Para arkeolog menemukan 24 amulet tipis berbentuk lidah dari emas yang ditempatkan di dalam mulut jenazah pada sebuah kompleks makam kuno di Mesir. Benda itu diduga menjadi bekal ritual agar arwah dapat berbicara ketika menjalani pengadilan di alam baka.
Temuan lidah emas tersebut berasal dari 18 makam di Marina el-Alamein, kawasan pesisir Mediterania sekitar 100 kilometer di sebelah barat Alexandria. Kompleks pemakaman ini diperkirakan telah digunakan sekitar 2.000 tahun lalu.
Bekal untuk Berhadapan dengan Osiris
Dalam kepercayaan Mesir kuno, amulet lidah emas diyakini membantu orang yang meninggal mengucapkan doa dan menjawab pertanyaan di hadapan Osiris. Osiris dikenal sebagai dewa kematian dalam tradisi keagamaan Mesir kuno.
Penggunaan emas memberi arti yang lebih besar daripada sekadar hiasan pemakaman. Masyarakat Mesir pada masa itu menganggap emas sebagai “daging para dewa”, sehingga bahan tersebut memiliki nilai spiritual yang kuat.
Penempatan amulet di mulut jenazah menunjukkan perhatian khusus terhadap kemampuan arwah untuk berkomunikasi setelah kematian. Ritual ini juga memperlihatkan bahwa perjalanan menuju alam baka dipandang sebagai tahap penting yang memerlukan persiapan.
Dua Bentuk Makam dalam Satu Kompleks
Kompleks di Marina el-Alamein memiliki dua pola konstruksi makam yang berbeda. Sebanyak 11 makam dipahat jauh ke dalam batuan, sementara tujuh lainnya dibangun lebih dekat ke permukaan menggunakan batu kapur.
| Jenis Makam | Jumlah | Karakteristik |
|---|---|---|
| Makam pahat batu | 11 | Dipahat hingga kedalaman sekitar delapan meter |
| Makam batu kapur | 7 | Dibangun lebih dekat ke permukaan |
Perbedaan bentuk, kedalaman, dan material makam diperkirakan berkaitan dengan status sosial para penghuni kompleks tersebut. Kawasan kota pelabuhan kuno ini tampaknya dihuni kelompok masyarakat dengan latar sosial yang beragam.
Penggalian juga menghasilkan sebuah peti mati granit besar dengan panjang hampir 2,5 meter. Di dalamnya masih terdapat kerangka manusia yang akan menjadi bahan penelitian lanjutan.
Tradisi Mesir Bertemu Pengaruh Yunani-Romawi
Di lokasi yang sama, arkeolog menemukan altar persembahan batu kapur berbentuk pintu palsu. Dalam pemakaman Mesir kuno, pintu palsu melambangkan jalur bagi arwah untuk keluar dan masuk antara dunia orang hidup serta alam baka.
Artefak lain yang ditemukan meliputi patung dewi Yunani Aphrodite, patung batu kapur seorang pria yang memegang burung, dan patung sphinx dari plester. Selain itu, terdapat amphora, lampu minyak, piring, bejana batu, serta pecahan tembikar.
Kehadiran patung Aphrodite di tengah unsur ritual Mesir memperlihatkan percampuran budaya di kawasan pesisir Mediterania. Pengaruh Yunani dan Romawi hadir berdampingan dengan praktik pemakaman Mesir yang lebih tua.
Makam-makam tersebut berasal dari rentang periode Ptolemaik pada 322-30 SM hingga masa Romawi pada 30 SM-395 M. Rentang itu menjelaskan kemunculan artefak bernuansa Mesir dan Yunani-Romawi dalam satu kawasan pemakaman.
Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyatakan temuan di Marina el-Alamein mencerminkan perpaduan khas tradisi pemakaman Mesir dengan pengaruh Yunani-Romawi. Analisis terhadap kerangka, peti granit, dan artefak lain diharapkan memperjelas kehidupan masyarakat kota pelabuhan kuno tersebut.
