4 Tokoh Mitologi Indonesia yang Paling Masuk Akal Muncul di God Of War Laufey

Konsep Everywhen sebagai alam kematian dalam God of War Laufey membuka peluang yang sangat luas bagi tokoh mitologi dari berbagai budaya. Dalam ruang cerita itu, para dewa dari berbagai mitologi berkumpul setelah mati, sehingga kehadiran tokoh mitologi Indonesia terasa masuk akal untuk ikut dipertimbangkan.

Trailer perdana bahkan sudah memperlihatkan Sekhmet dari mitologi Mesir dan Begtse dari mitologi Mongolia. Dengan landasan itu, sorotan kini mengarah pada empat tokoh dari Nusantara yang paling mungkin tampil, baik sebagai sekutu maupun lawan.

Garuda paling kuat jika ditempatkan sebagai lawan udara

Garuda punya posisi penting dalam sejarah Indonesia karena dijadikan lambang negara. Sosok ini berasal dari ajaran Hinduisme dan dikenal sebagai Khageswara, atau raja para burung.

Dalam mitologi, Garuda digambarkan sebagai tunggangan sekaligus abdi setia Dewa Wisnu, dengan kepala dan cakar elang serta tubuh manusia. Ciri itu membuatnya sangat cocok diadaptasi menjadi karakter yang mengandalkan pertarungan udara.

Selain itu, Garuda memiliki kekuatan fisik yang besar dan mampu menciptakan badai. Jika dibawa ke gaya bertarung khas God of War, ia berpotensi menjadi bos yang merepotkan bagi Faye.

Nyi Roro Kidul paling mungkin tampil sebagai sekutu

Nyi Roro Kidul adalah tokoh asli Nusantara yang tidak diadaptasi dari kisah Mahabharata maupun Ramayana. Ia dikenal sebagai penguasa Pantai Selatan dan digambarkan memiliki pasukan gaib yang kuat.

Dalam kisah asalnya, tokoh ini adalah Kadita, putri Kerajaan Pajajaran yang dikutuk sakit kulit oleh ibu tirinya. Setelah mendapat wangsit untuk menceburkan diri ke Laut Selatan, ia kemudian diangkat menjadi penguasa wilayah tersebut.

Karena sifatnya yang cinta damai, Nyi Roro Kidul lebih masuk sebagai sekutu. Jika Everywhen memang memiliki lautan luas, kehadirannya bisa memberi perlindungan besar bagi Faye saat menghadapi ancaman dari tokoh lain seperti Sekhmet dan Begtse.

Barong cocok menjadi pelindung dalam konflik Everywhen

Dalam mitologi Bali, Barong dikenal sebagai simbol kebaikan dan pelindung. Ia juga dipercaya sebagai raja dari semua roh baik, dengan wujud yang sering digambarkan sebagai perpaduan singa dan babi hutan.

Karakter ini memiliki peluang besar untuk muncul sebagai rekan kepercayaan. Trailer memperlihatkan pasukan Begtse memburu makhluk mitologi seperti Kitsune, dan skenario serupa bisa saja menempatkan Barong dalam posisi terancam sebelum akhirnya diselamatkan.

Bila itu terjadi, Barong bisa berperan sebagai tunggangan sekaligus pelindung Faye. Desainnya juga dapat disesuaikan dengan nuansa gritty khas God of War tanpa menghilangkan identitasnya sebagai simbol penjaga kedamaian.

Rangda memberi lapisan gelap yang seimbang

Jika Barong hadir, Rangda hampir pasti ikut diperhitungkan. Keduanya memang kerap dipandang saling melengkapi, karena Barong mewakili darma atau kebaikan, sedangkan Rangda mewakili adarma atau kejahatan.

Rangda digambarkan sebagai penyihir menyeramkan dengan kekuatan sihir hitam yang nyaris tiada tandingan. Ia juga sudah sering muncul bersama Barong dalam waralaba Shin Megami Tensei dan Persona, sehingga penggemar gim akrab dengan aura mistisnya.

Dalam konteks God of War Laufey, Rangda lebih cocok diposisikan sebagai antagonis. Penampilannya yang menyeramkan dan kemampuannya memanipulasi roh jahat memberi potensi besar untuk menjadi lawan yang sulit dikalahkan.

Kekuatan itu bahkan bisa berhadapan langsung dengan Golden Hand of the Jötnar milik Faye, yang disebut mampu memisahkan jiwa musuh dari tubuhnya. Pertemuan dua kekuatan itu membuka peluang pertarungan yang brutal sekaligus sarat unsur spiritual.

Konsep Everywhen pada dasarnya memberi jalan bagi representasi budaya dari berbagai penjuru dunia. Jika mitologi Mesir dan Mongolia sudah lebih dulu mendapat tempat, tokoh-tokoh dari Indonesia tinggal menunggu waktu untuk ikut masuk ke medan cerita yang lebih luas.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait