Serangan udara Israel kembali menghantam wilayah selatan Libanon dan menewaskan sedikitnya 14 orang. Kementerian Kesehatan Libanon juga mencatat 37 orang terluka dalam insiden itu, termasuk dua perempuan dan dua anak-anak.
Korban yang berjatuhan menunjukkan bahwa situasi di perbatasan Israel-Libanon masih jauh dari tenang. Meski gencatan senjata disebut masih berlaku secara teknis, benturan di lapangan terus muncul lewat tembakan, serangan udara, dan saling tuding soal pelanggaran.
Warga sipil kembali terkena dampak
Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan Libanon memperlihatkan bahwa serangan kali ini tidak hanya menjerat pihak yang disebut sebagai kombatan. Kehadiran perempuan dan anak-anak di antara korban luka dan tewas menegaskan besarnya risiko yang ditanggung warga sipil di wilayah selatan Libanon.
Dalam operasi itu, Israel menyatakan serangannya ditujukan ke lokasi dan anggota Hizbullah yang disebut dipakai untuk menyerang tentaranya. Sebelum serangan dilancarkan, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel atau IDF juga mengeluarkan peringatan evakuasi untuk beberapa desa di selatan Libanon.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa operasi dilakukan dengan alasan keamanan versi Israel. Namun, dampaknya tetap berat di lapangan karena serangan itu menambah jumlah korban jiwa dan memperbesar tekanan terhadap warga yang tinggal di area konflik.
Gencatan senjata yang terus dipersoalkan
Ketegangan di perbatasan tidak mereda meski gencatan senjata masih diklaim berjalan secara teknis sejak 16 April. Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan, sementara artileri dan serangan udara tetap muncul di sejumlah titik.
Kondisi itu membuat jeda senjata tampak rapuh dan mudah goyah kapan saja. Alih-alih menahan eskalasi, kesepakatan malah terus diuji oleh serangan balasan dan klaim saling serang yang belum mereda.
Israel juga melaporkan seorang prajuritnya yang berusia 19 tahun tewas akibat serangan drone Hizbullah. Laporan ini memperlihatkan bahwa ancaman yang dihadapi tidak hanya datang dari serangan udara konvensional, tetapi juga dari penggunaan drone yang meningkatkan risiko bentrok.
Netanyahu minta militer bertindak keras
Sehari sebelum serangan terbaru, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk menggempur target-target Hizbullah secara keras. Serangan pada hari yang sama disebut menewaskan sedikitnya enam orang, sehingga eskalasi masih terlihat berlanjut.
Dalam rapat pemerintah, Netanyahu menuduh Hizbullah telah “menghancurkan gencatan senjata”. Ia juga menegaskan Israel akan terus bertindak dengan kekuatan penuh berdasarkan kesepakatan pertahanan diri dengan Amerika Serikat.
“Sesuai dengan aturan yang kami sepakati dengan Amerika Serikat, dan secara kebetulan, dengan Libanon juga,” kata Netanyahu. Ia menambahkan bahwa Israel tetap memiliki kebebasan untuk merespons serangan, menggagalkan ancaman segera, dan menetralkan ancaman yang baru muncul.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Israel memandang operasi militernya sebagai bagian dari hak pertahanan diri. Namun, bagi Libanon, setiap serangan balasan tetap membawa risiko besar karena dapat memicu putaran kekerasan baru di perbatasan.
Jalur diplomasi tetap berjalan di tengah konflik
Di saat situasi militer memburuk, upaya diplomasi di kawasan tetap bergerak. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali ke Pakistan untuk menyusun kerangka melanjutkan negosiasi damai dengan Washington setelah upaya sebelumnya menemui jalan buntu.
Gedung Putih menyebut Iran ingin berbicara, tetapi Teheran membantah pernah ada jadwal pertemuan langsung dengan pihak Amerika Serikat. Araghchi juga dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada hari Senin.
Pertemuan itu diharapkan membahas langkah de-eskalasi di tengah gencatan senjata yang baru diperpanjang pekan lalu dan terus berada di bawah tekanan. Selama saling serang masih terjadi dan tuduhan pelanggaran terus muncul, wilayah selatan Libanon tetap berada dalam ancaman eskalasi yang sulit diprediksi.
