Film horor psikologis Sofia menempatkan beban besar bukan hanya pada akting, tetapi juga pada ketahanan mental para pemainnya. Sejumlah pemeran mengaku harus menyiapkan diri lebih matang karena cerita yang diangkat berkaitan dengan kekerasan, trauma, dan luka psikologis yang berat.
Di antara nama yang terlibat, Wulan Guritno menjalani latihan fisik tambahan untuk menghadapi rangkaian adegan brutal di film produksi Lasisi Pictures itu. Ia menegaskan persiapan yang dijalani tidak sekadar membaca naskah, melainkan juga workshop dan penguasaan adegan yang menuntut kesiapan tubuh.
Latihan action untuk adegan yang keras
Wulan menjelaskan bahwa latihan yang ia ikuti bersifat action, tetapi bukan dalam arti pertarungan langsung. Latihan itu diperlukan karena film ini memuat banyak adegan brutal yang harus dieksekusi dengan presisi dan kesiapan fisik.
Menurut Wulan, seluruh pemain juga menjalani reading dan workshop secara intens bersama sutradara serta penulis skenario. Setiap bagian naskah dibahas agar para pemain benar-benar memahami karakter dan situasi yang harus mereka hidupkan di layar.
“Setiap hari reading, belajar skenario bareng, lalu mengulas setiap detail bersama penulis dan sutradara. Jadi bukan sekadar membaca naskah, tetapi benar-benar mendalami karakter,” katanya.
Beban emosional sejak membaca skrip
Selain tuntutan fisik, beban emosional juga terasa kuat bagi para pemeran muda. Anantya Kirana, yang memerankan karakter utama Sofia, mengaku harus menyiapkan mental lebih matang karena karakter tersebut memiliki luka psikologis kompleks akibat kekerasan yang dialami.
Anantya bahkan menyebut membaca naskahnya saja sudah melelahkan. Saat membayangkan adegan-adegan yang akan dijalani di lokasi syuting, ia merasa tantangan yang muncul bukan hanya fisik, tetapi juga mental.
“Aku harus nyiapin mental lebih. Baca skripnya aja capek banget, adegan-adegannya juga capek, bukan cuma fisik tapi mental juga,” tutur Anantya.
Carissa Perusset yang memerankan Dahlia juga menghadapi tekanan serupa. Ia sempat mempertanyakan apakah tim produksi menyediakan pendampingan psikologis setelah syuting, karena karakter yang dimainkan dirasa sangat berat secara fisik maupun mental.
“Aku sampai nanya, ‘Ini nanti bakal sedia psikolog atau terapis enggak setelah syuting?’ Soalnya karakter yang dialamin Dahlia lumayan berat, bukan cuma fisik tapi mental juga,” kata Carissa.
Trauma lama ikut terbawa ke proyek baru
Carissa juga tidak menutup kemungkinan sempat mempertimbangkan untuk menolak tawaran bermain di film tersebut. Ia menyebut tema dan konflik dalam Sofia mengingatkannya pada pengalaman emosional dari sejumlah proyek film sebelumnya.
“Kalau boleh jujur, iya. Tapi mungkin ini jadi cara buat memperbaiki trauma dari film-film kemarin,” ujarnya.
Di sisi lain, Adis Kayl Yurahmah menegaskan bahwa Sofia tidak hanya menawarkan adegan intens, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan. Film ini ingin menunjukkan bagaimana kekerasan yang berlangsung terus-menerus dapat perlahan dianggap normal.
“Film Sofia berbicara tentang bagaimana kekerasan itu akan dianggap normal kalau berlangsung terlalu lama. Ini film tentang kemanusiaan,” kata Adis.
Deretan pemain dan gagasan cerita
Lasisi Pictures menghadirkan lintas generasi pemeran untuk menghidupkan cerita tersebut. Selain Anantya Kirana, Carissa Perusset, dan Wulan Guritno, film ini juga dibintangi Nugie, Kiki Narendra, Habil Nugraha, Leony V.H., dan Ayu Diandra.
Produser Ade Abu mengatakan pihaknya merasa terhormat bisa menyatukan nama-nama besar dan talenta muda dalam satu proyek. Ia menilai perpaduan pengalaman aktor senior dan energi pemeran muda akan memberi dimensi artistik yang tinggi pada film Sofia.
Cerita Sofia ditulis oleh Benjamin Bernard Chenier, yang terinspirasi dari pengalamannya terlibat dalam berbagai organisasi sosial. Dari pengalaman itu, ia melihat bagaimana manusia dapat mencari pembenaran atas tindakan yang sebenarnya salah.
Gagasan tersebut kemudian menjadi dasar cerita yang menyoroti sisi kelam kekerasan dan dampaknya terhadap manusia. Dengan pendekatan horor psikologis, Sofia dirancang bukan hanya untuk mencekam penonton, tetapi juga memancing refleksi atas normalisasi kekerasan.
| Pemain | Peran/Keterangan | Tantangan Utama |
|---|---|---|
| Wulan Guritno | Terlibat dalam film Sofia | Latihan action untuk adegan brutal |
| Carissa Perusset | Memerankan Dahlia | Karakter berat secara fisik dan mental |
| Anantya Kirana | Memerankan Sofia | Persiapan mental lebih matang karena beban emosional karakter |







