WHO Desak Pembatasan Perjalanan Dihentikan, Distribusi Bantuan Ebola Bisa Terhambat

WHO meminta negara-negara yang masih memberlakukan larangan perjalanan terkait wabah ebola di Republik Demokratik Kongo untuk segera mencabut kebijakan tersebut. Badan kesehatan dunia menilai pembatasan yang terlalu luas justru berisiko memperlambat bantuan yang sangat dibutuhkan di wilayah terdampak.

Bagi WHO, fokus utama penanganan seharusnya bukan penutupan perbatasan secara menyeluruh, melainkan pemeriksaan ketat di titik keberangkatan. Pengawasan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas dinilai lebih tepat untuk menekan penyebaran kasus tanpa memutus arus logistik.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan hal itu dalam konferensi pers di Jenewa. Ia menilai penutupan total perbatasan dapat mengganggu rantai pasok dan membuat respons kesehatan berjalan lebih lambat.

Seruan itu diarahkan kepada negara-negara yang sudah terlanjur menerapkan pembatasan perjalanan. WHO ingin kebijakan tersebut segera disesuaikan agar tenaga kesehatan dan bantuan kemanusiaan tetap bisa bergerak cepat menuju wilayah yang membutuhkan.

Konteksnya semakin mendesak karena WHO telah menetapkan wabah ebola di Kongo dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional sejak 15 Mei. Status itu menunjukkan bahwa situasi dinilai berisiko tinggi dan memerlukan koordinasi global yang serius.

Meski status darurat sudah berlaku, sejumlah negara tetap memilih langkah tambahan. Uganda, misalnya, mengumumkan penutupan perbatasan dengan Kongo pada akhir Mei setelah situasi di negara tetangga itu memburuk.

Kekhawatiran atas penularan juga meluas ke luar Afrika. The New York Times melaporkan Amerika Serikat berencana mengirim warga negaranya yang terinfeksi ebola ke Kenya untuk mendapatkan perawatan medis.

Namun langkah itu langsung menghadapi hambatan. Pada Jumat (29/5/2026), Pengadilan Tinggi Kenya mengeluarkan keputusan sementara yang melarang masuknya pasien terinfeksi virus ebola ke negara itu.

Di tengah rangkaian pembatasan tersebut, WHO tetap menekankan pentingnya respons yang terukur. Pemeriksaan di titik keluar dinilai dapat menahan penyebaran tanpa memperlambat distribusi bantuan yang menjadi penopang utama penanganan wabah di lapangan.

Kewaspadaan tetap tinggi karena tingkat kematian akibat ebola tergolong besar. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan rata-ratanya mencapai 50 persen, sementara dalam beberapa wabah sebelumnya angka itu bahkan pernah menyentuh 90 persen.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait