Wayang Kulit Klaten Tak Sekadar Hiburan, Bupati Tegaskan Nilai Budayanya

Author: Redaksi Android62

Pentas wayang kulit di halaman Gedung Sunan Pandanaran atau RSPD Klaten kembali menjadi ruang penting bagi pelestarian budaya lokal. Kegiatan rutin yang digelar setiap malam Selasa Kliwon itu menghadirkan bukan hanya tontonan, tetapi juga pendidikan nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dalam gelaran terbaru, penonton menyaksikan dua penampilan dari generasi berbeda. Ki Sarlair Puspo Pandoyo tampil dengan lakon Banjaran Sumantri, sedangkan dalang cilik Ananda Maulana Langit Romadhona membawakan lakon Dewa Ruci.

Wayang dipandang sebagai warisan adiluhung

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menegaskan bahwa wayang kulit adalah warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang telah diakui dunia. Pesan itu disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahli Bidang Hukum Politik dan Pemerintahan, Sutopo.

Hamenang menyebut wayang sebagai salah satu mahakarya budaya yang sarat nilai luhur. Setiap lakon dan dialog dalam pewayangan, menurutnya, memuat ajaran tentang kehidupan, kejujuran, pengabdian, kesetiaan, dan kebijakan dalam mengambil keputusan.

Ruang pendidikan karakter di tengah pertunjukan

Pentas wayang kulit di Klaten juga diposisikan sebagai media pendidikan karakter. Pemerintah daerah mendorong masyarakat menjadikan nilai-nilai pewayangan sebagai inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai yang ditekankan mencakup kejujuran, kerja keras, penghormatan kepada orang tua, serta kebiasaan mengutamakan musyawarah. Dengan cara itu, pertunjukan tradisi ini tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Dukungan komunitas seni dan warga

Pergelaran tersebut turut dihadiri perwakilan Bupati Klaten, para dalang yang tergabung dalam Guyub Dalang Klaten, serta Persatuan Pedalangan Indonesia atau Pepadi Klaten. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan komunitas seni terhadap keberlanjutan tradisi wayang kulit di daerah itu.

Suparman, salah satu penonton, mengapresiasi Disbudporapar Klaten yang rutin menggelar wayang kulit setiap malam Selasa Kliwon di halaman RSPD Klaten. Menurutnya, kegiatan itu tidak hanya memberi hiburan dan menjaga budaya, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk menjual makanan dan minuman di sekitar lokasi acara.

Di Klaten, wayang kulit terus hidup sebagai ruang budaya yang menyatukan seni, warga, dan ekonomi lokal. Pertunjukan ini memperlihatkan bahwa tradisi masih bisa berjalan beriringan dengan pendidikan nilai dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru