Sebanyak 1.707 laporan sudah masuk ke dashboard Reviu Menu MBG dan hampir semuanya menilai makanan yang diterima layak dikonsumsi. Dari jumlah itu, 1.705 laporan atau 99,88 persen menyatakan paket Makan Bergizi Gratis dalam kondisi baik, sementara hanya dua laporan yang menyebut sebaliknya.
Data awal itu juga menunjukkan distribusi program berjalan cukup tepat waktu. Sebanyak 1.672 laporan atau 97,95 persen menyebut makanan datang tepat waktu atau lebih awal, sedangkan 35 laporan lainnya mencatat keterlambatan.
Selain kondisi makanan saat diterima, aplikasi ini ikut memantau aroma, tampilan, dan rasa. Sebanyak 1.702 laporan atau 99,71 persen menilai aroma makanan layak, sementara 1.697 laporan atau 99,41 persen menyebut tampilannya sesuai standar.
Pada aspek rasa, 1.688 laporan atau 98,89 persen menilai makanan normal dan dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat. Angka-angka ini memberi gambaran awal bahwa mayoritas paket MBG yang diterima di lapangan memenuhi harapan penerima.
Aplikasi Reviu Menu Makan Bergizi Gratis atau MBG diluncurkan Badan Gizi Nasional untuk membuka ruang penilaian langsung atas kualitas makanan. Guru yang ditunjuk sekolah dan kepala posyandu dapat mengisi laporan segera setelah paket makanan tiba di titik penerimaan.
Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menjelaskan bahwa sistem ini dibuat agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Ia menyampaikan bahwa guru dan kepala posyandu ditempatkan sebagai penanggung jawab kelompok penerima manfaat, sehingga penilaian bisa dilakukan tanpa menunggu evaluasi yang panjang.
BGN menilai model ini membuat pengawasan lapangan berjalan lebih cepat dan lebih dekat dengan kondisi riil. Penilaian yang masuk dari sekolah dan posyandu mencakup ketepatan waktu pengiriman, aroma makanan, rasa, dan variasi menu yang disajikan.
Kehadiran laporan langsung dari penerima manfaat juga dipandang penting sebagai kontrol eksternal. Menurut BGN, pengawasan program tidak cukup hanya mengandalkan kewaspadaan dari pelaksana di lapangan, karena deteksi dini terhadap masalah distribusi atau kualitas makanan perlu datang dari titik penerimaan juga.
Dengan mekanisme tersebut, potensi persoalan di lapangan diharapkan lebih cepat terlihat ketika makanan diterima oleh sekolah dan posyandu. BGN berharap mutu program Makan Bergizi Gratis tetap terjaga di setiap titik distribusi dan kepercayaan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi nasional ikut menguat.
