1 Muharam Dimulai Saat Bulan Hampir Menghilang, Ini Penjelasan Saintifiknya

Author: Redaksi Android62

Awal tahun Hijriah ternyata dimulai dari fase ketika bulan hampir tidak terlihat di langit. Kondisi itu terjadi saat bulan berada di antara Bumi dan matahari, sehingga sisi yang menghadap ke Bumi tidak menerima cahaya matahari.

Dalam astronomi, fase tersebut dikenal sebagai bulan baru dan menjadi titik awal lahirnya hilal muda. Setelah konjungsi atau ijtimak, bulan bergeser sedikit dari garis sejajar dengan matahari dan sebagian kecil permukaannya mulai memantulkan cahaya ke Bumi.

Kenapa 1 Muharam Tidak Terkunci pada Musim

Kalender Hijriah bergerak mengikuti siklus sinodik bulan, bukan peredaran Bumi mengelilingi matahari. Satu siklus sinodik rata-rata berlangsung sekitar 29,53 hari, sehingga bulan Hijriah memiliki umur 29 atau 30 hari.

Karena terdiri dari 12 bulan lunar, satu tahun Hijriah hanya sekitar 354 hari. Selisih sekitar 10 hingga 11 hari dari tahun Masehi membuat tanggal-tanggal Hijriah bergeser lebih awal setiap tahun.

Dampaknya, Muharam tidak selalu hadir pada musim yang sama. Dalam rentang sekitar 33 tahun, seluruh bulan Hijriah akan menyelesaikan satu putaran penuh terhadap musim.

Hilal, Penanda Resmi yang Sulit Diamati

Hilal muda memang menjadi penanda resmi awal bulan Islam, tetapi objek ini sangat sulit dilihat dengan mata manusia. Saat baru terbentuk, bagian bulan yang memantulkan cahaya masih sangat tipis sehingga cahayanya jauh lebih redup dibandingkan sabit beberapa hari kemudian.

Pengamatan juga tidak mudah karena hilal muncul dekat posisi matahari. Cahaya senja, kondisi atmosfer, kelembapan udara, polusi cahaya, dan awan dapat menentukan apakah hilal berhasil terlihat atau tidak.

Itulah sebabnya pengamatan hilal sering melibatkan teleskop canggih, kamera digital sensitif, dan perangkat lunak simulasi langit. Proses ini mempertemukan ilmu optik, astronomi posisi, fisika atmosfer, dan matematika orbital.

Tiga Benda Langit yang Mengatur Awal Muharam

Awal Muharam lahir dari interaksi presisi antara matahari, Bumi, dan bulan. Ketiganya bergerak dalam lintasan masing-masing akibat gravitasi, sementara posisi relatifnya terus berubah dari waktu ke waktu.

Saat konjungsi terjadi, bulan berada hampir segaris dengan matahari jika dilihat dari Bumi. Setelah itu, bulan bergerak dalam orbitnya dengan kecepatan rata-rata lebih dari 3.600 kilometer per jam.

Dalam hitungan jam, perubahan posisi itu cukup untuk membuat sebagian kecil permukaan bulan memantulkan cahaya matahari ke Bumi. Dari sanalah hilal muncul sebagai penanda bulan baru.

Hisab dan Matematika di Balik Penanggalan

Di balik kesederhanaan kalender Hijriah, ada struktur matematika yang rapi. Karena satu bulan sinodik tidak tepat 29 atau 30 hari, sistem kalender menyesuaikannya dengan kombinasi bulan berumur 29 dan 30 hari.

Perhitungan seperti ini sudah dipelajari sejak ribuan tahun lalu. Di dunia Islam, ilmu hisab berkembang pesat untuk menentukan awal bulan, waktu salat, dan arah kiblat.

Para ilmuwan muslim juga menyusun tabel astronomi rinci untuk memprediksi posisi bulan dan matahari jauh sebelum ada komputer modern. Pada titik ini, 1 Muharam bukan hanya penanda waktu, tetapi juga bukti bagaimana manusia membaca keteraturan alam semesta melalui pengamatan yang teliti.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru