Xbox Kembali Menonjolkan Konsol dan Menurunkan Harga Game Pass, Dukungan Fans Menguat

Author: Redaksi Android62

Langkah awal Asha Sharma di Xbox langsung menarik perhatian karena membawa sinyal yang berbeda dari arah sebelumnya. Di saat banyak penggemar menilai merek itu mulai kehilangan daya tarik, kebijakan barunya justru membuat nama Xbox kembali ramai dibicarakan dan memunculkan harapan bahwa bisnis game Microsoft itu bisa membaik.

Perubahan yang paling disorot datang dari sikap yang lebih dekat ke basis pemain. Sharma tidak hanya mengoreksi arah komunikasi, tetapi juga menampilkan keputusan bisnis yang memberi kesan bahwa Xbox ingin kembali mendengar keluhan penggunanya.

Fokus kembali ke konsol

Saat ditunjuk memimpin Microsoft Gaming pada Februari, Sharma memberi pesan yang cukup tegas tentang posisi konsol dalam strategi Xbox. Ia menekankan bahwa perusahaan akan kembali “recommit to our core Xbox fans and players” dengan menempatkan konsol generasi berikutnya sebagai pusat perhatian.

Sikap itu penting karena beberapa tahun terakhir identitas Xbox dinilai makin melebar. Cloud gaming, Game Pass, dan kampanye “This is an Xbox” sempat membuat wajah merek tersebut terasa tidak lagi bertumpu pada konsol sebagai inti utamanya.

Sharma kemudian mengambil langkah yang memperjelas arah baru itu. Kampanye tersebut dihentikan, sementara cloud gaming tetap dianggap penting tetapi tidak lagi menjadi penanda utama merek di hadapan publik.

Dalam pengumuman terpisah, Sharma juga mengungkap nama kode konsol generasi baru Xbox, yaitu Project Helix. Ia menyebut, “Project Helix will lead in performance and play your Xbox and PC games.”

Harga Game Pass ikut disesuaikan

Perubahan lain yang langsung menyita perhatian datang dari layanan berlangganan. Sharma menurunkan harga Xbox Game Pass, sebuah langkah yang cukup langka karena layanan seperti ini umumnya justru mengalami kenaikan tarif.

Menurut penjelasan yang dirujuk dalam laporan sumber, Sharma menilai harga Game Pass sudah terlalu mahal bagi banyak pemain. Karena itu, penyesuaian harga dibaca sebagai upaya untuk memperbaiki hubungan Xbox dengan pengguna yang merasa terbebani.

Namun, penurunan harga tersebut tetap membawa konsekuensi. Masa depan Game Pass belum sepenuhnya terang karena harga baru itu juga menghapus akses day one untuk Call of Duty.

Nama Microsoft Gaming kembali ke Xbox

Sorotan lain datang dari urusan identitas perusahaan. Setelah akuisisi Activision Blizzard senilai $69 billion pada 2023, divisi game Microsoft sempat memakai nama Microsoft Gaming, dan perubahan itu memicu reaksi beragam di kalangan penggemar.

Kini, Sharma justru mengarahkan perusahaan kembali ke nama yang paling kuat dikenal publik. Dalam memo internal bersama kepala konten Xbox, Matt Booty, manajemen menyampaikan, “‘Microsoft Gaming’ describes our structure, but it does not describe our ambition. So, we are going back to where we started and changing our team’s name. We are Xbox.”

Pernyataan itu menegaskan bahwa perusahaan ingin tampil lebih jelas di mata pemain. Dalam memo yang sama, Xbox juga menyebut diri sebagai penantang dan menekankan perlunya kecepatan, energi, serta kritik diri yang lebih tegas.

Bersamaan dengan itu, Xbox meluncurkan logo baru berwarna hijau terang. Identitas visual tersebut ikut memperkuat kesan bahwa merek ini sedang membangun ulang citranya setelah sempat terasa kabur di tengah perluasan strategi.

Gaya komunikasi yang lebih terbuka

Yang membuat perubahan Sharma terasa cepat adalah cara ia berkomunikasi. Sebelumnya, Xbox tidak dikenal aktif menanggapi rumor atau berdialog langsung dengan komunitas, tetapi situasi itu mulai berubah.

Saat muncul laporan bahwa Sharma menghentikan rencana toko game mobile Xbox, ia tidak memilih diam. Ia langsung menjawab di X dan menolak anggapan bahwa proyek itu sudah selesai.

Ia menulis, “Three weeks ago, we filed an amicus because mobile competition still matters and we believe the future of play should be more open.” Sharma kemudian menambahkan, “While I am still learning, the idea of an Xbox mobile store is not dead.”

Respons seperti itu dinilai tidak biasa untuk petinggi Xbox. Ia juga terlihat ikut membalas komentar penggemar, termasuk dari mereka yang baru membeli konsol Xbox, dan hal itu memperkuat kesan bahwa perusahaan ingin lebih dekat dengan komunitasnya.

Dukungan penggemar mulai menguat

Perubahan arah bisnis dan komunikasi itu cepat memicu reaksi positif di internet. Penggemar yang sebelumnya meragukan penunjukan Sharma mulai memuji langkah-langkah awalnya, bahkan mengubah namanya menjadi bahan meme dan unggahan apresiasi.

Salah satu pengguna X menulis, “She’s slaying business savvy and customer savvy… Xbox might come back from the gutter it was left in.” Pengguna lain menulis, “We are so back!!! Xbox ki Asha,” sambil merujuk pada arti nama Asha sebagai “harapan” dalam Hindi.

Sumber yang sama juga mencatat bahwa Sharma sempat menghadapi komentar rasis ketika pertama kali ditunjuk. Namun sentimen itu disebut mulai tenggelam seiring meningkatnya dukungan terhadap kebijakan-kebijakan barunya.

Meski begitu, pemulihan Xbox masih berada di tahap awal. Konsol generasi berikutnya disebut belum akan meluncur sebelum 2027, tetapi sejauh ini Sharma sudah berhasil membuat Xbox kembali relevan dalam percakapan penggemar dan industri game.

Source: www.indiatoday.in
Berita Terbaru