Zulaikha akhirnya mengakui kesalahannya di hadapan Firaun Amenhotep IV dan para wanita bangsawan yang pernah terlibat dalam fitnah terhadap Yuzarsif. Pengakuan itu menjadi jalan bagi pemulihan nama Yuzarsif, yang sebelumnya dipenjara meski tidak terbukti bersalah.
Dalam pengakuannya, Zulaikha menyatakan bahwa Yuzarsif tetap menjaga kesucian ketika ia berulang kali mencoba menggoda pemuda tersebut. Ia mengatakan, “Hari ini kebenaran terungkap. Aku mengaku bahwa aku bersalah dan Yuzarsif tidak bersalah.”
Pengakuan yang membalikkan tuduhan
Firaun memanggil Zulaikha, istri Potifar, serta para wanita yang hadir dalam pesta ketika mereka mengiris tangan sendiri saat melihat Yuzarsif. Di hadapan penguasa Mesir, para wanita itu mengakui bahwa Yuzarsif adalah sosok yang sopan, suci, dan menyerupai malaikat.
Potifar turut mengakui kekeliruannya karena memenjarakan Yuzarsif demi meredam fitnah yang berkembang di tengah masyarakat. Pengakuan dari pihak-pihak tersebut memperjelas bahwa tuduhan yang menjerat Yuzarsif tidak dapat dipertahankan.
| Tokoh | Peran dalam persidangan | Pernyataan atau tindakan |
|---|---|---|
| Yuzarsif | Meminta pemulihan nama baik | Menolak bebas sebelum kasus lama dibuka kembali |
| Zulaikha | Pihak yang mengakui kesalahan | Mengakui cintanya dan upaya menggoda Yuzarsif |
| Amenhotep IV | Firaun Mesir | Mendengar pengakuan dan memerintahkan pembebasan |
| Potifar | Suami Zulaikha | Menyesali keputusan memenjarakan Yuzarsif |
Menolak bebas tanpa rehabilitasi
Sebelum pengakuan itu terjadi, Komandan Horemhop dan Inarus datang ke Penjara Zafira untuk menjemput Yuzarsif atas perintah Firaun. Namun, Yuzarsif tidak langsung menerima kebebasan yang ditawarkan kepadanya.
Ia menegaskan bahwa seorang pengkhianat tidak memiliki tempat, baik di luar penjara maupun di lingkungan istana. Karena itu, ia meminta agar kasus tentang para wanita bangsawan diperiksa kembali agar kebenaran dapat dibuka secara utuh.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Yuzarsif tidak sekadar mengejar kebebasan fisik dari Penjara Zafira. Ia menuntut pemulihan martabat setelah bertahun-tahun hidup dengan tuduhan yang membayangi namanya.
Penghormatan dari Firaun
Setelah mendengar pengakuan Zulaikha dan para wanita bangsawan, Amenhotep IV terkesan pada keteguhan Yuzarsif. Firaun memerintahkan agar para wanita yang terlibat ditahan sementara.
Yuzarsif kemudian dijemput menggunakan kereta perang untuk dibawa ke istana sebagai teman dekat Firaun. Ia menolak dibawa dengan tandu karena tidak ingin menjadi beban bagi orang lain.
Dalam perjalanan menuju istana, Yuzarsif menyampaikan pandangannya bahwa mereka yang berdiri di atas punggung seseorang ditakdirkan untuk jatuh. Kalimat itu menegaskan sikapnya yang tetap rendah hati meski memperoleh penghormatan tinggi.
Yuzarsif juga menyatakan bahwa manusia tidak sempurna karena jiwa selalu memiliki potensi menuju keburukan, kecuali bagi mereka yang dirahmati Tuhan. Pandangan itu disampaikannya setelah statusnya berubah dari tahanan menjadi sosok yang dihormati Firaun.
Meninggalkan Penjara Zafira
Kepergian Yuzarsif membuat para tahanan lain bersedih karena selama 10 tahun ia menjadi pembimbing dan penopang moral di dalam penjara. Ia meninggalkan pesan bahwa penjara dapat menjadi tempat pembinaan bagi sahabat serta sarana membersihkan jiwa.
Ia juga mengingatkan para tahanan agar tidak merasa sendirian selama memiliki Allah di sisi mereka. Pesan tersebut menutup masa panjang Yuzarsif di Penjara Zafira sebelum ia memasuki lingkungan istana Mesir.
Di istana, Amenhotep IV menyiapkan pertemuan besar dengan bangsawan dan imam kuil untuk menguji kemampuan Yuzarsif menafsirkan mimpi. Yuzarsif menegaskan bahwa pengetahuannya bukan berasal dari mantra atau alat gaib, melainkan wahyu dari Tuhannya.
Source: mediaindonesia.com






