehilangan “$500 Million Dollars a day” akibat blokade tersebut.

Trump sebelumnya mengatakan perolehan uranium dari Iran akan “long” dan “difficult” setelah serangan AS terhadap situs nuklir Teheran. Ia juga menulis di Truth Social bahwa “Operation Midnight Hammer was a complete and total obliteration of the Nuclear Dust sites in Iran,” lalu menambahkan bahwa upaya menggali kembali material itu akan memakan waktu lama.

Meski tekanan terus dipertahankan, Washington juga masih mengambil peran sebagai penengah. Departemen Luar Negeri AS disebut akan menjadi tuan rumah perundingan baru antara Israel dan Lebanon pada Kamis, dengan seorang pejabat AS mengatakan kepada AFP bahwa Amerika Serikat akan terus memfasilitasi “direct, good-faith discussions” antara kedua pemerintah.

Berita Terbaru