200 Sekolah Muhammadiyah Ditingkatkan Mutunya, PWM Jawa Tengah Siapkan Lompatan ICP Global

Author: Redaksi Android62

PWM Jawa Tengah menegaskan penguatan International Class Program atau ICP sebagai arah penting untuk sekolah Muhammadiyah agar lebih siap bersaing di level global. Dalam workshop bertema “Elevating ICP Excellence: Global Benchmarking, Digital Transformation, and Pedagogical Mastery” di Aston Solo Hotel, Surakarta, lebih dari 200 peserta hadir untuk membahas langkah konkret pengembangan program tersebut.

Forum ini memperlihatkan bahwa ICP tidak diposisikan sekadar sebagai label kelas internasional. Program ini diarahkan menjadi proses peningkatan mutu yang terukur, konsisten, dan berkelanjutan di sekolah Muhammadiyah.

Target 35 sekolah ICP

Sekretaris Majelis Dikdasmen & PNF PWM Jawa Tengah, Rohmat Suprapto, menyebut pengembangan ICP sebagai program prioritas. Ia menegaskan target strategis PWM Jawa Tengah adalah menghadirkan minimal 35 sekolah ICP yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan.

Rohmat juga menempatkan ICP sebagai pijakan menuju lahirnya International School of Muhammadiyah pada masa depan. Karena itu, pengembangannya didorong berjalan seiring dengan peningkatan sekolah menuju kategori unggul dan premium.

Dalam pandangannya, perubahan yang dibutuhkan tidak boleh berhenti pada pembaruan isi pembelajaran. Sekolah juga perlu memperkuat tata kelola, sumber daya manusia, digitalisasi layanan pendidikan, serta pembentukan karakter siswa.

Tiga pilar pengembangan

PWM Jawa Tengah menempatkan pengembangan sekolah Muhammadiyah dalam tiga pilar utama, yakni keunggulan akademik, keterampilan masa depan, dan keunggulan karakter. Kerangka ini disiapkan agar sekolah mampu beradaptasi dengan tantangan pendidikan global yang terus berkembang.

Dari forum tersebut, terlihat bahwa ICP diarahkan menjadi model peningkatan mutu yang lebih menyeluruh. Pendekatannya tidak hanya menyentuh ruang kelas, tetapi juga sistem pengelolaan sekolah dan kesiapan tenaga pendidik.

Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Alpha Amirrachman, menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan Muhammadiyah harus dipahami sebagai strategi peningkatan mutu yang utuh. Ia mengingatkan agar pendekatan ini tidak dipersempit hanya menjadi istilah “kelas internasional” atau “bilingual”.

Alpha menjelaskan bahwa ICP menggabungkan kurikulum nasional, standar global, dan nilai-nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. Ia menyebut tiga pilar utama ICP, yaitu global benchmarking, digital transformation, dan pedagogical mastery.

Standar global untuk mengukur capaian

Pada bagian global benchmarking, sekolah didorong memakai acuan internasional seperti Global Scale of English atau GSE dan Common European Framework of Reference for Languages atau CEFR. Kedua standar itu dipakai sebagai alat ukur objektif untuk menilai capaian pembelajaran.

Pendekatan tersebut membantu sekolah memetakan kemampuan dengan lebih jelas. Penilaian tidak hanya bergantung pada kesan umum, tetapi juga pada data yang lebih terukur untuk melihat kualitas guru dan lulusan.

Aspek transformasi digital juga mendapat perhatian besar dalam workshop itu. Teknologi diarahkan untuk mendukung pembelajaran, asesmen, dan manajemen sekolah berbasis data agar proses pendidikan berjalan lebih efisien dan tepat sasaran.

Pembelajaran yang berpusat pada siswa

Di sisi pedagogi, peserta diajak memperkuat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Active learning dan deep learning dipandang penting agar siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga memahami konsep secara lebih mendalam.

Untuk guru Bahasa Inggris, Tina Priyantin menyoroti kebutuhan pembelajaran yang mendorong pemahaman konseptual. Ia juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI sebagai alat bantu asesmen modern, termasuk untuk placement test, progress monitoring, dan automated progression.

Bagi guru IPA dan Matematika, Hana Sofiyana menekankan pentingnya perpaduan antara pemahaman konseptual, berpikir kritis, dan teknologi. Ia juga menyoroti asesmen berbasis teknologi sebagai cara untuk mengukur capaian belajar siswa secara lebih akurat dan berkelanjutan.

Pengelolaan sekolah dan tindak lanjut

Pada sesi untuk kepala sekolah, Iin Hermiyanto menekankan pentingnya strategic management dalam pengelolaan ICP. Ia membahas perbedaan ICP dengan kelas berbasis kurikulum internasional dan menyoroti perlunya data-driven school management.

Dalam sesi itu, GSE juga dibahas sebagai salah satu alat untuk mengukur kompetensi guru dan kualitas lulusan secara objektif. Selain itu, peserta juga mendapat perhatian pada strategi branding dan keberlanjutan program agar ICP tidak hanya kuat dalam promosi, tetapi juga kokoh dalam pelaksanaan.

Workshop tersebut ditutup dengan penyusunan action plan dan refleksi bersama. Peserta diminta merumuskan langkah konkret untuk mengembangkan ICP di sekolah masing-masing, mulai dari pemetaan kesiapan hingga penguatan kapasitas guru.

Roadmap pengembangan disusun dalam tiga tahap, yaitu readiness, capacity building, dan scaling. Alur ini dipakai agar pengembangan ICP berjalan bertahap, terukur, dan sesuai kebutuhan sekolah.

Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi Majelis Dikdasmen & PNF PWM Jawa Tengah dengan Pearson, CNL Books, dan Praxis Publishing Singapore. Melalui kerja sama itu, arah pengembangan ICP diperkuat tanpa meninggalkan identitas nilai yang menjadi ciri pendidikan Muhammadiyah.

Source: suaraaisyiyah.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru