3 Pesan Mojtaba Khamenei setelah Serangan AS, Iran Diminta Hadapi Eskalasi Bersatu

Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase tegang setelah serangan Iran di Yordania menewaskan dua personel militer AS. Di tengah serangan udara balasan Washington, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan tiga pesan yang menekankan ancaman konsekuensi dan kebutuhan akan persatuan nasional.

Serangan udara AS dilaporkan menghantam Sirik, kota pelabuhan Iran di pesisir Selat Hormuz. CENTCOM menyatakan operasi tersebut dirancang untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial serta menjadi respons atas serangan terhadap personel AS di Yordania.

PeristiwaWaktu/LokasiRincian
Serangan Iran ke YordaniaJumat (17/7)Dua personel militer AS tewas saat menghadang rudal balistik dan drone Iran, sementara satu personel dilaporkan hilang.
Serangan udara ASSabtu (18/7)CENTCOM menyebut operasi itu ditujukan untuk menghukum Iran dan mengurangi ancaman terhadap pelayaran komersial.
Sasaran yang dilaporkan terkena seranganSirik, Iran selatanFars dan Tasnim melaporkan kota pelabuhan di pesisir Selat Hormuz itu menjadi sasaran serangan AS.

Melalui akun X pada Sabtu (18/7) waktu setempat, Mojtaba Khamenei menempatkan serangan terbaru sebagai bukti bahwa Washington tidak dapat dipercaya. Pernyataan itu muncul ketika jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik pecah pada 28 Februari disebut telah mencapai 16 orang.

1. Menilai Komitmen Washington Tidak Dapat Dipercaya

Pesan pertama Khamenei diarahkan pada nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menilai pelanggaran berulang terhadap kesepahaman itu memperlihatkan ketidakpastian komitmen dari pihak Washington.

“Pelanggaran yang berulang kali dilakukan oleh Setan Besar (Amerika Serikat) terhadap nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani oleh Presiden Iran dan Presiden Amerika Serikat kembali menyingkap satu kenyataan mendasar: tanda tangan Presiden Amerika Serikat sama sekali tidak bernilai dan tidak memiliki kredibilitas,” ujar Khamenei.

Ia juga menyatakan akan memberi pelajaran yang tidak terlupakan kepada Amerika Serikat, yang disebutnya sebagai “setan”. Nada tersebut menunjukkan sikap konfrontatif Teheran setelah serangan udara terbaru dilakukan Washington.

2. Memperingatkan Dampak Jika Konflik Diteruskan

Pesan kedua ditujukan langsung kepada Amerika Serikat mengenai kemungkinan perang berlanjut. Khamenei menegaskan Washington akan menghadapi konsekuensi apabila memilih meneruskan konflik.

Menurut Al Jazeera yang dikutip CNN Indonesia, Khamenei menggambarkan Poros Perlawanan sebagai kekuatan Iran dalam menghadapi tekanan. Ia menilai paksaan, hegemoni, dan kekejaman merupakan bagian dari doktrin serta cara pandang Amerika Serikat.

“Hari ini, Setan Besar kembali memperlihatkan wajah aslinya tanpa topeng,” kata Khamenei. Ia menyebut konflik tersebut sebagai bukti ketidakjujuran, ketidakrasionalan, ketidakdapatdipercayaan, dan watak jahat Amerika Serikat.

3. Menyerukan Persatuan Nasional Iran

Pesan ketiga ditujukan kepada masyarakat Iran agar menjaga persatuan saat ancaman dari luar meningkat. Khamenei menilai seluruh lapisan masyarakat dan pemerintahan perlu menyatukan sikap untuk mempertahankan martabat serta kemerdekaan Iran.

Seruan itu berkaitan dengan fenomena rally around the flag, yaitu menguatnya dukungan publik kepada negara ketika menghadapi tekanan eksternal. Khamenei juga menyinggung keberanian para pejuang Islam dan rakyat di wilayah selatan sebagai bagian dari respons Iran dalam beberapa hari terakhir.

“Kini, ketika musuh Amerika berupaya meningkatkan eskalasi konflik sehingga menimbulkan kerugian yang lebih besar dan penghinaan yang lebih dalam, mereka harus mengetahui bahwa bangsa Iran yang mulia dan Front Perlawanan telah menyiapkan pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan,” ucapnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa respons Teheran tidak hanya diarahkan kepada Washington, tetapi juga kepada publik di dalam negeri. Persatuan nasional ditempatkan Khamenei sebagai unsur utama ketika ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus meningkat.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait