12 Polda Disiapkan Jadi Pelatih AI, Sekolah Diminta Waspadai Deepfake dan Kebocoran Data

Polri akan menyiapkan personel dari 12 Kepolisian Daerah sebagai pelatih kecerdasan buatan bagi murid SMA, SMK, dan sederajat. Langkah ini diarahkan untuk membantu sekolah menghadapi risiko deepfake, kejahatan siber, disinformasi, serta pelanggaran privasi.

Para personel tersebut akan mengikuti Training of Trainers atau ToT dalam Program Paham AI sebelum memberikan pembekalan di wilayah tugas masing-masing. Model berjenjang ini membuat materi pencegahan dapat dibawa langsung ke sekolah-sekolah di daerah.

Program tersebut tidak berhenti pada pengenalan cara memakai teknologi AI. Murid juga akan didorong memahami dampak penggunaan AI, batas etis, serta konsekuensi dari konten dan data yang dibuat maupun disebarkan di ruang digital.

Skema Pelatihan Berjenjang

TahapPihak TerlibatSasaran
Training of TrainersPersonel dari 12 PoldaMenjadi pelatih Program Paham AI
Pelatihan lanjutanPelatih kepolisian di daerahMurid SMA, SMK, dan sederajat

Kerja sama untuk pelaksanaan ToT Program Paham AI telah disepakati Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen bersama Polri. Pelatih dari kepolisian nantinya menjadi penghubung penyampaian materi kepada guru dan murid di wilayahnya.

Fokus pembekalan mencakup penguatan Keamanan Digital ketika teknologi semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Ancaman yang dibahas meliputi manipulasi konten melalui deepfake, penyebaran informasi keliru, penyalahgunaan data pribadi, hingga tindak kejahatan di ruang siber.

Bukan Hanya Kemampuan Mengoperasikan Teknologi

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menilai pendidikan perlu tetap relevan dengan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Menurutnya, kecakapan digital tidak cukup dinilai dari kemampuan mengoperasikan perangkat maupun aplikasi.

Tatang menekankan perlunya karakter digital agar murid dapat mengambil keputusan yang bijaksana saat menggunakan AI. Aspek ini dipandang penting untuk mendukung ekosistem digital yang aman di lingkungan pendidikan.

“Peningkatan kompetensi digital tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi saja. Membangun karakter digital agar murid mampu memanfaatkan AI secara bijaksana juga tak kalah penting agar kehadiran AI bisa bermanfaat secara optimal,” kata Tatang dalam keterangan resminya, Rabu (22/7/2026).

Kepala Biro Teknologi dan Komunikasi Polri, Indarto, menyebut ToT Program Paham AI sebagai langkah jangka panjang untuk meningkatkan Literasi AI di kalangan pelajar dan guru. Ia menilai pemanfaatan AI oleh anak muda berkembang lebih cepat dibandingkan pengembangan regulasi.

Kondisi tersebut menjadi alasan pendekatan preventif ditempatkan sebagai bagian penting dalam program. Pembekalan sejak di sekolah diharapkan membantu murid mengenali risiko sebelum teknologi dipakai secara keliru.

Polri Didorong Hadir sebagai Mitra Pendidikan

Selain pencegahan kejahatan digital, program ini juga ditujukan untuk membangun kepercayaan antara Polri dan murid. Kehadiran kepolisian di sekolah diharapkan tidak semata dikaitkan dengan penanganan masalah.

“Ini ruang untuk membangun kepercayaan antara Polri dan murid-murid. Kami harus hadir lebih awal melalui langkah-langkah preventif, menjadi mitra pendidikan sekaligus fasilitator bagi para guru dan murid,” ujar Indarto.

Melalui pelatihan ini, guru dan murid diharapkan memperoleh pendampingan yang lebih dekat mengenai pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Peran pelatih dari 12 Polda menjadi bagian dari upaya membawa pemahaman risiko digital ke lingkungan belajar.

Berita Terkait